Saturday, March 10, 2018

Harta Benda Bisa Dicari

Siang itu aku sedang tidak ada kuliah. Aku yang sedang santai di rumah mendapatkan SMS dari Helsa yang minta dijemput di stasiun kereta Kranji. Bergegaslah aku menuju stasiun dengan sepeda motor. Helsa, yang ingin pulang lebih awal ke rumah memilih naik kereta sendiri dari daerah sekolahnya di Penabur Gunung Sahari Jakarta, daripada harus menunggu Helen yang harus mengikuti bimbel sekolah. Padahal apabila pulang bersama-sama Helen, Helsa tinggal duduk manis di mobil yang dikendarai supir. Memang tidak memungkinkan supir bolak-balik Jakarta-Bekasi untuk memenuhi semua keinginan karena keterbatasan waktu akibat kemacetan ibukota. Singkat cerita, aku menjemput adik kecilku itu yang waktu itu masih duduk di bangku kelas 6 SD. Perjalanan rumahku ke stasiun tidaklah jauh, mungkin hanya sekitar 10 menit bolak-balik bila melalui jalan tikus. Setelah Helsa duduk di kursi belakang motor, kami langsung berangkat ke arah rumah. Dari kejauhan aku sudah mengamati terdapat asap hitam membumbung lurus dari bawah ke atas, tanpa berpikiran macam-macam aku terus fokus mengendarai motor. Namun semakin dekat arah kami ke rumah, asap tersebut juga makin dekat dengan kami. Benar saja, rumah tetangga sebelahkulah sumber asap itu.

Sontak, turun dari motor, aku meneriaki tetanggaku tersebut. Celakanya asisten rumah tangganya baru tersadar ketika aku memberitahu bahwa bagian ujung rumah yang menjadi arena berdoa tetanggaku sedang disatroni api dengan cepatnya. Setelah memasukkan motor dan meminta Helsa masuk ke dalam rumah, aku mengisi air keran ke dalam ember sambil menelpon papi. Suaraku agak bergetar karena aku cukup panik, "Pap, rumahnya Tante Dewi kebakaran!". Sedangkan papi cukup tenang dan bilang, "Nanti Papi telepon pemadam kebakaran, kamu bawa aja semua dokumen yang ada di lemari kamar papi." Aku mengiyakan perintah papi, dan kembali bertanya, "Itu aja Pap yang dibawa?" dan kembali dijawab, "iya itu aja." Tak terasa ember sudah penuh dengan air, aku pun mengakhiri pembicaraan itu, dan bergegas menyiramkan air ke rumah tetanggaku. Namun setelah lari beberapa langkah, aku menyaksikan bahwa api yang tadinya hanya setinggi betisku, kini sudah menyamai tinggi badanku. Dengkulku lemas seketika menghadapi api yang cepat meninggi ini. Belum lagi hawa panasnya yang menyengat kulit dan mataku saat kudekati, ember berisi air yang kuisi tidak ada apa-apanya melawan api semacam ini. Aku tinggalkan ember berisi air itu, tanpa pernah menyiramkannya. Aku berlari kembali dalam ke rumah, mengangkut semua dokumen-dokumen di lemari kamar kedua orang tuaku. Helsa panik dan hampir menangis, sementara Pocky terus menggonggong tanpa henti. Di luar sudah terdengar kesibukan para tetangga sekitar yang berkemas dan warga lain yang hendak menolong. Begitu mencengkeramnya suasana siang itu.

Semua dokumen selesai kumasukkan ke dalam 2 tas besar, satu kupanggul di bahu kanan, dan satu di bahu lainnya. Selain dompet dan handphone, aku membawa laptop dan beberapa dokumen yang  terkait perkuliahanku, semua benda tersebut kupanggul dengan tas punggung. Lengkap sudah semua harta benda yang kubawa. Tangan kananku menggenggam lengan Helsa, tangan kiriku menggendong Pocky. Kami keluar rumah dengan langkah mantap.

