Saturday, February 17, 2018

Jangan Sampai...

Setiap Imlek atau ulang tahun, orang-orang selalu memberikan doa-doa dan harapan-harapan yang baik-baik. Namun hal-hal baik yang menghampiri manusia belum tentu menghasilkan buah yang baik pula. Pun sebaliknya, hal-hal buruk yang terjadi belum tentu menghasilkan buah yang buruk pula. Ada banyak contoh mengenai hal ini. Tentunya, bukan berarti kita mendoakan hal-hal buruk. Kita boleh tidak sependapat, tetapi kira-kira begitu perenunganku pribadi pada Imlek kali ini.

Sejak awal karirku (+/- 6 tahun lalu), setiap bertemu emak (nenekku), ia selalu menyampaikan doa dan harapannya setiap pertemuan kami tepat ketika sebelum kami berpisah satu sama lain. Sambil memelukku dan menempelkan kedua pipinya di pipiku, ia berbisik demikian, "terima kasih ya, ted. Emak berdoa semoga kamu cepet naik pangkat." dan aku selalu mengamini doa emak tersebut. Setelah kurenungkan, memang karirku cukup cepat menanjak, dan aku yakin hingga kini bahwa semua ini karena anugerah dari Tuhan.

Di Imlek kali ini, doa emak agak dimodifikasi sedikit - entah ide atau ilham dari siapa/mana - bisikannya, "terima kasih ya, ted. Emak berdoa semoga kamu bisa jadi presiden direktur." Lagi-lagi aku mengamini meskipun agak terkaget juga mendengarnya. Di sisi samping, kanan kiri kedua adikku terkekeh "terkesan meremehkan" doa emak mereka kepadaku. Aku hanya tersenyum melirik mereka, tanpa tahu seharusnya aku di pihak siapa saat itu.

Saat ini, aku hanya berpikir demikian, jangan sampai materi, pekerjaan, rezeki, kekayaan, kesehatan, bahkan pasangan, dan hal-hal baik lainnya, ataupun sebaliknya yaitu hal-hal buruk yang menimpaku, dapat menjauhkanku dari Tuhan. Biarlah Tuhan yang menolong.

TN

Imlek 2018

Perayaan Tahun Baru Imlek 2018 jatuh pada hari Jumat, 16 Februari 2018. Seperti halnya tahun baru lainnya (Masehi, Hijriyah, Saka), Imlek merupakan tahun baru yang dirayakan oleh orang-orang Tionghoa dan keturunannya. Sayangnya beberapa orang di Indonesia masih memahami bahwa Imlek identik dengan hari besar keagamaan.

Saya sendiri merayakan Imlek dengan berkumpul bersama keluarga besar termasuk nenek (emak). Tidak ada perjanjian khusus diantara keluarga besar papi, tetapi seperti ada kesepakatan tidak tertulis untuk berkumpul di rumah emak setiap Imlek. Biasanya kami makan bersama, mengobrol, bersenda gurau, saling bercerita, dan berbagi keceriaan. Tidak lupa beberapa anggota keluarga membagikan angpao sebagai wujud kasih dan perhatian kepada anggota keluarga lainnya.

Pada Imlek kali ini, ada hal yang cukup menarik perhatian saya. Emak sebagai orang tertua di keluarga besar memberikan nasihat kepada anak-anaknya termasuk papi (anak kandungnya) dan mami. Hal yang sudah langka bagi saya. Sehebat apapun papi mami, setua apapun papi mami, sebijaksana apapun papi mami, bahkan papi mami yang sudah masuk usia pensiun, tidak juga mempunyai imunitas dari nasihat orang tua. Ya, begitulah orang tua, mereka selalu menganggap anak selayaknya anak, tidak memandang umur, anak tetaplah anak. Bagaimana seharusnya sikap anak? Menurut hemat saya, menghormati dan menghargai nasihat orang tua tersebut. Meskipun sebagai anak saya juga menyadari bahwa kadang sebagai anak, saya yang sudah dewasa dan mandiri merasa diatur, digurui, dan bahkan kadang nasihat orang tua tidak sesuai dengan pemikiran kita. Namun sikap hormat tidak boleh berkurang sedikit pun. Sebab ada tertulis, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Kel 20:12).

Selamat Tahun Baru Imlek untuk Teman dan Sahabat yang merayakan. Sincun Kionghi.

