Thursday, October 6, 2016

Brussels

Tidak ada yang terlalu spesial di Brussels. Sebuah kota yang tenang dengan wafelnya yang enak tetapi juga tidak spesial. Suhu udara di Brussels mirip dengan di Amsterdam, tetapi polusi udara begitu terasa menyengat di hidung ketika berjalan kaki di tengah kota. Banyak sekali mobil di jalan-jalan sampai menimbulkan kemacetan (meskipun tidak separah Jakarta). Sedangkan sepeda lebih sedikit dibandingkan mobil. Ada kereta dan ada metro (entah apa bedanya diantara keduanya). Belakangan saya baru tahu perbedaanya dari teman sekamar yang merupakan warga negara Belgia. Kereta digunakan untuk transportasi antar kota, sedangkan metro untuk dalam kota. Selain itu ada juga bus panjang (penampakannya mirip dengan transjakarta koridor 1 bermerk Scania/Zangdong). 

Brussels (1)
Brussels (2)
Brussels (3)

Brussels (4)

Ada pemandangan unik yaitu lumayan banyaknya pengemis di pinggiran toko, bahkan ada pengemis yang sudah bersiap mengemis di depan pintu masuk/ keluar sebuah bank. Begitu juga di  stasiun metro, bahkan di dalam metro, ada pengemis berkeliaran!

Menurut peta gratis untuk turis, bahasa yang digunakan di Belgia adalah Bahasa Perancis dan Belanda, bahkan kedua bahasa tersebut sering digunakan bercampur-campur dalam sebuah percakapan. Haduh, kayaknya saya teringat sebagian kecil orang Indonesia ya yang suka campur-campur berbicara dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris 😂

Teman Sekamar

Satu malam di Belgia, teman sekamar saya adalah orang Belgia, kebetulan saya tidak menanyakan mengapa orang Belgia tinggal di hotel (bukan di rumah atau apartemen). Sebut saja namanya Sibel. Menurut perkiraan saya Sibel adalah laki-laki berumur sekitar 40 tahun. Sedangkan hobinya adalah travelling. Dalam setahun dia bepergian selama 4 bulan bahkan lebih. Sibel sudah pernah mengunjungi Armenia, Azerbaizan, Ukraina, Vietnam dan negara-negara lain yang tidak menjadi pilihan utama (favorit) dalam berwisata. Bahkan Sibel sedang bersiap untuk mengunjungi Panama, Kosta Rika, dan negara lain di sekitarnya di minggu depan. Ketika saya tanyakan mengapa Sibel memilih negara-negara tersebut dan apa tujuannya? Sibel menjawab singkat bahwa dia memilih negara-negara tersebut karena murah berwisata di sana, dan Sibel bisa menghabiskan waktu sampai dengan 1-2 bulan di satu negara untuk benar-benar mengenal kebudayaan tersebut. Seperti negara-negara yang saya telah sebutkan di atas, Sibel menjelaskan karakteristik secara umum masyarakat di masing-masing negara tersebut. Kemudian saya juga menanyakan kepadanya apakah Sibel  pernah mengunjungi Indonesia? Ternyata belum pernah. Saya langsung berpikir, inilah kesempatan saya untuk berpromosi untuk Indonesia 😁

Seperti yang pernah saya baca di beberapa artikel, biasanya turis asing khususnya Amerika dan Eropa lebih mengenal Bali dibandingkan Indonesia. Jadi, misi promosi saya buka dengan pertanyaan apakah Sibel pernah mengetahui tentang Bali, dan benar saja Sibel mengetahui Bali (meskipun belum pernah ke sana), tetapi tidak terlalu tahu Indonesia. Akhirnya mulailah saya cas cis cus tentang Indonesia tentunya dengan segala keterbatasan Bahasa Inggris saya. Setelah saya menjelaskan dengan cukup komprehensif (menurut saya), Sibel menanggapi dengan ringan, kurang lebih seperti ini, "wah sepertinya 3 bulan tidak akan cukup mengenal seluruh kebudayaan Indonesia." Sontak saya tertawa geli. Ya itulah Sibel, yang mengaku hobinya adalah pesta (party) dan minum alkohol.

Adapun ketika saya bermalam di Paris, rekan sekamar saya orang USA, sebut saya Sius. Berbeda dengan orang Eropa yang mana Bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu, Sius yang tulen orang USA berbahasa Inggris cas cis cus, sehingga membuat saya selalu mengernyitkan dahi setiap berbicara dengannya. Lebih-lebih Sius sangat bawel dan terus mengajak saya berbicara. Padahal saya yang sudah lelah di kamar dan ingin santai, tetapi dipaksa berpikir keras mencerna pembicaraan Sius. Saya hampir frustasi dan ingin meminta pindah kamar rasanya. Dasar yengki! Hahahaha.