Di luar kondisi sudah sangat ramai, hampir semua orang tidak kukenal atau memang aku sudah tidak fokus mengenali orang, aku tak tahu. Tiba-tiba seorang teman gereja menghampiriku lebih dulu, "Ted.." panggilnya, aku menoleh dan langsung berkata kepadanya, "Gun, gue titip Helsa sama 2 tas ini ya.." Anggun mengangguk, menerima 2 tas besar dan super berat terus menggandeng Helsa. Perlahan mereka menghilang di kerumunan orang. Sedangkan aku masih berada di depan rumah, sambil mengamati dan was-was apakah api akan mampir ke rumahku juga. Pada saat itu, angin bertiup cukup kencang, sehingga api berbelok ke kanan dan kiri secara liar. Aku sendiri sudah siap mental dan pasrah apabila api juga melahap rumahku. Dalam lamunan itu, seorang teman kuliah yang tinggal tidak jauh dari rumahku juga menghampiriku, "Ted.." sapanya singkat, "Eh Re, gue boleh nitip laptop dan tas gue?" Regina mengangguk sambil menerima tas punggungku. Tak lama berselang, seorang teman lain kutahu juga memelihara anjing menghampiriku, jadi aku menitipkan Pocky padanya. Aku pun masih serius mengamati rumah tetanggaku dan tentunya rumahku. Di tengah waktu tersebut, beberapa orang yang mengenalku bertanya kepadaku, "kok kamu gak ngeluarin barang-barang?" Pertanyaan yang masuk akal, karena tetangga lainnya bahkan yang berbeda dua rumah, tiga rumah, bahkan seberang jalan, super sibuk mengungsikan berbagai macam harta benda mereka. Sedangkan rumahku yang jelas-jelas persis di sebelah rumah yang tebakar nampak adem ayem. Pertanyaan tersebut tidak hanya ditanyakan satu-dua orang, tetapi menjadi pertanyaan favorit kepadaku saat itu. Aku pun selalu menjawab sama, "Iya gak apa-apa, biarin aja..." Sebenarnya bukannya aku takut, atau tidak mau berusaha. Tapi aku hanya sendirian, tidak ada mobil di rumah, dan tidak ada yang membantu jika aku harus mengungsikan barang-barang, dan aku juga tidak tahu harus mengungsi kemana saat itu, di tengah lautan manusia yang menonton dan sebagian kecil menolong.

Akhirnya pemadam kebakaran mampu memadamkan kebakaran di rumah tetangga sebelahku. Papi mami yang pulang kantor lebih awal juga sempat menyaksikan prosesi pemadaman api. Namun sayang, rumah tetanggaku tidak tertolong. Semua habis dilalap si jago merah. Papi mencoba membesarkan hati Om Sofyan (almarhum, saat tulisan ini di publikasikan), suami Tante Dewi. Papi bilang, "Yang penting semua selamet pak, anak-anak sehat semua. Harta bisa dicari lagi..." Om Sofyan mengiyakan meskipun tetap ada rasa kehilangan pada raut wajahnya. Aku bersyukur tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, semua selamat. Aku juga bersyukur selalu ada sesama yang menolong kita di saat tak terduga, baik tetangga, teman, ataupun petugas pemadam kebakaran. Aku juga bersyukur aku masih punya tempat tinggal. Setelah kurenungi semalam panjang, aku seperti tidak percaya apa yang aku alami hari itu. Jika saja rumahku terbakar juga, maka motor, pakaian, kamera digital, koleksi jam tangan, playstation, TV, gitar, dan masing banyak lagi, semua akan menjadi debu seketika. Semakin aku menginventarisasi barang-barang dan harta benda tersebut, semakin aku tidak bisa tidur. Benar kata papi, bahwa harta bisa dicari, yang paling penting semua selamat. Sekian.

Sunday, March 4, 2018

Adik-Adik Perkasa


Mempunyai dua adik perempuan, otomatis mempertegas kodrat ilahi bahwa aku harus mengambil peran sebagai pelindung kedua adikku. Ditambah lagi statusku sebagai anak laki-laki sulung dalam keluarga.

Helen adik pertama, memiliki keuletan belajar yang lebih dari antara kami bertiga. Aku masih mengingat betul, pada masa kuliahnya bagaimana ia belajar dan mempersiapkan diri dalam setiap ujian yang akan ia hadapi. Buku-buku pelajarannya sangat tebal, dan ia selalu membawa beberapa koper (berisi buku pelajaran) sekaligus untuk menghadapi ujian. Ia telah lulus untuk mendapatkan gelar sarjana farmasi dan juga gelar profesi apoteker. Tidak sekadar lulus, nilai kelulusannya sangat memuaskan karena ia lulus dengan status cum laude. Saat ini ia memiliki karir yang baik di salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. Di sisi lain, sesekali ia juga gemar bermain piano meskipun tidak mencapai tahap mahir.