TN

Tuesday, January 2, 2018

Cucian Motor

Siang ini saya mencuci motor di tempat yang berbeda dari tempat biasanya, tepatnya berlokasi lebih jauh +- 300 meter dari tempat langganan. Saya menganalogikan tempat cucian motor yang biasanya saya singgahi adalah Tempat A, dan tempat yang baru hari ini saya singgahi adalah Tempat B. Selain lokasi yang tidak terlalu berjauhan, kualitas hasil cucian tidak banyak berbeda. Keduanya menampilkan hasil yang prima dalam membersihkan motor saya.

Namun ada hal yang menarik pada Tempat B. Setelah motor saya dicuci bersih dan serah terima dilakukan, saya memberikan uang pecahan IDR 50rb kepada pencuci. Ia sempat bertanya, apakah saya punya uang pecahan yang lebih kecil. Lantas, saya mengecek kembali isi dompet saya (yang sebenarnya saya sudah tahu tidak ada pecahan kecil), dan segera mengatakan bahwa saya tidak memiliki uang pecahan kecil. Kemudian ia berjalan ke belakang untuk menyiapkan uang kembalian. Tidak sampai satu menit, ia kembali dan menyerahkan kepada saya beberapa kombinasi pecahan uang kecil. Sekilas saya lihat terdapat pecahan uang IDR 20rb, 5rb, dan 2rb. Saya menerimanya, melipatnya, dan memasukkan ke kantong celana sambil mengucapkan terima kasih kepadanya. Tiba-tiba, dijawabnya demikian, "Mas, dihitung dulu saja." Sekilas perkataan itu biasa saja. Namun mendengar respon tersebut membuat saya cukup tersentak, dan memalingkan muka kepadanya, mengangguk, dan tersenyum. Lalu saya segera mengeluarkan kumpulan pecahan uang tadi, lalu menghitungnya dengan seksama. Setelah itu, saya sampaikan bahwa kembaliannya sudah pas, yaitu sejumlah IDR 38rb. Sebagai informasi, harga jasa cucian motor adalah IDR 12rb untuk motor kecil dan IDR 15rb untuk motor besar. Tidak dijelaskan lebih jauh apa definisi motor biasa dan motor besar.

Setelah menyampaikan terima kasih, saya bergegas pulang, dan dalam perjalanan pulang saya teringat akan kata-kata pencuci itu yang meminta saya menghitung kembali uang kembalian yang saya terima. Saya berpikir bahwa agak langka di zaman now ini karakter yang demikian. Hal ini diperkuat dengan membandingkan Tempat A. Seringkali kali saya menggunakan jasa cuci motor di Tempat A. Boro-boro diminta untuk menghitung kembalian, uang kembalian saja belum tentu diberikan (bila membayar dengan pecahan IDR 15rb). Padahal terpampang jelas tarif di sana, yang mana besarannya sama antara Tempat A dan Tempat B. Selama ini, saya hanya mengira-ngira bahwa motor Honda Vario saya dikategorikan motor besar di Tempat A. Jadi selama ini saya tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut selama kualitas cucian baik.

Setelah sampai di rumah, saya kembali mengingat karakter baik yang dimiliki oleh pencuci Tempat B, dan juga membandingkan karakter yang (menurut saya) kurang baik yang dimiliki pencuci Tempat A. Tak lama setelah itu, pemikiran saya kembali kepada diri sendiri. Saya masuk A atau B? Parahnya  hati nurani saya menjawab A. Mungkin bukan dalam kasus yang sama persis seperti di atas. Misalnya waktu saya kecil, saya kurang ikhlas dan ogah-ogahan kalau diminta tolong oleh orang tua membeli sesuatu ke luar rumah yang mana di saat bersamaan saya sedang asyik nonton tv. Sedangkan di zaman now ini, mungkin juga saya sesekali menggerutu apabila ada rekan kerja yang meminta data ataupun memberikan masukan atas kerjaan saya.

Mari, belajar memiliki karakter seperti pencuci Tempat B.

Sekian.

Monday, December 25, 2017

Syopi's Effect

Seperti kita ketahui, periode Natal dan Tahun Baru selalu membawa kegembiraan dan sukacita untuk banyak orang. Lantas, apa yang terlintas di benak tentang perayaan Natal dan Tahun Baru? Selain tentang peribadatan Nasrani, mungkin ada yang berpikir liburan panjang, makan bersama, meniup terompet, atau malah tukeran kado.