Huuf, sepertinya lain kali saat memesan hotel ada baiknya mengetahui rekan kamar dari negara mana 😆

Peace & say no to racism!

Tuesday, October 4, 2016

Bedankt Netherlands!

Christian Shelter di Red Light District
Red Light District (1)
Saya menginap di Christian Shelter, yang terletak di red light district di Kota Amsterdam. Sejujurnya sedari awal memesan hotel ini saya mengabaikan informasi terkait frasa "red light district" dan hanya berfokus pada frasa "christian shelter", tetapi saat baru tiba dari Amsterdam Centraal dan mencari hostel ini, saya baru sadar bahwa yang dimaksud dengan red light district, benar-benar red! Hahahaha, karena para perempuan menjajakan dirinya di tempat semacam ruko-ruko dengan pintu dan kaca transparan dengan pakaian yang sangat-sangat minim. Dan apabila kita menoleh ke arah ruko tersebut, maka perempuan tersebut akan menatap dengan tajam dan mencoba menggoda, dan berdasarkan informasi dari Sandeman Tour, tarif minimum kencan adalah sebesar 50 Euro, wow!


Red Light District (2)
Red Light District (3)

Christian Shelter (1)
Christian Shelter sendiri merupakan hostel non profit, yang dikelola satu orang karyawan bernama Taka, seorang ex Jepang yang sudah tinggal di Belanda selama 18 tahun dan menikah dengan perempuan Belanda, sehingga Taka sudah menjadi warga negara Belanda. Taka dibantu oleh banyak sukarelawan. Para sukarelawan merupakan mahasiswa ataupun mahasiswi yang sedang belajar di Amsterdam. Adapun asal negara mereka bermacam-macam, ada yang dari Belanda, Polandia, Jerman, USA, Slovenia, dll. Para sukarelawan bergantian secara paruh waktu mengerjakan seluruh pekerjaan hostel termasuk pekerjaan administratif, memasak, mengepel, sampai dengan membersihkan toilet.
Christian Shelter (2)


Christian Shelter (3)
Christian Shelter Volunteers
Saya menyempatkan mengobrol dan makan siang bersama dengan Taka dan beberapa sukarelawan. Kesan saya adalah mereka sangat hangat dan bersahabat. Sebetulnya malam itu saya diundang untuk mengikuti persekutuan mereka pada pukul 19.30 waktu Amsterdam, tetapi karena terlalu lelah, saya memutuskan untuk tidur.

Sandeman Tour
Apabila bepergian ke negara-negara Eropa bukan melalui tur, saya menyarankan untuk mendaftarkan diri mengikuti Sandeman Tour melalui internet. Sandeman Tour memiliki beberapa paket tur yang berbeda-beda di setiap negara yang disesuaikan dengan ciri khas masing-masing negara. Namun ada kesamaan Sandeman Tour di seluruh negara, yakni adanya tur gratis. Misalkan, kalau di Belanda, Amsterdam Tour (Free), Red Light District Tour (... Euro), Bicycle Tour (...Euro), dll. Saya sendiri mengikuti Amsterdam Tour yang tidak berbayar, tetapi pada akhir tur, seluruh peserta tur memberikan tips secara sukarela kepada tour guide.


with Sanderman Tour Leader

Desain Kota

Amsterdam (1)
Berdasarkan informasi dari Sandeman Tour, Kota Amsterdam memang didesain sejak dahulu kala sebagai kota pejalan kaki dan pesepeda, sehingga seluruh jalan mendukung terutama untuk dua jenis moda transportasi tersebut. Sedangkan transportasi masal seperti kereta, trem, dan bus digunakan hanya untuk mendukung transportasi yang tidak bisa dijangkau melalui berjalan kaki maupun bersepeda. Adapun motor dan mobil sangat terbatas jumlahnya. Udara yang bersih dan suhu yang sejuk (sekitar 15 derajat celcius pada musim gugur) tidak membuat keringat bercucuran saat mengendarai sepeda bahkan apabila menggunakan jas sekalipun.



