Sunday, July 3, 2016

Nikmatnya Lapar ?

"Ya Tuhan, aku bersyukur atas makanan dan minuman ini. Berkatilah makanan dan minuman ini agar menjadi kekuatan bagiku. Terima kasih Tuhan, amin"

Kurang lebih itulah doa yang acapkali saya haturkan ke hadirat Tuhan setiap kali saya hendak menyantap makanan baik di pagi, siang, maupun sore hari. Bertahun-tahun bahkan sejak mengerti kewajiban berdoa (sejak dini), saya selau berdoa dengan konten demikian.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, saya mulai memiliki perasaan lain, yakni rasa lapar lebih nikmat dibandingkan rasa kenyang! Ya benar, lapar lebih nikmat dibandingkan kenyang. 

Sebagai manusia, kita sudah merasakan ribuan bahkan jutaan kali rasa lapar dan kenyang. Perasaan tersebut berlalu begitu saja selama kita hidup, tanpa kita maknai dan renungkan lebih dalam. Mungkin ada banyak orang yang berpuasa untuk kesehatan, maupun alasan agamis. Namun rasa lapar sendiri belum "dihargai" secara "sepantasnya". 

Pada saat lapar, kita akan makan dan setelah kita makan, rasa kenyang pun datang, dan beberapa jam kemudian datang lagi rasa lapar. Begitu seterusnya tanpa henti.

Selama beberapa tahun belakangan, saya coba mendalami rasa lapar dan kenyang, Pada saat lapar, saya merasakan bahwa saya bisa berpikir lebih optimal. Mungkin banyak orang yang akan memperdebatkan opini ini. Namun saya merasa demikian. Berpikir optimal tidak hanya berbicara terkait pekerjaan, ataupun studi, tetapi lebih luas dari itu. 
-Saya lebih memaknai hidup bahwa rezeki dan makanan berasal dari Tuhan
-Saya merasakan bahwa manusia lemah, sehingga mengingatkan saya untuk tetap rendah hati

Hal lainnya adalah saat merasakan lapar, saya memikirkan dan membayangkan makanan apa yang hendak saya santap. Berbagai menu makanan muncul dalam benak saya. Satu per satu menu saya pertimbangkan untuk menjadi pilihan. Hal tersebut saya pahami sebagai kenikmatan tersendiri. Seringkali setelah kita menyantap makanan, belum tentu senikmat pada saat kita membayangkannya.

Jadi, apakah rasa lapar lebih nikmat?

Toko (Jam Tangan) Mahkota

Dalam satu kesempatan, saya pergi ke Toko Mahkota (TM) yang menjual jam tangan. Saya pergi ke sana karena informasi dari beberapa teman bahwa harga yang ditawarkan toko tersebut cukup murah dibandingkan toko sejenis.

Sesampainya di LTC Trade Center, saya langsung mencari alamat TM yaitu (berdasarkan hasil browsing H-1) Lt. 1 unit B3-B5. Dengan cepat saya tiba di lantai yang dimaksud, tetapi kesulitan menemukan TM. Saya berputar-putar di lantai 1 dan menemukan 1 toko yang menjual jam tangan dan beberapa calon pembeli sedang melihat-lihat jam tangan. Namun tidak ada pengenal bahwa toko tersebut adalah TM yang saya cari. Akhirnya saya terus memutari lantai tersebut dan tidak menemukan toko jam tangan lainnya.

Untuk meyakinkan bahwa itu adalah TM, saya bertanya kepada satpam di dekat lift, dan kemudian satpam memberikan petunjuk ke arah toko jam tangan yang saya lihat tadi. Setelah diberikan arahan, saya berujar kepada satpam tersebut, "Oh, toko yang di tengah itu ya pak." Satpam mengangguk, dan saya mengucapkan terima kasih lalu pergi ke arah yang ditunjuk satpam tersebut.