Lain halnya dengan Helen, Helsa memiliki kemampuan dan sifat yang unik. Helsa memiliki IQ yang lebih tinggi dari aku dan Helen, kecerdasannya sudah dibuktikannya sejak ia masih dini yaitu puncaknya ditandai dengan dinobatkannya Helsa menjadi juara umum SD se-Penabur di Jakarta. Buatku, prestasi tersebut tidak bisa dianggap remeh temeh. Di rumah kami, berjejer piala-piala yang pernah ia raih di berbagai bidang dari mulai pendidikan, seni, olahraga, dan lain-lain. Namun memasuki jenjang SMP prestasi akademisnya tidak segemilang saat SD. Ia justru lebih berfokus pada sisi sosial dengan aktif di OSIS dan menjadi Ketua OSIS, serta tim inti basket SMP, begitu juga  saat SMA – menjadi Ketua OSIS dan tim inti basket SMA. Piala tetap singgah di rumah, namun semuanya berasal dari prestasi olahraga. Saat ini, Helsa adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri top di Bandung dengan jurusan komunikasi, yang dicapainya berkat statusnya sebagai aktivis OSIS dan juga prestasi basket.

Ringkasnya, Helen tipikal pembaca buku, pembelajar ulet, kaku, dan juga pengagum berat Doraemon, Helsa tipikal yang senang bersosialisasi, kurang disiplin, selalu ketinggalan barang, namun mempunyai minat dalam berbagai olahraga.

Aku sendiri merasa, ada beberapa kesamaan diriku dalam kedua adikku. Aku pembaca buku (meskipun tidak banyak-banyak amat buku yang kubaca), cukup disiplin, senang berbagai macam olahraga, dan kadang suka bersosialisasi. Namun kalau diadu akademis dan persoalan belajar, Helen pasti mengalahkanku. Sedangkan kalau diadu kecerdasan (IQ) dan banyak-banyakan teman, jelas bahwa aku juga akan kalah oleh Helsa. Sesekali, aku merasa inferior terhadap kenyataan ini. Namun satu yang bisa kulakukan untuk menutupi kekuranganku dibandingkan kedua adikku, yaitu soal persiapan. Aku selalu mempersiapkan berbagai hal yang akan kulakukan, apapun itu,  sebagai bentuk kompensasi karena aku tidak seulet Helen dan secerdas Helsa, maka aku harus membuat persiapan yang lebih baik dengan berharap hasilnya akan baik pula. Terkait dengan persiapanku, aku akan menuliskannya pada tulisan lain.

Beberapa bulan lalu, suatu kali sepulang ibadah minggu, kami sekeluarga makan siang bersama di suatu mall di Jakarta. Setelah makan siang usai, aku, Helen, dan Helsa memilih untuk tidak langsung pulang karena kami hendak jalan bersama di mall itu. Sedangkan papi mami memilih pulang terlebih dahulu karena ada acara lain. Kami bertiga keliling mall melihat-lihat sekujur mall, dan spontan pilihan kami jatuh pada Timezone. Setelah mengisi voucher, kami mulai memilih permainan yang menjadi kompetisi diantara kami bertiga. Masih lekat dalam ingatanku, aku cukup bersemangat terhadap kompetisi ini. Namun tidak sampai memacu adrenalin selayaknya aku menikmati permainan futsal. Berbagai permainan kami pertandingkan bertiga, mulai dari ketangkasan memencet tombol dan layar, olahraga basket, tembak menembak, balapan mobil, motor, dan lain-lain. Total, belasan permainan kami habiskan. Di tengah kesibukan kami masing-masing, menghabiskan kebersamaan yang kurang lebih hanya dua jam, tentunya waktu tersebut sangat berharga dan seru sekali bagiku.

Namun keberhargaan dan keseruan itu juga diikuti dengan perasaan kesal dalam hatiku, karena aku tidak memenangkan satu permainan pun dari belasan pertandingan! Ya, kalau tidak juara dua, juara tiga. Ternyata, asumsiku bahwa aku harus melindungi kedua adikku tidak selalu sepenuhnya tepat, karena ternyata mereka telah tumbuh menjadi adik-adik perkasa.

Wednesday, February 28, 2018

Berbuat Baik

Berbuat baik tidak sesimpel yang dibayangkan. Setidaknya menurutku begitu. Seringkali pamrih atau juga disalahartikan menjadi biang keladinya. Banyak orang senang berbuat baik, tapi perbuatan baik tersebut belum tentu menghasilkan hal yang baik bagi si pemberi maupun si penerima. Perbuatan baik semacam ini hanya menjadi derita bagi kedua belah pihak.