Amsterdam (2)
Amsterdam (3)



Amsterdam (5)
Amsterdam (4)
Amsterdam (6)














Gaya Mengendarai

Pesepeda jumlahnya sangat banyak di Amsterdam, dan mereka mengendarai sepeda dengan kecepatan tinggi (untuk ukuran sepeda), sehingga pejalan kaki seperti saya harus terus berhati-hati kala menyeberang jalan. Pesepeda juga menggunakan bel sepeda ataupun siulan mulut untuk mengingatkan pejalan kaki agar tidak menghalangi jalan mereka.
Sama halnya dengan pesepeda, banyak dari pengendara motor dan mobil juga mengendarai dengan kecepatan yang tinggi. Tidak jarang terdengar bunyi gas yang begitu besar (digeber) dan juga rem pakem saat mobil atau motor menahan lajunya. Namun selama saya di Amsterdam, saya belum pernah menyaksikan adanya kecelakaan.

Sepeda di Amsterdam

Handphone
Pengamatan singkat saya selama di Eropa ialah dari kurang lebih sepuluh pengguna iphone yang saya lihat, delapan diantaranya menggunakan iphone 5, dan dua lainnya sudah menggunakan iphone 6. Dan menariknya, mayoritas jumlah pengguna iphone 5 adalah anak remaja dan anak muda! Sangat kontras dengan di Indonesia, khususnya Jakarta.


Zaanse Schans
Merupakan daerah pinggiran Amsterdam yang melestarikan kincir angin, yang mana saat ini hanya dimanfaatkan sebagai tempat wisata (kincir angin sudah tidak dipergunakan untuk tujuan awal). Daerah ini sangat asri dan indah karena menawarkan kesederhanaan layaknya sebuah desa tradisional Belanda.


Wind Mill (1)
Wind Mill (2)
Wind Mill (3)

Pada saat saya tiba di Zaanse Schans, cukup banyak turis mancanegara yang sedang mengunjungi daerah tersebut menggunakan tur. Mereka memasuki salah satu rumah toko dan juga difungsikan sebagai museum, saya mencoba mengikuti mereka, tetapi ternyata harga tiket masuk rumah tersebut agak mahal buat saya yaitu 4 Euro, yang mana belum terlalu jelas juga bagi saya apa yang dapat dilihat di dalam rumah tersebut. Rumah tersebut terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian halaman depan, ruang tengah (toko), ruang belakang (museum). Tiba-tiba terpikirlah suatu trik, saya membeli coklat panas seharga 2 Euro di toko tersebut. Setelah membayar coklat panas dan mengobrol akrab dengan sang nenek penjual, saya minta izin untuk duduk dan minum di dalam museum (ruang ketiga). Namun sang nenek menjawab dengan tegas dan sopan, "kamu tidak boleh duduk di dalam, duduklah di luar". Hahahaha, (ampun nek, dalam hati saya). Akhirnya saya duduk di luar, dan trik saya pun gagal total.

Toilet
Beberapa toilet yang saya gunakan di tempat umum, seluruhnya menggunakan mesin untuk masuk ke dalamnya. Dengan memasukan uang koin seharga 0.7 Euro (equivalen 10.500 IDR), pintu/gerbang dapat terdorong (pintu/gerbang yang dimaksud adalah seperti pintu/gerbang di halte transjakarta/ stasiun commuterline saat kita menempelkan kartu sebelum masuk). Mahalnya harga masuk toilet membuat saya sedikit menyesal setelah masuk toilet, namun apa daya kalau sudah kebelet. Setelah buang air kecil, biasanya saya merasa "tidak rela" apabila langsung keluar toilet, tapi juga tidak bisa buang air besar karena bukan jadwalnya. Sedangkan mandi pun tidak memungkinkan dan terlalu berlebihan. Jadi saya hanya maksimalkan untuk mencuci tangan dengan sabun, dan mencuci muka. Ya, sudah maksimal.