Ketika sampai di toko jam tersebut, saya langsung melihat-lihat etalase kaca yang berisi ratusan jam. Tidak lama setelah itu, seorang petugas toko menghampiri saya, dan kemudian saya bertanya, "Pak, ini toko mahkota ya?". Kemudian Bapak tersebut menjawab, "Itu masih tutup" - sambil menunjuk ke arah sebelah toko. Saya agak kaget dan panik karena merasa salah bertanya, kemudian saya merespon balik, "Oh, kalau begitu, ini namanya toko apa?". Bapak tersebut menjawab, "ini toko fosil!"

Friday, March 25, 2016

Egoisme Manusia Kota

Sepulang dari ibadah Jumat Agung pagi ini, saya melihat dua orang pemudi dengan pakaian yang cukup sederhana. Salah seorang dari mereka membawa dus (sebesar dus mie instant), yang mana isi dari dus tersebut adalah bungkusan kecil kue kering. Kalau saya tidak salah lihat, satu bungkus berisi tiga macam kue kering. Kedua pemudi tersebut hendak membagikan kepada para jemaat yang berjalan melewati pintu keluar gereja. Tidak sedikit orang-orang yang menolak dengan mengacungkan telapak tangan, ataupun bersikap cuek. Namun ada juga yang menerima kue tersebut. Setelah saya perhatikan beberapa saat, nampaknya kue itu dibagikan cuma-cuma alias gratis.

Menjadi menarik karena setiap orang yang menolak menerima kue tersebut akan diikuti dengan tolakan dari orang-orang di belakangnya, sampai dengan periode tertentu baru akan ada orang yang menerima kue tersebut maka orang-orang di belakang orang tersebut akan menerimanya juga. Begitu terus pola itu berulang. Dengan suara agak lantang salah satu ibu berkata demikian, "Oh tester?". Pertanyaan tersebut ditindaklanjuti oleh ibu tersebut dengan meminta lebih kue tersebut dan diikuti dengan orang-orang di belakangnya sampai kue habis. Namun hal unik lainnya menurut saya, suara dari pemudi tersebut tidak terdengar oleh saya (atau memang mereka tidak berkata-kata), sehingga tujuan mereka membagikan kue di interpretasikan berbagai macam, salah satu contohnya berjualan, sedangkan ekstrimnya adalah kampanye.

Mungkin apabila disampaikan dengan jelas oleh kedua pemudi bahwa kue tersebut dibagikan cuma-cuma maka kue tersebut sudah habis dibagikan dari awal.

Dari berita di televisi yang saya saksikan, beberapa hari lalu seorang pengemis laki-laki muda berumur 22 tahun ditangkap oleh SatPolPP untuk dibina. Pada saat dilakukan pemeriksaan, ternyata pengemis tersebut membawa buku tabungan dan uang tunai sebesar Rp 3jt, dan lebih mengagetkan lagi setelah buku tabungannya diperiksa, terdapat uang tabungan sebesar Rp 20jt. Dan dari pengakuan pengemis tersebut bahwa dia bisa memperoleh Rp 300rb - Rp 600rb per hari dari hasil mengemis. Tentunya ini adalah angka yang fantastis.

Berdasarkan contoh pembagian kue, saya melihat fenomena egoisme manusia (tidak semua orang, tetapi cukup banyak). Orang dengan mudahnya menolak dengan melambaikan tangan karena "takut dijebak" dan diminta membeli, sedangkan ada juga orang yang mengambil keuntungan setelah tahu bahwa itu gratis. Sedangkan contoh pengemis muda dan "kaya" tersebut seakan memperkuat contoh pertama, yaitu orang akan lebih selektif lagi dan cenderung defensif dalam memberikan (uang) ataupun menerima sesuatu.

Memang tidak benar menerima sesuatu secara sembarangan apalagi makanan, dan juga tidak benar untuk memberikan sumbangan ke pengemis, dan secara peraturan daerah memberikan uang juga telah melarangnya. Namun dalam kacamata yang lebih besar, hendaknya kita tidak menjadi manusia yang cuek dan egois dan tidak peduli sekitar.

Sekian.

Saturday, March 12, 2016

"Hi, son!"