Contohnya aku sendiri, ketika suatu kali aku memberikan kue lapis legit yang menjadi kue favoritku sejak lama kepada seorang kawan, aku akan menunggu responnya untuk mencicipi, atau minimal aku akan bertanya kepadanya entah esok, beberapa hari kemudian, ataupun saat kesempatan bertemu dengannya. “Bagaimana kuenya, enak?”, pertanyaan yang hanya sekadar basa-basi untuk mengharapkan jawaban “enak”. Apabila jawabannya enak, senanglah hatiku. Selesailah perkara. Namun apabila jawabannya selain itu, semisal “kemanisan” atau “kurang cocok”, mungkin aku sudah menyiapkan berbagai pembelaan terhadap kue lapis lagit favoritku tersebut seakan aku sendiri si pembuat kue, atau lebih lagi anggapan seakan pribadiku yang sedang diserang. Penghinaan atas kue lapis legit favoritku membawa derita tersendiri bagiku. Tentunya memiliki mental seperti ini membuatku tidak nyaman, karena pertemanan kami dipertaruhkan hanya karena persoalan sepele, yaitu kue lapis legit. Padahal sejak awal maksudnya berbuat baik, tapi hasilnya menjadi tidak baik.

Di sisi lain, aku juga pernah mengalami di sisi sebaliknya. Ketika menerima hadiah ulang tahun berupa pakaian dari seorang teman. Tentu, aku sangat bersyukur karena telah dikelilingi oleh orang-orang yang baik yang mengasihiku dan memperhatikanku. Namun adakalanya kita kurang menyukai hadiah yang diberikan kepada kita. Lantas, tak pantas juga kita tolak pemberian tersebut karena dari teman baik yang hendak berbagi kebaikannya. Kebaikan tersebut dibarengi dengan pertanyaan, “kok gak pernah dipakai bajunya, gak suka ya?” Saat masih anak-anak, mungkin dengan lantang dan ceplas-ceplos aku akan menjawab tanpa beban “tidaakkk”. Namun selayaknya orang dewasa lainnya, aku juga sudah dibekali kemampuan “bijaksana” yang dimiliki banyak orang dewasa lainnya dengan menjawab “sukaaa” belum lagi ditambah senyuman (setengah palsu). Lagi-lagi hubungan baik menjadi taruhannya.

Kedua pengalamanku tersebut mengajarkanku bahwa ternyata tingkat kebaikanku masih berada di tingkat terendah dari seluruh tatanan tingkat kebaikan, satu tingkat di atas tingkat netral, dua tingkat di atas tingkat kurang baik. Jadi, apabila di kemudian hari aku memberikan sesuatu kepada orang lain, aku belajar untuk tidak menambahkan dengan keingintahuanku lebih lanjut tentang apa hasil dari perbuatan baikku, karena maksud baikku terkhusus memang hanya sampai berbuat baik bukan mencari tahu hasil dari perbuatan baikku. Sekian.

Oh ya, untuk contoh kedua, aku belum menemukan jawabannya. Tapi kalau semua sepakat tidak mencari tahu hasil perbuatan baik masing-masing, berarti aku tidak perlu berjerih payah menemukan jawabannya. J

Sunday, February 25, 2018

Rasa itu Terseleksi

Orang bilang, love is easy. Benarkah? Sayangnya bagiku tidak. Namun tak jua berarti sebaliknya.

Mayoritas, cinta turun dari mata ke hati. Selanjutnya? Terserah anda, begitu bunyi sebuah iklan lawas.

Kalau naksir, gaya garuk-garuk, gaya tertawa, gaya bicara, gaya bengong, gaya menguap, bahkan ngupil pun bisa terlihat indah. Sebaliknya, secantik apapun seorang perempuan, kalau kita nggak sreg dengan gaya garuk-garuknya, gaya tertawanya, gaya bicaranya, gaya bengongnya, gaya menguapnya, semua bisa ambyar seketika. Apalagi ngupil, jangan ditanya lagi. Bukan kartu kuning lagi taruhannya, tapi kartu merah plus larangan tampil di laga-laga selanjutnya.

Artinya? Rasa itu terseleksi.