Kali ini, saya akan sedikit membahas perihal tukeran kado. Oke kita mulai.
Adakah yang menyadari, apa bagian terbaik saat tukeran kado, baik bersama teman-teman ataupun keluarga? Menurut hemat saya bukan karena kita mendapat barang/ sesuatu yang baru, atau mendapat barang yang kita perlu/ ingin, atau mendapat hadiah. Sadar atau tidak, bagian terbaik tukeran kado adalah pada saat kita membuka/merobek bungkus kado tersebut! Silakan kita resapi, pada saat kita melakukan ritual pembukaan bungkus kado. Percaya ya cukur, nggak ya gondrong :p

Menurut saya, perasaan saat membuka bungkus kado tersebut adalah perasaan yang langka. Mengapa langka? karena kita hanya bisa mendapatkan perasaan tersebut saat tukeran kado saja. Biasanya setahun 1x atau maksimal 2x, kalaupun lebih itupun konsekutif di akhir tahun. Saya sendiri belum pernah mengalami tukeran kado secara periodik misalnya 4 bulan sekali, atau 3 bulan sekali.

Baru-baru ini, saya menyadari bahwa ada fenomena di mana perasaan yang mirip dengan tukeran kado itu bisa dimunculkan tanpa melakukan aktivitas tukeran kado. Terutama sejak saya mengunduh satu aplikasi market place yang sedang kekinian, sebut saja syopi. Pada aplikasi tersebut terdapat event yang biasa disebut Flash Sale. Event tersebut dibatasi oleh waktu, dan pada periode waktu tersebut terdapat sekian belas barang dengan jumlah terbatas yang diklaim dijual secara diskon. Setiap orang hanya bisa membeli masing-masing jenis barang hanya 1 buah. Setelah mencapai tenggat waktu tertentu, barang-barang yang dijual akan berganti. Begitu seterusnya.

Beberapa kali saya bertransaksi untuk membeli barang yang sebetulnya saya tidak perlu-perlu amat. Namun karena saya tahu harga barang itu sedang murah, "terpaksa" saya beli. Setelah melakukan pembayaran dan status pembelian barang berubah menjadi persiapan pengiriman, saya sangat menanti-nantikan barang tersebut tiba, apalagi saat barang tersebut telah tiba dan saya hendak membuka bungkus barang tersebut, sensasi tersebut saya rasakan, dan rasanya mirip seperti membuka kado! Padahal saya sudah mengetahui isi barangnya!

Hal ini sudah saya rasakan tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali bahkan banyak kali. Sayangnya, pernah satu kali pesanan saya datang tanpa dibungkus tertutup alias hanya dikemas menggunakan plastik transparan sehingga terlihat isi bungkus dari luar. Tidak ada efek penasaran lagi, dan kegembiraan membuka bungkus barang pun tidak muncul.

Kembali ke kegembiraan membuka bungkus barang, apakah saya terjerat menjadi suka belanja daring? Jawabannya tidak. Namun, saya hanya menyukai sensasi menunggu barang tiba di rumah/ kantor dan sensasi membuka bungkus barang tersebut.

Apakah anda juga?

Sekian. 

Sunday, November 5, 2017

Jepang Last Part: Hal - Hal Menarik

Orang Tokyo dan Orang Osaka
Layaknya orang-orang ibukota negara maju, warga Tokyo sangat sibuk dan individualistis, bahkan bisa dibilang seperti robot. Bahkan beberapa rekan Indonesia yang kami temui di Jepang pun mengiyakan hal tersebut. Hal ini agak berbeda dengan warga Osaka, yang sejatinya merupakan kota terbesar kedua di Jepang. Warga Osaka lebih “santai” (dalam artinya tidak se-robot warga Tokyo). Namun secara umum seluruh orang Jepang mempunyai kesamaan, yaitu disiplin, tepat waktu, pekerja keras, dan baik. Khusus poin terakhir yang disebutkan, akan diulas dalam penjelasan di bawah ini.

