Saturday, March 10, 2018

Harta Benda Bisa Dicari

Siang itu aku sedang tidak ada kuliah. Aku yang sedang santai di rumah mendapatkan SMS dari Helsa yang minta dijemput di stasiun kereta Kranji. Bergegaslah aku menuju stasiun dengan sepeda motor. Helsa, yang ingin pulang lebih awal ke rumah memilih naik kereta sendiri dari daerah sekolahnya di Penabur Gunung Sahari Jakarta, daripada harus menunggu Helen yang harus mengikuti bimbel sekolah. Padahal apabila pulang bersama-sama Helen, Helsa tinggal duduk manis di mobil yang dikendarai supir. Memang tidak memungkinkan supir bolak-balik Jakarta-Bekasi untuk memenuhi semua keinginan karena keterbatasan waktu akibat kemacetan ibukota. Singkat cerita, aku menjemput adik kecilku itu yang waktu itu masih duduk di bangku kelas 6 SD. Perjalanan rumahku ke stasiun tidaklah jauh, mungkin hanya sekitar 10 menit bolak-balik bila melalui jalan tikus. Setelah Helsa duduk di kursi belakang motor, kami langsung berangkat ke arah rumah. Dari kejauhan aku sudah mengamati terdapat asap hitam membumbung lurus dari bawah ke atas, tanpa berpikiran macam-macam aku terus fokus mengendarai motor. Namun semakin dekat arah kami ke rumah, asap tersebut juga makin dekat dengan kami. Benar saja, rumah tetangga sebelahkulah sumber asap itu.

Sontak, turun dari motor, aku meneriaki tetanggaku tersebut. Celakanya asisten rumah tangganya baru tersadar ketika aku memberitahu bahwa bagian ujung rumah yang menjadi arena berdoa tetanggaku sedang disatroni api dengan cepatnya. Setelah memasukkan motor dan meminta Helsa masuk ke dalam rumah, aku mengisi air keran ke dalam ember sambil menelpon papi. Suaraku agak bergetar karena aku cukup panik, "Pap, rumahnya Tante Dewi kebakaran!". Sedangkan papi cukup tenang dan bilang, "Nanti Papi telepon pemadam kebakaran, kamu bawa aja semua dokumen yang ada di lemari kamar papi." Aku mengiyakan perintah papi, dan kembali bertanya, "Itu aja Pap yang dibawa?" dan kembali dijawab, "iya itu aja." Tak terasa ember sudah penuh dengan air, aku pun mengakhiri pembicaraan itu, dan bergegas menyiramkan air ke rumah tetanggaku. Namun setelah lari beberapa langkah, aku menyaksikan bahwa api yang tadinya hanya setinggi betisku, kini sudah menyamai tinggi badanku. Dengkulku lemas seketika menghadapi api yang cepat meninggi ini. Belum lagi hawa panasnya yang menyengat kulit dan mataku saat kudekati, ember berisi air yang kuisi tidak ada apa-apanya melawan api semacam ini. Aku tinggalkan ember berisi air itu, tanpa pernah menyiramkannya. Aku berlari kembali dalam ke rumah, mengangkut semua dokumen-dokumen di lemari kamar kedua orang tuaku. Helsa panik dan hampir menangis, sementara Pocky terus menggonggong tanpa henti. Di luar sudah terdengar kesibukan para tetangga sekitar yang berkemas dan warga lain yang hendak menolong. Begitu mencengkeramnya suasana siang itu.

Semua dokumen selesai kumasukkan ke dalam 2 tas besar, satu kupanggul di bahu kanan, dan satu di bahu lainnya. Selain dompet dan handphone, aku membawa laptop dan beberapa dokumen yang  terkait perkuliahanku, semua benda tersebut kupanggul dengan tas punggung. Lengkap sudah semua harta benda yang kubawa. Tangan kananku menggenggam lengan Helsa, tangan kiriku menggendong Pocky. Kami keluar rumah dengan langkah mantap.