Lainnya, cinta berjalan karena terbiasa. Terpupuk, tersiram, terjemur, dan tumbuh karena kecocokan dan tak berasal dari pandangan pertama, mungkin pandangan keseribu atau malah keserbapak.

Tak hanya melahirkan tawa, cinta tak urung menerbitkan air mata. Tak berarti cengeng, karena air mata bukanlah tanda kelemahan, apalagi kekalahan. Otomatis, tawa tak selalu menjadi tanda kesenangan dan kemenangan.

Tanpa keduanya - tawa dan air mata, cinta belumlah paripurna.

Saturday, February 17, 2018

Jangan Sampai...

Setiap Imlek atau ulang tahun, orang-orang selalu memberikan doa-doa dan harapan-harapan yang baik-baik. Namun hal-hal baik yang menghampiri manusia belum tentu menghasilkan buah yang baik pula. Pun sebaliknya, hal-hal buruk yang terjadi belum tentu menghasilkan buah yang buruk pula. Ada banyak contoh mengenai hal ini. Tentunya, bukan berarti kita mendoakan hal-hal buruk. Kita boleh tidak sependapat, tetapi kira-kira begitu perenunganku pribadi pada Imlek kali ini.

Sejak awal karirku (+/- 6 tahun lalu), setiap bertemu emak (nenekku), ia selalu menyampaikan doa dan harapannya setiap pertemuan kami tepat ketika sebelum kami berpisah satu sama lain. Sambil memelukku dan menempelkan kedua pipinya di pipiku, ia berbisik demikian, "terima kasih ya, ted. Emak berdoa semoga kamu cepet naik pangkat." dan aku selalu mengamini doa emak tersebut. Setelah kurenungkan, memang karirku cukup cepat menanjak, dan aku yakin hingga kini bahwa semua ini karena anugerah dari Tuhan.

Di Imlek kali ini, doa emak agak dimodifikasi sedikit - entah ide atau ilham dari siapa/mana - bisikannya, "terima kasih ya, ted. Emak berdoa semoga kamu bisa jadi presiden direktur." Lagi-lagi aku mengamini meskipun agak terkaget juga mendengarnya. Di sisi samping, kanan kiri kedua adikku terkekeh "terkesan meremehkan" doa emak mereka kepadaku. Aku hanya tersenyum melirik mereka, tanpa tahu seharusnya aku di pihak siapa saat itu.

Saat ini, aku hanya berpikir demikian, jangan sampai materi, pekerjaan, rezeki, kekayaan, kesehatan, bahkan pasangan, dan hal-hal baik lainnya, ataupun sebaliknya yaitu hal-hal buruk yang menimpaku, dapat menjauhkanku dari Tuhan. Biarlah Tuhan yang menolong.

TN

Imlek 2018

Perayaan Tahun Baru Imlek 2018 jatuh pada hari Jumat, 16 Februari 2018. Seperti halnya tahun baru lainnya (Masehi, Hijriyah, Saka), Imlek merupakan tahun baru yang dirayakan oleh orang-orang Tionghoa dan keturunannya. Sayangnya beberapa orang di Indonesia masih memahami bahwa Imlek identik dengan hari besar keagamaan.

Saya sendiri merayakan Imlek dengan berkumpul bersama keluarga besar termasuk nenek (emak). Tidak ada perjanjian khusus diantara keluarga besar papi, tetapi seperti ada kesepakatan tidak tertulis untuk berkumpul di rumah emak setiap Imlek. Biasanya kami makan bersama, mengobrol, bersenda gurau, saling bercerita, dan berbagi keceriaan. Tidak lupa beberapa anggota keluarga membagikan angpao sebagai wujud kasih dan perhatian kepada anggota keluarga lainnya.

Pada Imlek kali ini, ada hal yang cukup menarik perhatian saya. Emak sebagai orang tertua di keluarga besar memberikan nasihat kepada anak-anaknya termasuk papi (anak kandungnya) dan mami. Hal yang sudah langka bagi saya. Sehebat apapun papi mami, setua apapun papi mami, sebijaksana apapun papi mami, bahkan papi mami yang sudah masuk usia pensiun, tidak juga mempunyai imunitas dari nasihat orang tua. Ya, begitulah orang tua, mereka selalu menganggap anak selayaknya anak, tidak memandang umur, anak tetaplah anak. Bagaimana seharusnya sikap anak? Menurut hemat saya, menghormati dan menghargai nasihat orang tua tersebut. Meskipun sebagai anak saya juga menyadari bahwa kadang sebagai anak, saya yang sudah dewasa dan mandiri merasa diatur, digurui, dan bahkan kadang nasihat orang tua tidak sesuai dengan pemikiran kita. Namun sikap hormat tidak boleh berkurang sedikit pun. Sebab ada tertulis, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Kel 20:12).