Dalam suatu suasana santai, saya dan kedua adik sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton acara tv dan bergurau. Tiba-tiba mami yang baru pulang ke rumah, datang menghampiri kami bertiga dan berkata, "Hi, son!". Sontak kami bertiga tersentak dan saling menatap dengan suasana hening kemudian tertawa terbahak-bahak. Bukan karena kami mengetahui bahwa kemampuan Bahasa Inggris mami yang kurang baik, tetapi kami merasa adanya kejanggalan ucapan tersebut. Kejanggalan yang saya maksud adalah karena dua adik saya perempuan, dan mami mengasumsikan bahwa son adalah anak, bukan anak laki-laki.

Pengalaman di atas bukan bermaksud mengejek apalagi menjelek-jelekan keluarga saya pribadi. Namun melalui cerita tersebut saya ingin menyindir karena semakin banyaknya dari kita khususnya warga ibukota yang tidak menggunakan Bahasa Indonesia secara baik, benar, dan penuh kebanggaan. Mengapa saya katakan demikian? Karena banyak dari kita yang kurang menghargai Bahasa Indonesia. Kita lebih bangga menggunakan Bahasa Inggris dibandingkan Bahasa Indonesia. Apalagi Bahasa Inggris yang campur-campur dengan Bahasa Indonesia, wah..keren!

Ironisnya lagi, anak-anak kelahiran 2000an banyak yang tidak menguasai Bahasa Indonesia sebaik anak-anak kelahiran tahun-tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan sekolah yang mengklaim berskala internasional, sungguh kenyataan yang sangat menyedihkan. Padahal bahasa adalah suatu tolok ukur kemajuan suatu bangsa, dan Bangsa Indonesia memiliki kepribadian yang unik dan salah satunya adalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Dari berbagai media dikemukakan bahwa saat ini banyak orangtua yang memimpikan putera puteri mereka dapat menguasai bahasa asing sejak dini dengan tujuan anak-anak dapat bersaing di dunia yang sudah sangat maju ini. Di satu sisi, pendapat tersebut ada benarnya. Namun di sisi lain hal itu menggadaikan kepribadian kita sebagai bangsa.

Beberapa psikolog menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa terbaik pada anak-anak adalah bahasa ibu, bukan bahasa asing. Pertanyaannya, kapan anak-anak dapat belajar bahasa asing? Menurut saya pribadi, setelah anak-anak menguasai Bahasa Indonesia dan bahasa daerah (apabila ada). Bahkan kita juga ketahui bersama, banyak orang yang baru bisa berbahasa asing ketika sudah dewasa, dan tidak ada bukti korelasi antara bisa berbahasa asing sejak dini dengan kesuksesan di masa mendatang.

Mari berbangga dengan Bahasa Indonesia

Air Minum Oksigen, Cocokkah Dikonsumsi Manusia?

Apakah kita yang sering mengkonsumsi air oksigen? Ya, beberapa tahun belakangan ini marak sekali penjualan air minum oksigen dengan berbagai macam merk yang dipromosikan baik lewat media cetak maupun elektronik. Dengan berbagai informasi dan manfaat, air minum oksigen nampaknya menjadi sebuah fenomena unik di zaman yang serba maju sekarang ini.

Kalau kita mundur sedikit ke belakang yaitu beberapa dekade silam tahun 1950an, masyarakat masih mengkonsumsi air langsung dari keran, kemudian tahun 1960an pemerintah menghimbau bahwa air harus dimasak terlebih dahulu sebelum di konsumsi. Setelah itu tepatnya tahun 1973, pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) pertama didirikan di Indonesia.

Kembali ke zaman ini, tidak hanya air minum oksigen, tetapi juga jenis lain seperti air murni, air dengan PH sekian, air dengan mineral tertentu, dan masih banyak lagi.

Pada akhirnya, konsumenlah yang harus lebih selektif dalam memilih air minum yang hendak dikonsumsi karena sejatinya 80% kandungan dalam tubuh manusia adalah air.

Sebagai penutup, tanpa bermaksud mendiskreditkan air minum oksigen, ada satu pemikiran unik dari penulis yaitu: "Bukankah manusia mendapatkan oksigen dari udara yang dihirup dan melalui darah oksigen akan didistribusikan ke sel-sel di dalam tubuh?  Mungkin air oksigen sebetulnya lebih dibutuhkan oleh ikan, yang mana ikan bisa menyerap oksigen dari air."

