Tidak seperti Indonesia yang
merdeka secara proklamasi dengan keringat dan darah para pejuang, kemerdekaan
Malaysia, tahun 1957, didapat secara cuma-cuma (baca: hadiah) dari Inggris.
Sedangkan kemerdekaan Singapura diperoleh setelah pulau itu “dibuang” oleh
Malaysia tahun 1965. Bahkan Thailand belum pernah dijajah bangsa mana pun.
Menjadi masuk akal apabila pada waktu yang lalu mantan panglima TNI Jenderal
(Purn) Gatot Nurmantyo berujar bahwa setiap anak-anak Indonesia yang lahir
memiliki gen ksatria yang siap bertarung, bertempur, berani melawan.
Kelakar
lainnya, konon tentara negara tetangga bisa terbirit-birit seandainya harus berperang
dengan pasukan TNI, mendengar namanya saja sudah jiper (beberapa pasukan khusus: Kopassus, Kopaska Denjaka, Paskhas,
dll.) dengan segudang CV mulai dari tinggal di hutan berhari-hari tanpa makan
dan minum, berenang melewati Selat Sunda, sampai dengan menghadapi berbagai ancaman
keamanan seperti melumpuhkan teroris ataupun yang terakhir menghabisi perompak
Somalia di wilayah perairan Afrika. Belum lagi Kepolisian RI khususnya Densus
88, yang mampu menangkap seluruh teroris, serta mengungkap seluruh jaringan
sampai ke akarnya.
Tidak hanya itu, TNI dan Polri juga aktif mengirimkan
pasukan keamanan PBB untuk misi perdamaian di berbagai belahan dunia. Pertanda
begitu diakui dan diseganinya aparat keamanan kita di kancah internasional.
Jadi, apakah kita masih menyepelekan aparat keamanan
kita?
No comments:
Post a Comment