Selamat Tahun Baru Imlek untuk Teman dan Sahabat yang merayakan. Sincun Kionghi.

TN

Tuesday, January 2, 2018

Cucian Motor

Siang ini saya mencuci motor di tempat yang berbeda dari tempat biasanya, tepatnya berlokasi lebih jauh +- 300 meter dari tempat langganan. Saya menganalogikan tempat cucian motor yang biasanya saya singgahi adalah Tempat A, dan tempat yang baru hari ini saya singgahi adalah Tempat B. Selain lokasi yang tidak terlalu berjauhan, kualitas hasil cucian tidak banyak berbeda. Keduanya menampilkan hasil yang prima dalam membersihkan motor saya.

Namun ada hal yang menarik pada Tempat B. Setelah motor saya dicuci bersih dan serah terima dilakukan, saya memberikan uang pecahan IDR 50rb kepada pencuci. Ia sempat bertanya, apakah saya punya uang pecahan yang lebih kecil. Lantas, saya mengecek kembali isi dompet saya (yang sebenarnya saya sudah tahu tidak ada pecahan kecil), dan segera mengatakan bahwa saya tidak memiliki uang pecahan kecil. Kemudian ia berjalan ke belakang untuk menyiapkan uang kembalian. Tidak sampai satu menit, ia kembali dan menyerahkan kepada saya beberapa kombinasi pecahan uang kecil. Sekilas saya lihat terdapat pecahan uang IDR 20rb, 5rb, dan 2rb. Saya menerimanya, melipatnya, dan memasukkan ke kantong celana sambil mengucapkan terima kasih kepadanya. Tiba-tiba, dijawabnya demikian, "Mas, dihitung dulu saja." Sekilas perkataan itu biasa saja. Namun mendengar respon tersebut membuat saya cukup tersentak, dan memalingkan muka kepadanya, mengangguk, dan tersenyum. Lalu saya segera mengeluarkan kumpulan pecahan uang tadi, lalu menghitungnya dengan seksama. Setelah itu, saya sampaikan bahwa kembaliannya sudah pas, yaitu sejumlah IDR 38rb. Sebagai informasi, harga jasa cucian motor adalah IDR 12rb untuk motor kecil dan IDR 15rb untuk motor besar. Tidak dijelaskan lebih jauh apa definisi motor biasa dan motor besar.

Setelah menyampaikan terima kasih, saya bergegas pulang, dan dalam perjalanan pulang saya teringat akan kata-kata pencuci itu yang meminta saya menghitung kembali uang kembalian yang saya terima. Saya berpikir bahwa agak langka di zaman now ini karakter yang demikian. Hal ini diperkuat dengan membandingkan Tempat A. Seringkali kali saya menggunakan jasa cuci motor di Tempat A. Boro-boro diminta untuk menghitung kembalian, uang kembalian saja belum tentu diberikan (bila membayar dengan pecahan IDR 15rb). Padahal terpampang jelas tarif di sana, yang mana besarannya sama antara Tempat A dan Tempat B. Selama ini, saya hanya mengira-ngira bahwa motor Honda Vario saya dikategorikan motor besar di Tempat A. Jadi selama ini saya tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut selama kualitas cucian baik.

Setelah sampai di rumah, saya kembali mengingat karakter baik yang dimiliki oleh pencuci Tempat B, dan juga membandingkan karakter yang (menurut saya) kurang baik yang dimiliki pencuci Tempat A. Tak lama setelah itu, pemikiran saya kembali kepada diri sendiri. Saya masuk A atau B? Parahnya  hati nurani saya menjawab A. Mungkin bukan dalam kasus yang sama persis seperti di atas. Misalnya waktu saya kecil, saya kurang ikhlas dan ogah-ogahan kalau diminta tolong oleh orang tua membeli sesuatu ke luar rumah yang mana di saat bersamaan saya sedang asyik nonton tv. Sedangkan di zaman now ini, mungkin juga saya sesekali menggerutu apabila ada rekan kerja yang meminta data ataupun memberikan masukan atas kerjaan saya.

Mari, belajar memiliki karakter seperti pencuci Tempat B.

Sekian.