Sekian

Sunday, February 14, 2016

Gak ada mobil buat kondangan? Ini solusi iritnya...

Biasanya setiap menghadiri kondangan rekan ataupun sahabat, saya selalu meminjam mobil orangtua ataupun saudara. Terus terang, saya tidak mempunyai mobil pribadi, sehingga saya memilih menggunakan kata "pinjam". 

Dua kondangan terakhir, saya mencari solusi lain karena tidak ada mobil keluarga yang bisa saja pinjam. Tentu saja beberapa opsi standar yang langsung muncul antara lain:
  1. Berangkat naik taksi/ Uber/ Grab
  2. Ikut mobil teman yang juga diundang ke acara sama
Kondangan 1
Oktober 2015 lalu, saya diundang untuk hadir dalam pernikahan teman. Selain itu, saya juga hendak mengajak kekasih untuk hadir dalam acara tersebut. Namun mengingat rumah saya yang berlokasi di Bekasi dan acara yang  berlangsung di Tomang, Jakarta Barat, opsi pertama bukanlah opsi yang baik apabila memperhitungkan sisi ekonomis. Selain karena jarak yang cukup jauh (+/- 35 km), kemacetan juga menjadi faktor yang menambah biaya perjalanan pada opsi pertama.
Singkat cerita, saya memiliki solusi unik, yaitu dengan detail sebagai berikut: 
"Naik sepeda motor dari Bekasi sampai dengan Central Park (CP), dilanjutkan dengan naik Uber/Grab dari CP sampai dengan lokasi acara."
Solusi tersebut saya diskusikan terlebih dahulu kepada kekasih saya, dan dia menyatakan setuju. Saya juga menjelaskan alasan saya memilih CP sebagai point kami, selain karena lokasi yang tidak jauh dari tempat acara, CP juga memiliki toilet yang nyaman dan ber-AC sebagai tempat kekasih saya berdandan. Karena dari rumahnya (saat saya jemput), dia hanya menggunakan kaos dan celana jeans dan baru berdandan saat di CP.
Realisasi? Berhasil!

Kondangan 2
Kemarin, saya kembali menghadiri undangan pernikahan teman di daerah Gatot Subroto. Saya hampir menggunakan solusi yang sama dengan ide kondangan sebelumnya. Namun setelah mempertimbangkan hujan yang sudah mulai sering turun hampir setiap sore, saya memikirkan ide lainnya. Akhirnya  saya memutuskan untuk naik commuter line dari stasiun kranji sampai stasiun sudirman, dan dilanjutkan dengan naik Uber ke lokasi acara. Sukses!

Demikian dua solusi transportasi yang pernah saya lakukan untuk menghadiri undangan pernikahan.

Papi, minta komik baru!

Di suatu hari santai pada suatu masa liburan sekolah, Adik (A) perempuan terkecil saya bercakap dengan Papi (P) saya:
A: Pap, hari minggu ini kita ke toko buku yuk...
P: Mau beli buku apa?
A: Aku bosen di rumah, mau beli komik lagi, semua komik udah dibaca. Malahan aku baca komiknya udah diulang-ulang.
P: (dengan intonasi agak marah) Dasar lu, komik aja dibaca ulang-ulang..Kalo buku pelajaran gak pernah dibaca. 

Mendengar jawaban papi, saya yang tadinya tidak mendengarkan serius pembicaraan tersebut langsung tertawa terbahak-bahak, begitupun dengan adik saya, dan cerita ini terus terkenang di ingatan saya hingga saat ini. Padahal kejadian tersebut sudah terjadi sekitar 6 tahun lalu.

Mengapa? Selain selalu tersenyum sendiri apabila mengingat kejadian tersebut, saya melihat hal menarik dari kejadian tersebut, yaitu kita akan melakukan apa saja terhadap hal yang kita senangi (dalam arti positif). 

Temukan passionmu, perjuangkan, jalani, dan nikmati...