Setelah 7 hari di Jepang, telah mengkonfirmasi kepada diri saya sendiri bahwa para gadis Jepang memang relatif banyak yang cantik, pandai merias diri, serta modis, dibandingkan 10 negara lain (Asia dan Eropa) yang pernah saya kunjungi.
Hal ini pun sempat saya bahas dengan teman kuliah dahulu - sebut saja WY - yang saat ini bermukim di Jepang untuk belajar Bahasa Jepang. WY sudah menetap di Osaka sejak Mei 2017. Saya dan NK, bertemu WY untuk menghabiskan 1 hari di Kyoto (sebenarnya ini di luar rencana awal), karena kami baru mengetahui kemarin bahwa WY tinggal di Jepang. Jadilah kami bereuni sesama almamater Universitas Bina Nusantara.
Kami membahas sekali banyak hal sepanjang hari termasuk bagaimana WY bisa belajar Bahasa Jepang di Osaka, budaya Jepang, perempuan Jepang, dan tentunya negara tercinta Indonesia.
Topik-topi tersebut di atas tidak akan saya ulas dalam tulisan ini, terkecuali mengenai perempuan Jepang. Menurut WY, mayoritas perempuan di Jepang mempunyai sifat alamiah yang rendah hati, tidak suka menonjolkan diri, pandai menampilkan citra lugu, bahkan ekstrimnya “pura-pura bodoh”, semata-mata hanya untuk menghargai laki-laki. Padahal sebenarnya perempuan tersebut tahu banyak hal karena di Jepang, laki-laki masih dianggap harus mempunyai peranan yang lebih tinggi sebagai pengayom, pelindung, cerdas, tahu banyak hal, dll. Jadi perempuan mengambil peran untuk “merendah”. Tapi bukan untuk direndahkan tentunya, hanya untuk “membesarkan” (menghargai) ego alamiah laki-laki. Tentunya hal ini hanya berlaku pada hubungan pribadi antara laki-laki dan perempuan, bukan hubungan profesional. Jadi, secara linear dapat disimpulkan laki-laki akan mudah menaruh hati pada sifat perempuan yang seperti ini.
Di sisi lain, perempuan di 2 kota metropolitan terbesar - Tokyo & Osaka - selain mempunyai sifat yang saya lukiskan di atas, banyak perempuan juga terkenal matrealistis. Hal sangat kontradiktif dengan sifat-sifat keluguan. Inilah potret perempuan Jepang yang digambarkan WY.
Geisha
Saya berkesempatan mengitari Gion di malam hari, setelah dari pagi mengunjungi banyak kuil di Kyoto. Gion bagaikan kota tak tak pernah mati, dengan segala lampu-lampu kota, pertokoan, tempat makan, hingga hiburan malam.
Sampai pada satu titik perjalanan, saya melihat sebuah patung besar geisha. Langsung saya berselancar di internet, dan benar saja memang geisha berasal dari Gion, tepatnya Gion Corner. Pertunjukan geisha pun ada, tetapi harga tiketnya sangat mahal (bagi saya) yaitu sekitar 12.000 Yen (1 Yen = IDR 122).
Saya dan NK pun kompak tidak menonton pertujukan geisha karena mahalnya harga tiket dan juga kami cukup lelah pada hari tersebut, sehingga kami hanya berkeliling Gion. Namun sebenarnya besar keinginan saya pribadi untuk melihat geisha secara langsung. Nampaknya Tuhan mendengar dan mengabulkan keinginan saya. Pada salah satu perempatan besar di jalan raya, kami melihat geisha di dalam taksi yang sedang berhenti karena terkena lampu merah. Bukan itu saja, pada saat kami menyeberang jalan tersebut, kami pun berpapasan langsung dengan geisha, yang dikawal okeh laki-laki berjas gelap.
Di Jepang, geisha dikenal sebagai perempuan yang memiliki kemampuan menari tradisional dan menyanyi lantunan lagu Jepang lengkap dengan dandanan tradisional Jepang. Tugas utamanya adalah menghibur (dalam arti positif) turis. Namun banyak orang yang berkonotasi negatif apabila mendengar kata geisha, mungkin juga karena menonton film Memoirs of a Geisha.
No comments:
Post a Comment