Monday, October 3, 2016

Locked Up Abroad di Imigrasi Belanda

Pernahkah anda menonton tayangan televisi berbayar dengan acara bernama Locked Up Abroad? Acara tersebut menceritakan kisah nyata dari kejahatan yang pernah dilakukan seseorang di negara yang bukan negara asal si penjahat (tokoh utama cerita), dan pada bagian klimaks cerita adalah si penjahat tertangkap polisi karena ulahnya, kemudian pada akhir cerita penjahat bertobat dan membagi pengalaman buruknya pada masa muda untuk kemudian di serialkan. Kebetulan hampir seluruh serial yang saya tonton menceritakan kejahatan penyelundupan narkoba dan seringkali tertangkap di bandara. Begitulah penggambaran acara tersebut versi saya.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3.5 jam dari Istanbul, saya tiba di Schiphol (bandara di Amsterdam). Sambil berjalan keluar bandara, saya sempat mengabadikan adanya pelangi di luar bandara, kemudian saya melanjutkan perjalanan ke arah imigrasi. Setelah melewati antrian yang tidak terlalu panjang, tibalah giliran saya untuk dilakukan cap kedatangan pada paspor. Petugas bertanya kepada saya beberapa hal seperti tujuan ke eropa apa, pergi ke negara mana saja, apakah saya pergi sendirian saja, dan yang terakhir adalah petugas menayakan berapa uang yang saya bawa. Entah karena terlalu santai, kurang konsentrasi, grogi ataupun alasan lainnya, pertanyaan terakhir saya jawab "one hundred". Tanpa sadar, jawaban saya membawa saya untuk diajak masuk oleh petugas imigrasi Amsterdam ke ruang khusus. Sambil berjalan pada ruang tersebut, melewati lorong, saya terus berpikir apa yang salah dari jawaban saya, dan seketika saya sadar telah salah ucap mengenai jumlah uang yang saya bawa. Seharusnya saya sebut "one thousand & one hundred euro", itupun belum termasuk mata uang lain yang saya bawa, yaitu Swiss Franc. Ya Tuhan, betapa bodohnya saya dalam menyebutkan pertanyaan krusial. Ada pepatah klasik, "Penyesalan memang selalu datang terlambat." 

Singkat cerita saya dipersilakan duduk di ruangan khusus, ruang yang mirip dengan tayangan Locked Up Abroad, dan petugas langsung meninggalkan saya seorang diri. Kemudian beberapa petugas bertubuh kekar setinggi +/- 1.85m mondar-mandir melewati ruangan tempat saya duduk. Saya menunggu 15 menit tanpa kepastian yang jelas. Pikiran aneh-aneh mulai memenuhi otak saya, tetapi saya berusaha tenang dan tidak terlihat gugup sedikitpun. Bahkan saking gugupnya saya tidak berani menginformasikan kepada keluarga di rumah. Beberapa kali pada saat beberapa petugas melewati ruang saya berada, saya mencoba menyelak dengan memanggil petugas, "Hi Mr, Let me Explain please". Tetapi petugas cuek saja. Saya merasa makin lemas dan rasanya ada binatang besar di perut saya sampai-sampai sakit rasanya. Saya terus berdoa di dalam hati, sambil berkomunikasi dengan WhatsApp dengan beberapa teman di kantor. Mereka menyarankan agar saya meminta maaf atas slip of tounge dan menunjukan seluruh uang yang saya bawa. Saya pun mulai mempersiapkan seluruh uang yang saya bawa dan saya juga menyiapkan seluruh kartu kredit, ID card perusahaan, kartu nama.

Akhirnya setelah menunggu +/- 35 menit, dua orang petugas bersiap menginterview saya. Mereka nampak santai namun tetap terlihat sangat tegas. Pertama-tama saya langsung meminta maaf atas kesalahan saya dalam menyebutkan nominal Euro yang saya bawa, kemudian saya juga menjelaskan tujuan saya ke negara mana saja, saya juga menawarkan untuk memperlihatkan uang yang saya bawa, tiket hotel, tiket kereta, dan kelengkapan perjalanan lainnya. Mereka tidak mudah percaya begitu saja, dan mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan, apakah saya berangkat sendiri saja, ke negara mana saja saya akan pergi, mengapa memilih amsterdam, mengapa saya tidak melalui tur, dst.

Setelah menjelaskan semua pertanyaan yang ditanyakan, saya meminta izin untuk memperlihatkan uang euro yang saya bawa, seluruh kartu kredit yang saya miliki, ID card perusahaan, kartu nama, itinerary, seluruh tiket pesanan hotel, seluruh tiket penerbangan, seluruh tiket kereta di negara eropa. Kemudian uang saya dihitung lembar demi lembar dan dicatat, jadwal saya dicatat dengan detail, setelah itu mereka juga menanyakan pagu kredit kartu kredit saya satu per satu kemudian di konversi ke Euro, begitu juga dengan seluruh tiket pesanan hotel, pesawat, dan kereta dicek dengan seksama oleh petugas. Bersamaan dengan pengecekan tersebut, saya meyakinkan mereka sambil menunjukan ID card perusahaan dan kartu nama bahwa saya memiliki uang yang cukup untuk liburan di Eropa dan akan kembali ke Indonesia karena saya memiliki pekerjaan yang baik.