Orang Jepang Baik
Baik memiliki arti yang sangat luas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata baik berarti elok, patuh, teratur, rapi, tidak ada celanya, tidak jahat, dsb. Namun baik yang saya maksud akan saya jelaskan lebih jauh dengan contoh-contoh sebagai berikut. Pertama, selama saya berada 9 hari di Jepang (Akihabara, Odawara, Osaka, Kyoto) saya merasakan keadaan yang aman, sekalipun beberapa kali harus pulang hingga larut karena padatnya jadwal yang kami susun. Selain itu, tidak ada copet ataupun pihak - pihak yang berusaha menggunakan kesempatan dalam kesempitan di tengah kebingungan baik dalam perjalanan, menghitung uang, berjalan di gang kecil, dll. Ketiga, pada saat kami mengunjungi Fujiko Fujio Museum, hari sedang hujan. Saya dan NK menggunakan payung dan juga pelindung tas. Tanpa disadari oleh NK dan saya, pelindung tas NK terjatuh, tiba-tiba kami sadar bahwa ada seorang laki-laki berjas (perkiraan saya usia +- 40 tahun) mengantarkan pelindung tas NK di tengah ramainya situasi stasiun saat itu. Yang pasti pelindung tas tersebut tidak jatuh di dekat kami, karena saya mendengar panggilan dari seseorang yang saya abaikan karena saya yakin bukan kami yang dipanggil karena kami tidak mengenal orang Jepang mana pun. Kejadian tersebut terjadi di stasiun Kawasaki, dan semakin membuat saya respek terhadap orang Jepang.

Tsukiji Market
Belum lengkap rasanya makan sushi ataupun sashimi kalau belum ke pasar tradisional tsukiji yang terletak di pinggir kota Tokyo. Kita bisa makan sushi dan sashimi dari ikan yang baru dipotong. Bahkan beberapa toko memotong ikan di depan tokonya sehinggak kita bisa melihat prosesnya. Selain itu, banyak juga makanan-makanan lainnya di pasar ini. Saya jamin, gak nyesel kalau datang ke sini. Oh ya, kalau berniat datang, baiknya datang di pagi hari.

Ichiran Ramen
Ini adalah ramen terenak se-dunia. Setidaknya itu menurutku. Saya memang bukan penggemar fanatik ramen, tetapi dari seluruh ramen yang saya makan di Indonesia dan Jepang, ramen inilah yang paling meninggalkan kesan mendalam. Hal ini pun diiyakan oleh teman-teman yang sudah pernah makan. Sayangnya bagi saudara-saudaraku muslim tidak boleh menikmati ramen ini karena tidak halal. Ichiran Ramen buka 24 jam dan memiliki cabang yang banyak di kota-kota di Jepang.

Matsuya dan Yoshinoya
Apabila memiliki anggaran yang terbatas untuk liburan di Jepang, solusi untuk makan irit ada di 2 tempat makan ini. Dengan harga termurah 380 Yen (setara IDR 47 ribu), kita sudah mendapatkan nasi, lauk, dan minum. Tentang minum, berbeda dengan tempat makan/ restoran di Indonesia yang mana kebanyakn minum selalu dijual terpisah. Semua tempat makan yang saya singgahi baik mahal maupun murah, menyediakan air minum secara gratis. Biasanya air putih dingin ataupun ocha dingin. Saya juga tidak mengetahui kenapa tempat makan/ restoran di Jepang menyediakan minum yang dingin. Padahal udara di sana cukup dingin pada musim gugur.

Pachinko
Pachinko merupakan tempat bermain game di Jepang, kalau di Indonesia seperti timezone. Bedanya Pachinko menjamur di mana-mana bahkan sampai ke gang-gang di pinggiran kota, di mana-mana ada Pachinko. Perbedaan lainnya adalah game-game di dalamnya sangat modern, yang belum pernah saya temukan di Jakarta. Namun beberapa game klasik juga ada.

Toilet
Di Jepang, semua closet di toilet yang saya temui berjenis duduk, dan menggunakan air (bukan tissue seperti toilet di Eropa). Namun yang unik adalah, baik pembilas/ flush ataupun penyiram bokong, dikendalikan dari sebuah panel digital yang biasanya berada di sebelah kanan pada saat kita menggunakan closet. Yang uniknya lagi seringkali pada saat kita duduk di closet, akan terasa hangat di closet tersebut di tengah dinginnya udara di musim gugur.

