Wednesday, April 9, 2014

Internazionale Milano 2009-2010

           Semua Internisti pasti ingat tahun keemasan Inter Milan, yaitu 2009 – 2010, di mana Inter merebut trebble winners dari kompetisi Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions Eropa. Yang terakhir tentunya terasa sangat spesial karena terakhir Inter merasakan gelar tersebut tahun 1969! Saat itu Inter diarsiteki oleh pelatih legendaris yaitu Helenio Herrera.
            Tidak lain adalah Jose Mourinho, yang biasa akrab dipanggil Mou, adalah aktor utama dibalik pencapain tersebut. Mou sukses memberikan ketiga gelar tersebut di musim keduanya sebagai pelatih! Bandingkan saja dengan Sir Alex Ferguson yang melatih Manchester United sejak tahun 1986, dan baru meraih trebble winners di musim 1998 – 1999. Tentu sukses The Special One tidak lepas dari kejelian, taktik, pemilihan pemain, serta dukungan dari presiden klub dan pendukung setia Nerazurri.
Pada tahun 2008, selepas era Roberto Mancini, Presiden Inter Milan, Massimo Moratti menunjuk Jose Mourinho, yang sejak tahun 2005 berada di Chelsea, untuk menangani skuad La Beneamata. Gayung pun bersambut, Mou tertarik dengan tawaran Moratti, yang memang sudah haus gelar khsususnya di kancah Eropa. Sebagai Catatan, Roberto Mancini melatih Inter Milan sejak 2004 – 2008 dengan mempersembahkan 7 gelar! Itu merupakan hal yang sangat baik bagi karir seorang pelatih. Tujuh gelar tersebut diantaranya, 3 gelar Serie A, 2 gelar Coppa Italia, dan 2 gelar Italia Super Cup. Namun semua gelar tersebut tidak menyelamatkan Mancini dari pemecatan sang presiden.
Di tahun pertama kepelatihannya, Mou tidak banyak merombak skuad Inter yang memang sudah padu, dengan mengandalkan Julio Caesar, Maicon, dan Ibrahimovic. Ketiga bintang tersebut merupakan aset – aset paling berharga Inter saat itu dan selalu digadang-gadang akan pindah ke klub lain jika Inter tidak bisa meraih gelar Liga Champions Eropa. Di musim 2008 – 2009 tidak sulit bagi Inter untuk mempertahankan gelar scudetto, yang memang sudah tradisi sejak era Roberto Mancini. Seperti diketahui, dua pesaing terkuat Inter seperti Juventus dan AC Milan sedang mengembalikan tim mereka ke jalur juara karena sebelumnya terkena skandal calciopoli atau pengaturan skor yang merusak sepak bola Italia.
Namun kesuksesan di liga domestik tidak berbanding lurus dengan kesuksesan di Liga Champions Eropa. Inter lagi – lagi gagal di ajang tersebut, dan kegagalan Inter bukanlah di fase grup, melainkan di fase 16 besar ataupun perempat final. Prestasi terbaik Inter di Liga Champions Eropa sebelumnya adalah Semifinalis tahun 2004. Saat itu Hector Cuper adalah arsitek tim. Namun selepas itu, Inter tidak pernah lagi berbicara banyak di ajang paling bergengsi di benua biru.
Pada Liga Champions musim 2008 - 2009, Inter kandas di tangan Manchester United di babak 16 besar. Di partai  Home dan Away tersebut, saya masih ingat bahwa dua kelemahan utama Inter Milan adalah tidak adanya bek tengah yang tangguh, tidak adanya pemain kreatif yang mampu mengatur alur permainan, sehingga permainan Inter terlihat begitu monoton karena semua bola dialirkan ke Zlatan Ibrahimovic dan sesekali Maicon. Hasilnya tentu saja dapat mudah dipatahkan oleh pemain – pemain Manchester United.
Dengan kejelian Mourinho, pelatih yang membawa Porto menjadi juara Liga Champions Eropa tahun 2004 serta membawa Chelsea dua musim berturut-turut menjadi semifinalis, dia sangat mengetahui kekurangan Inter Milan dan perbaikan yang harus dilakukan musim selanjutnya. Hal itu terbukti dengan didatangkannya beberapa pemain bintang seperti, Lucio, Walter Samuel, Christian Chivu, Wesley Sneijder, Samuel Eto’o, dan Diego Milito di musim 2009 - 2010. Kalau kita perhatikan pemain – Pemain tersebut adalah skuad inti saat Inter merebut gelar juara LC.
Khusus Samuel Eto’o, ia dibarter dengan Zlatan Ibrahimovic. Zlatan begitu menginginkan gelar LC Eropa sehingga ia pindah ke Barcelona, klub yang musim sebelumnya meraih gelar tersebut dan merupakan langganan juara di pentas LC sejak era Ronaldinho dan Lionel Messi, yaitu dua pemain terbaik dunia di zamannya masing - masing. Ironisnya, setelah Zlatan pergi, Inter juara LC yang di semifinal mengalahkan Zlatan dan Barcelonanya.
Hadirnya Walter Samuel dan Lucio di sentral pertahanan membuat Julio Caesar menikmati ketenangan dibandingkan sebelumnya. Sedangkan Maicon tetap tidak tergantian di posisi full back kanan, dan di posisi bek kiri Sang Kapten, Javier Zanetti dan Chivu bergantian mengisi. Gelandang bertahan Inter pun tidak kalah lengkap, Esteban Cambiasso, Thiago Motta, dan Dejan Stankovic kerap mengisi posisi sentral di lini tengah dan mereka tidak perlu kebingungan dalam mengkreasikan serangan karena mereka “cukup” memberikan bola kepada trequarista handal, yaitu Wesley Sneijder. Wesley kerap menjadi penyelamat Inter juga dengan gol-golnya dari tendangan bebas dan tendangan langsung jarak jauh. Peran Sneijder begitu sentral, sampai-sampai banyak wartawan dan pelatih menilai Sneijder pantas menjadi pemain terbaik dunia 2009 dibandingkan Lionel Messei, karena selain membawa Inter juara LC, dia juga membawa Belanda mencapai partai final Piala Dunia 2010. Di depan Inter mengandalkan kecepatan Samuel Eto’o dan penyelesaian akhir dari Diego Milito, serta Pandev yang baru dibeli tengah musim dari Lazio. Terbukti, sejak babak knock out 16 besar semua lawan dapat diatasi, Chelsea, CSKA Moskow, Barcelona, dan Bayern Muenchen merasakan dahsyatnya skuad racikan Mou.
Dari berbagai partai yang dilalui Inter, dua partai yang menjadi sorotan saya adalah saat melawan Chelsea di 16 besar dan Barcelona di semifinal. Saat melawan Chelsea dengan Carlo Anceloti sebagai pelatihnya, saat itu banyak orang menjagokan Chelsea. Selain karena skuad Chelsea yang sudah kompak, pelatih Carlo Anceloti yang sudah 8 musim di AC Milan tentunya sangat mengenal Inter Milan. Namun kenyataan berkata lain. Sedangkan saat melawan Barcelona Giuseppe Meazza, tanpa diduga-duga Inter menghempaskan Barca dengan skor 3-1. Sedangkan saat bertanding di Nou Camp, banyak orang mengatakan Barca akan membalik keadaan. Namun Inter hanya kalah 1-0 dan lolos ke final meskipun bermain dengan 10 orang sejak menit-menit awal karena Thiago Motta di kartu merah akibat “akting” dari Sergio Busquets. Itu adalah salah satu partai terbaik Inter di musim tersebut.
Sekian.

No comments:

Post a Comment