Mereka nampaknya juga belum yakin, dan terus menayakan apakah saya mempersiapkan semuanya sendirian, karena itinerary yang saya buat begitu detail menurut mereka, dan mereka tidak pernah melakukan ataupun orang lain yang pernah melakukan hal serupa. Liburan ala mereka adalah hanya menyiapkan tiket pesawat, membawa uang, mencari bar, dan sisanya akan mengalir begitu saja. Saya menjelaskan bahwa saya adalah orang yang detail, karena salah pekerjaan di kantor adalah membuat Standard Operating Procedure (SOP) dan untuk penyusunan jadwal liburan dibantu oleh beberapa rekan.

Sambil menggelengkan kepada, akhirnya mereka mengatakan, "I'm proud of you!", dan yang lain menimpali, "Yes, I didn't see before like you", dan kemudian memberikan jabatan tangan serta tepukan pundak hangat, "Welcome to Amsterdam and happy holiday!"

Thank you God!

Visa Schengen via Italia - Fergie Time!

Setelah memiliki tiket penerbangan CGK-KL, KL-IST, IST-AMS, dan IST-KL, saya memutuskan untuk mengurus visa. Sedangkan visa Turki sudah saya peroleh secara online seharga USD 25. Adapun visa schengen, yang merupakan visa untuk 25 negara eropa hendak saya urus.

Perjalanan saya di Eropa dalam rentang 1 Oktober - 17 Oktober 2016, meliputi Istanbul (2 hari 1 malam), Amsterdam (3h2m), Brussels (2h1m), Paris (3h2m), Interlaken (3h2m), Milan (2h1m), Riomaggiore (3h2m), Pisa-Roma (3h2m), kembali ke Istanbul (2h1m).

Setelah saya membaca dari berbagai sumber termasuk buku perjalanan dan blog para traveler, dijelaskan bahwa pemilihan negara untuk pengajuan visa schengen berdasarkan dua hal yaitu negara yang pertama kali dikunjungi (Belanda), yang kedua adalah negara dengan durasi terlama dikunjungi (Italia). Setelah mempertimbangkan saya memilih pilihan pertama.

Mulailah saya mencari informasi cara mendaftar mengajukan visa schengen, dan informasi yang saya dapatkan adalah pengajuan visa melalui Vfs Global yang berlokasi di Kuningan City. Padahal tahun-tahun sebelumnya pengajuan visa dilakukan langsung melalui kedubes masing-masing negara di Jakarta. Akhirnya saya mendaftarkan diri melalui website dan mendapatkan janji temu 1 minggu setelah pendaftaran, yaitu 6 September 2016.

Pada tanggal yang ditentukan tersebut, saya datang ke Vfs Global, mengambil nomor antrian ke bagian Belanda. Saat nomor antrian saya dipanggil, petugas mengecek seluruh dokumen saya, kemudian bertanya beberapa hal terkait perjalanan saya, dan masuk ke dalam ruang belakang. Sekeluarnya petugas, dia menjelaskan bahwa Vfs Global tidak merekomendasikan saya mengajukan via Belanda, tetapi via Italia dengan argumentasi bahwa negara terlama yang saya kunjungi adalah Italia. Saya mencoba menjelaskan dan meyakinkan petugas, dan kemudian petugas berkata, "Kami tidak dapat menolak atau menyetujui pemohon visa yang diajukan, kami hanya menyarankan saja. Tetapi apabila Mas-nya tetap mau mendaftar via Belanda, silakan saja dicoba. Namun apabila ditolak uang pendafataran (+- IDR 1.2jt) tidak kembali." Setelah mendengar dengan seksama penjelasan petugas tersebut, saya memutuskan untuk mengikuti sarannya karena saya belum punya pengalaman mengurus visa schengen sebelumnya.

Setelah keluar dari kantor Vfs Global - tidak boleh menggunakan telepon di dalam kantor - saya langsung memesan jadwal di website Vfs Global via Italia, dan beberapa jam setelah itu masuklah email yang menuliskan jadwal pengumpulan dokumen saya adalah 16 September 2016 atau 2 minggu sebelum jadwal keberangkatan saya! Setelah itu saya langsung merespon email tersebut untuk mengajukan jadwal yang lebih cepat, tetapi hasilnya agak mengecewakan karena dinyatakan jadwal sudah penuh.