Saat mengunjungi Tokyo Gyoen Park, saya berkesempatan masuk ke dalam toilet umumnya. Waktu itu keadaan pada sore hari, dan matahari sudah berada di ufuk barat. Sebelum masuk ke toilet, saya melihat bahwa toilet gelap, dan karena hasrat yang tak tertahankan, akhirnya saya tetap masuk ke dalam. Namun alangkah ajaibnya bahwa lampu menyala otomatis saat saya masuk dan kembali mati otomatis saat saya keluar. “Wah, canggih juga ni. Hemat energi jadiny.” Begitu pikirku. Tidak lama setelah itu, pikiran liar pun muncul, bagaimana kalau diaplikasikan di Indonesia. “Hmm, bisa jadi tidak dikira canggih, tapi horror.” Seloroh otakku.


Ngomong-ngomong lampu otomatis, banyak rumah di Kyoto yang juga demikian. Ketika kita melintas di depan rumah seseorang dan mengenai sensornya maka lampu rumah akan menyala dan sebaliknya.

Friday, November 3, 2017

Perempuan Jepang dan Geisha

Setelah 7 hari di Jepang, telah mengkonfirmasi kepada diri saya sendiri bahwa para gadis Jepang memang relatif banyak yang cantik, pandai merias diri, serta modis, dibandingkan 10 negara lain (Asia dan Eropa) yang pernah saya kunjungi.

Hal ini pun sempat saya bahas dengan teman kuliah dahulu - sebut saja WY - yang saat ini bermukim di Jepang untuk belajar Bahasa Jepang. WY sudah menetap di Osaka sejak Mei 2017. Saya dan NK, bertemu WY untuk menghabiskan 1 hari di Kyoto (sebenarnya ini di luar rencana awal), karena kami baru mengetahui kemarin bahwa WY tinggal di Jepang. Jadilah kami bereuni sesama almamater Universitas Bina Nusantara.

Kami membahas sekali banyak hal sepanjang hari termasuk bagaimana WY bisa belajar Bahasa Jepang di Osaka, budaya Jepang, perempuan Jepang, dan tentunya negara tercinta Indonesia.

Topik-topi tersebut di atas tidak akan saya ulas dalam tulisan ini, terkecuali mengenai perempuan Jepang. Menurut WY, mayoritas perempuan di Jepang mempunyai sifat alamiah yang rendah hati, tidak suka menonjolkan diri, pandai menampilkan citra lugu, bahkan ekstrimnya “pura-pura bodoh”, semata-mata hanya untuk menghargai laki-laki. Padahal sebenarnya perempuan tersebut tahu banyak hal karena di Jepang, laki-laki masih dianggap harus mempunyai peranan yang lebih tinggi sebagai pengayom, pelindung, cerdas, tahu banyak hal, dll. Jadi perempuan mengambil peran untuk “merendah”. Tapi bukan untuk direndahkan tentunya, hanya untuk “membesarkan” (menghargai) ego alamiah laki-laki. Tentunya hal ini hanya berlaku pada hubungan pribadi antara laki-laki dan perempuan, bukan hubungan profesional. Jadi, secara linear dapat disimpulkan laki-laki akan mudah menaruh hati pada sifat perempuan yang seperti ini.

Di sisi lain, perempuan di 2 kota metropolitan terbesar -  Tokyo & Osaka - selain mempunyai sifat yang saya lukiskan di atas, banyak perempuan juga terkenal matrealistis. Hal sangat kontradiktif dengan sifat-sifat keluguan. Inilah potret perempuan Jepang yang digambarkan WY.

Geisha
Saya berkesempatan mengitari Gion di malam hari, setelah dari pagi mengunjungi banyak kuil di Kyoto. Gion bagaikan kota tak tak pernah mati, dengan segala lampu-lampu kota, pertokoan, tempat makan, hingga hiburan malam. 

Sampai pada satu titik perjalanan, saya melihat sebuah patung besar geisha. Langsung saya berselancar di internet, dan benar saja memang geisha berasal dari Gion, tepatnya Gion Corner. Pertunjukan geisha pun ada, tetapi harga tiketnya sangat mahal (bagi saya) yaitu sekitar 12.000 Yen (1 Yen = IDR 122).