Di luar kondisi sudah sangat ramai, hampir semua orang tidak kukenal atau memang aku sudah tidak fokus mengenali orang, aku tak tahu. Tiba-tiba seorang teman gereja menghampiriku lebih dulu, "Ted.." panggilnya, aku menoleh dan langsung berkata kepadanya, "Gun, gue titip Helsa sama 2 tas ini ya.." Anggun mengangguk, menerima 2 tas besar dan super berat terus menggandeng Helsa. Perlahan mereka menghilang di kerumunan orang. Sedangkan aku masih berada di depan rumah, sambil mengamati dan was-was apakah api akan mampir ke rumahku juga. Pada saat itu, angin bertiup cukup kencang, sehingga api berbelok ke kanan dan kiri secara liar. Aku sendiri sudah siap mental dan pasrah apabila api juga melahap rumahku. Dalam lamunan itu, seorang teman kuliah yang tinggal tidak jauh dari rumahku juga menghampiriku, "Ted.." sapanya singkat, "Eh Re, gue boleh nitip laptop dan tas gue?" Regina mengangguk sambil menerima tas punggungku. Tak lama berselang, seorang teman lain kutahu juga memelihara anjing menghampiriku, jadi aku menitipkan Pocky padanya. Aku pun masih serius mengamati rumah tetanggaku dan tentunya rumahku. Di tengah waktu tersebut, beberapa orang yang mengenalku bertanya kepadaku, "kok kamu gak ngeluarin barang-barang?" Pertanyaan yang masuk akal, karena tetangga lainnya bahkan yang berbeda dua rumah, tiga rumah, bahkan seberang jalan, super sibuk mengungsikan berbagai macam harta benda mereka. Sedangkan rumahku yang jelas-jelas persis di sebelah rumah yang tebakar nampak adem ayem. Pertanyaan tersebut tidak hanya ditanyakan satu-dua orang, tetapi menjadi pertanyaan favorit kepadaku saat itu. Aku pun selalu menjawab sama, "Iya gak apa-apa, biarin aja..." Sebenarnya bukannya aku takut, atau tidak mau berusaha. Tapi aku hanya sendirian, tidak ada mobil di rumah, dan tidak ada yang membantu jika aku harus mengungsikan barang-barang, dan aku juga tidak tahu harus mengungsi kemana saat itu, di tengah lautan manusia yang menonton dan sebagian kecil menolong.

Akhirnya pemadam kebakaran mampu memadamkan kebakaran di rumah tetangga sebelahku. Papi mami yang pulang kantor lebih awal juga sempat menyaksikan prosesi pemadaman api. Namun sayang, rumah tetanggaku tidak tertolong. Semua habis dilalap si jago merah. Papi mencoba membesarkan hati Om Sofyan (almarhum, saat tulisan ini di publikasikan), suami Tante Dewi. Papi bilang, "Yang penting semua selamet pak, anak-anak sehat semua. Harta bisa dicari lagi..." Om Sofyan mengiyakan meskipun tetap ada rasa kehilangan pada raut wajahnya. Aku bersyukur tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, semua selamat. Aku juga bersyukur selalu ada sesama yang menolong kita di saat tak terduga, baik tetangga, teman, ataupun petugas pemadam kebakaran. Aku juga bersyukur aku masih punya tempat tinggal. Setelah kurenungi semalam panjang, aku seperti tidak percaya apa yang aku alami hari itu. Jika saja rumahku terbakar juga, maka motor, pakaian, kamera digital, koleksi jam tangan, playstation, TV, gitar, dan masing banyak lagi, semua akan menjadi debu seketika. Semakin aku menginventarisasi barang-barang dan harta benda tersebut, semakin aku tidak bisa tidur. Benar kata papi, bahwa harta bisa dicari, yang paling penting semua selamat. Sekian.

No comments:

Post a Comment