Mempunyai dua adik perempuan,
otomatis mempertegas kodrat ilahi bahwa aku harus mengambil peran sebagai
pelindung kedua adikku. Ditambah lagi statusku sebagai anak laki-laki sulung dalam
keluarga.
Helen adik pertama, memiliki
keuletan belajar yang lebih dari antara kami bertiga. Aku masih mengingat
betul, pada masa kuliahnya bagaimana ia belajar dan mempersiapkan diri dalam
setiap ujian yang akan ia hadapi. Buku-buku pelajarannya sangat tebal, dan ia
selalu membawa beberapa koper (berisi buku pelajaran) sekaligus untuk
menghadapi ujian. Ia telah lulus untuk mendapatkan gelar sarjana farmasi dan
juga gelar profesi apoteker. Tidak sekadar lulus, nilai kelulusannya sangat memuaskan
karena ia lulus dengan status cum laude.
Saat ini ia memiliki karir yang baik di salah satu perusahaan farmasi terbesar di
Indonesia. Di sisi lain, sesekali ia juga gemar bermain piano meskipun tidak
mencapai tahap mahir.
Lain halnya dengan Helen, Helsa
memiliki kemampuan dan sifat yang unik. Helsa memiliki IQ yang lebih tinggi
dari aku dan Helen, kecerdasannya sudah dibuktikannya sejak ia masih dini yaitu
puncaknya ditandai dengan dinobatkannya Helsa menjadi juara umum SD se-Penabur di Jakarta.
Buatku, prestasi tersebut tidak bisa dianggap remeh temeh. Di rumah kami, berjejer
piala-piala yang pernah ia raih di berbagai bidang dari mulai pendidikan, seni,
olahraga, dan lain-lain. Namun memasuki jenjang SMP prestasi akademisnya tidak
segemilang saat SD. Ia justru lebih berfokus pada sisi sosial dengan aktif di
OSIS dan menjadi Ketua OSIS, serta tim inti basket SMP, begitu juga saat SMA – menjadi Ketua OSIS dan tim inti
basket SMA. Piala tetap singgah di rumah, namun semuanya berasal dari prestasi
olahraga. Saat ini, Helsa adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri top di
Bandung dengan jurusan komunikasi, yang dicapainya berkat statusnya sebagai aktivis OSIS dan juga prestasi basket.
Ringkasnya, Helen tipikal pembaca
buku, pembelajar ulet, kaku, dan juga pengagum berat Doraemon, Helsa tipikal
yang senang bersosialisasi, kurang disiplin, selalu ketinggalan barang, namun
mempunyai minat dalam berbagai olahraga.
Aku sendiri merasa, ada beberapa
kesamaan diriku dalam kedua adikku. Aku pembaca buku (meskipun tidak banyak-banyak amat buku yang kubaca),
cukup disiplin, senang berbagai macam olahraga, dan kadang suka bersosialisasi. Namun kalau
diadu akademis dan persoalan belajar, Helen pasti mengalahkanku. Sedangkan
kalau diadu kecerdasan (IQ) dan banyak-banyakan teman, jelas bahwa aku juga
akan kalah oleh Helsa. Sesekali, aku merasa inferior terhadap kenyataan ini. Namun
satu yang bisa kulakukan untuk menutupi kekuranganku dibandingkan kedua adikku,
yaitu soal persiapan. Aku selalu mempersiapkan berbagai hal yang akan kulakukan,
apapun itu, sebagai bentuk kompensasi
karena aku tidak seulet Helen dan secerdas Helsa, maka aku harus membuat
persiapan yang lebih baik dengan berharap hasilnya akan baik pula. Terkait
dengan persiapanku, aku akan menuliskannya pada tulisan lain.
Beberapa bulan lalu, suatu kali sepulang
ibadah minggu, kami sekeluarga makan siang bersama di suatu mall di Jakarta.
Setelah makan siang usai, aku, Helen, dan Helsa memilih untuk tidak langsung
pulang karena kami hendak jalan bersama di mall itu. Sedangkan papi mami
memilih pulang terlebih dahulu karena ada acara lain. Kami bertiga keliling
mall melihat-lihat sekujur mall, dan spontan pilihan kami jatuh pada Timezone.
Setelah mengisi voucher, kami mulai
memilih permainan yang menjadi kompetisi diantara kami bertiga. Masih lekat dalam ingatanku, aku cukup bersemangat terhadap kompetisi ini. Namun tidak sampai memacu
adrenalin selayaknya aku menikmati permainan futsal. Berbagai permainan kami
pertandingkan bertiga, mulai dari ketangkasan memencet tombol dan layar, olahraga basket,
tembak menembak, balapan mobil, motor, dan lain-lain. Total, belasan permainan
kami habiskan. Di tengah kesibukan kami masing-masing, menghabiskan kebersamaan
yang kurang lebih hanya dua jam, tentunya waktu tersebut sangat berharga dan seru sekali
bagiku.
Namun keberhargaan dan keseruan
itu juga diikuti dengan perasaan kesal dalam hatiku, karena aku tidak memenangkan
satu permainan pun dari belasan pertandingan!
Ya, kalau tidak juara dua, juara tiga. Ternyata, asumsiku bahwa aku harus
melindungi kedua adikku tidak selalu sepenuhnya tepat, karena ternyata mereka telah tumbuh menjadi adik-adik perkasa.
No comments:
Post a Comment