Saya dan NK pun kompak tidak menonton pertujukan geisha karena mahalnya harga tiket dan juga kami cukup lelah pada hari tersebut, sehingga kami hanya berkeliling Gion. Namun sebenarnya besar keinginan saya pribadi untuk melihat geisha secara langsung. Nampaknya Tuhan mendengar dan mengabulkan  keinginan saya. Pada salah satu perempatan besar di jalan raya, kami melihat geisha di dalam taksi yang sedang berhenti karena terkena lampu merah. Bukan itu saja, pada saat kami menyeberang jalan tersebut, kami pun berpapasan langsung dengan geisha, yang dikawal okeh laki-laki berjas gelap.


Di Jepang, geisha dikenal sebagai perempuan yang memiliki kemampuan menari tradisional dan menyanyi lantunan lagu Jepang lengkap dengan dandanan tradisional Jepang. Tugas utamanya adalah menghibur (dalam arti positif) turis. Namun banyak orang yang berkonotasi negatif apabila mendengar kata geisha, mungkin juga karena menonton film Memoirs of a Geisha.

Wednesday, November 1, 2017

Fujiko Fujio Museum: Berkunjung ke Rumah Doraemon Part 1

Hari kedua di Jepang, kami berencana mengunjungi Fujiko Fujio Museum yang terletak di daerah Kawasaki. Dalam perjalanan, kami sambil berselancar di dunia maya untuk mendapatkan gambaran ataupun informasi tambahan yang diperlukan sebagai pendukung perjalanan.

Kami agak kaget karena baru mengetahui bahwa tiket tidak bisa dibeli langsung di museum, melainkan harus dibeli di Lawson. Akhirnya kami mencari Lawson terdekat di daerah stasiun Kawasaki, dan ketemu!

Kami langsung masuk ke Lawson dan kemudian menjelaskan kepada petugas Lawson bahwa kami ingin membeli tiket museum. Petugas yang juga kasir Lawson tersebut dengan ramah menyambut kami serta mengarahkan (mempersilakan) dengan syarat lima jari di tangannya yang diarahkan ke sebuah mesin yang berada 2 meter di samping kirinya. Saat itu juga, pikiran saya langsung berkecamuk, “Alamak, beli makan dengan mesin saja belum lancar...”

Tapi apa daya, kami tidak mempunyai pilihan lain, dan benar saja mesin tersebut tidak dilengkapi Bahasa Inggris. NK sebagai pemilik IQ superior langsung mengambil alih kendali untuk berhadapan satu lawan satu dengan mesin tersebut. Sedangkan saya berdiri di belakang agak serong kirinya  memberikan semangat dan dukungan moril kepadanya, bahwa ia mampu menaklukkan mesin tersebut.!

Saat itu keadaan Lawson sedang ramai, banyak pembeli yang antri membayar atas pembelian barang. Setelah lima menit kutak katik dengan mesin itu tanpa hasil, sambil melayani pembeli, petugas yang sedang sibuk itu mulai sadar dan bermaksud untuk membantu dengan memberikan clue kepada kami yang belum juga paripurna. NK menatap serius penjelasan petugas tersebut, sedangkan saya manggut-manggut. Namun kami berdua gagal menangkap penjelasan tersebut karena semua dijelaskan dengan Bahasa Jepang.

Tidak ada yang kami dapat lakukan selain mencoba terus dan terus. Sepuluh menit berlalu sejak kedatangan kami. Petugas masih sibuk melayani para pembeli, dan saya mulai pasrah dengan keadaan ini. Saya pelan-pelan mencoba meminta waktu petugas itu agar membantu kami dengan sesekali melambaikan tangan kepadanya dengan harapan ia berbaik hati membantu dibtengah kesibukannya. Sementara NK terus mencoba pencat pencet. Sebetulnya, kami sudah sampai di tahap mengisi Nama dan No telepon, tapi tidak bisa juga selesai, setelah sebelumnya memilih tanggal kunjungan, jam kunjungan, dll.

Tidak lama kemudian petugas tersebut seperti melompati badannya ke arah samping agar dapat menjangkau mesin tersebut yang terhalang meja kasir, dan kemudian memencetkan nama dengan 2 suku kata (entah nama siapa yang di input),  sedangkan dari awal kami hanya memasukkan 1 suku kata, dan juga entah no telepon siapa yang dimasukkan petugas dan tiba-tiba saja selesai,
Tiket langsung keluar. Setelah itu kami membayar harga tiket ke petugas Lawson tersebut. Harga tiketnya adalah 1000 Yen untuk 1 orang. Kami pun melanjutkan perjalanan ke museum. 

(bersambung)