Thursday, July 3, 2014

Belajar dari Mami

Beberapa hari lalu sepulang dari kantor di kawasan Senayan, saya mengeluarkan uang dari dompet sebesar Rp 25,000.- untuk kemudian saya taruh di kantong celana. Seperti biasanya, dompet saya simpan kembali di tas ransel kecil saya.

Sesampainya di rumah di kawasan cempaka mas, saya langsung mandi dan mempersiapkan diri unntuk bersantai menjelang istirahat dan tidur. Singkat cerita, saya lupa mengeluarkan uang tersebut dari kantong celana saya.

Seperti biasa, esoknya paginya saya berangkat kembali ke kantor. Ketika dalam perjalanan ke kantor, di dalam bus transjakarta saya teringat bahwa ada uang saya yang belum saya keluarkan dari saku celana tadi malam. Saya mengirimkan pesan singkat ke mami saya untuk menyimpankan uang berjumlah Rp 25,000.00 tersebut.

Siang hari, mami telepon ke handphone saya, “Mami tadi pagi ngerendem gak ngecek lagi kantong celana kamu. Barusan mami sudah tanya si mbak yang nyuci baju, kata dia gak ada uangnya.” Lalu saya bilang ke mami, “Oke mam, gak apa2.” Pembicaraan singkat pun selesai. Lalu saya kembali mengingat, jangan-jangan memang saya yang lupa menaruh uang itu. Akhirnya saya memutuskan untuk melupakan kejadian itu dan merelakan uang itu. Memang, uang sejumlah itu bukanlah jumlah yang besar untuk saya pribadi. Bukan juga bermaksud besar kepala dan mengecilkan nominal tersebut. Sebagai gambaran, uang sebesar itu cukup untuk mendapatkan 1x makan siang + minum di kantin sederhana di kawasan senayan atau ongkos pulang pergi bekasi-senayan 2 hari berturut-turut. Yah, intinya lumayan ajalah, gak besar tapi juga bukan gak ada arti.

Kembali ke inti cerita, malam hari saya pulang kantor, mami menghampiri saya dan bilang demikian, “Mami sudah tanya si mbak, dan mbak bilang: “gak ada bu, saya udah cek.” Tapi, pas dia lagi buang sampah, mami penasaran dan coba cek dompet dia, ternyata ada Rp 25,000.00 dan masih basah. Terus mami taro lagi di dompet dia, gak apa-apalah. Mami doain aja kamu banyak rejeki.” Setelah mendengar itu saya hanya diam aja sambil mengangguk sedikit, karena memang setelah mami telepon di siang hari itu saya sudah bertekad melupakan kejadian tersebut.

Malam hari setelah berdoa, saya merenungkan kejadian tersebut (tentunya banyak kejadian yang direnungkan, termasuk kejadian itu). Saya berpikir, ada beberapa pelajaran baik yang diperoleh dari kejadian “lupanya saya mengeluarkan uang dan kemudian hilang”. Beberapa poin yang saya hasilkan dari perenungan adalah sebagai berikut.

  1. Saya agak kesal, bahwa saya begitu cerobohnya. Padahal biasanya saya adalah orang yang teliti.
  2. Penyesalan yang saya ungkapkan berubah dari rasa syukur, dengan kejadian itu kita sekeluarga jadi tahu bahwa, mbak adalah orang yang tidak jujur, sehingga kita sekeluarga dapat lebih waspada dalam menyimpang uang dan barang berharga lainnya.
  3. Ini adalah poin terpenting, saya belajar banyak dari mami. Begitu bijaksananya mami dalam menyikapi hal tersebut, terutama saat kejadian menaruh kembali uang tersebut di dalam dompet si mbak setelah tahu itu uang saya. Respon mami ke mbak juga seperti biasa saja setelah kejadian itu, tidak menegur apalagi memecatnya.

Mungkin poin ketiga bisa dibantah dengan argumen, “ah jumlahnya saja kecil, coba kalau besar”, “ah mami takut ditinggal si mbak, sekarang kan susah cari mbak”, dan ratusan kemungkinan sinisme lainnya. Namun saya tetap yakin akan poin nomor 3  yang saya tulis di atas terlepas dari hal-hal lainnnya.

No comments:

Post a Comment