Pada 16 September 2016, saya kembali datang ke Vfs Global untuk mengumpulkan dokumen, setelah petugas melakukan pengecekan semua dokumen saya dinyatakan paripurna. Tak lupa saya menitipkan pesan agar proses pengajuan saya dipercepat mengingat waktu keberangkatan saya sudah mepet. Petugas menjelaskan bahwa umumnya proses visa selesai 5-8 hari kerja setelah permohonan diajukan kepada kedubes. Sambil membayar seluruh biaya-biaya pengajuan pembuatan visa, saya membeli fitur info via SMS seharga IDR 20rb, agar informasi dapat diperoleh tidak hanya melalui email.

Lima hari kerja (23 September 2016) berlalu tanpa adanya kabar. Kemudian saya mengirimkan email kepada Vfs Global, kemudian direspon bahwa visa masih dalam proses oleh kedutaan. Senin, 26 September 2016 (hari kerja ke- 6) juga tidak ada informasi lebih lanjut. Saya sendiri mulai was-was dan beberapa rekan dekat mulai menyangsikan realisasi liburan saya 😝

Selasa, 27 September 2016 (hari kerja ke- 7) sekitar pukul 09.45 saya mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal, dan saat saya angkat telepon tersebut dari Vfs Global dengan staf perempuan berinisial K. Dia menjelaskan bahwa saya diminta melengkapi kekurangan dokumen berupa itinerary dan tiket penerbangan dari Roma ke Istanbul. Saya sempat menjelaskan bahwa saya sudah mengumpulkan itinerary sejak awal, K hanya mengatakan bahwa dokumen tersebut diminta oleh kedutaan. Sedangkan tiket penerbangan Roma - Istanbul yang sebelumnya memang belum saya lengkapi, langsung saya pesan melalui salah satu perusahaan tur besar dengan cara booking tetapi tidak di issued. Hari itu juga, saya langsung menyerahkan sendiri kelengkapan dokumen ke kantor Vfs Global dan dilayani oleh staf laki-laki berinisial I, sambil menyerahkan dokumen saya bercerita dan menanyakan kepadanya apakah visa saya bisa keluar dalam waktu dekat, mengingat keberangkatan saya tinggal 4 hari lagi. I menjelaskan seharusnya bisa apabila kedutaan sering di follow up, dan I bersedia membantu saya untuk melakukan follow up.

Keesokan harinya Rabu, 28 Oktober 2016 (hari kerja ke-8) sekitar pukul 11.50 saya mendapatkan telepon kembali dari K, saya pikir telepon kali ini adalah pemberitahuan persetujuan visa, tetapi nampaknya saya keliru. K menjelaskan bahwa saya diminta melengkapi tiket KL-CGK, saya sangat terkejut sekaligus senang. Terkejut karena mengapa kedubes meminta dokumen sepotong- sepotong (tidak sekaligus semua), dan senang karena respon yang cepat dari kedutaan atas kelengkapan dokumen yang sudah saya serahkan satu hari sebelumnya. Tanpa pikir panjang saya memesan tiket "sementara" dari tur hanya untuk melengkapi syarat pengajuan.

Sesampainya di Vfs Global, tidak perlu menunggu lama bahkan tidak perlu mengantri seperti yang sudah-sudah saya langsung diminta menyerahkan dokumen. Nampaknya petugas keamanan dan para staf Vfs Global Italia sudah familiar dengan wajah saya. Terhitung saya sudah datang 4x ke Vfs termasuk hari itu. Saya dilayani oleh staf perempuan berinisial R, dan sama seperti kemarin saya juga bercerita dan meminta bantuan kepada Vfs untuk terus aktif melakukan follow up kepada kedutaan karena hari itu adalah hari rabu, sedangkan saya berangkat hari sabtu. Adapun baik Vfs Global maupun kedutaan buka hanya sampai dengan Jumat. Alhasil, saya hanya punya waktu 2 hari lagi. Saya pun bertanya kepada R, perihal bagaimana prosedur apabila saya menarik diri dari pengajuan dan meminta paspor saya kembali. Saya hanya berpikir bahwa, rencana B adalah saya tidak jadi ke Eropa Barat, tetapi hanya ke Turki saja. R menjelaskan bahwa saya harus membuat surat pembatalan pengajuan visa.

Ketika tiba di rumah sepulang bekerja, saya menyiapkan surat pembatalan sesuai saran R, sambil berharap bahwa besok akan ada informasi persetujuan visa schengen. Kamis, 29 Oktober tidak ada informasi apapun sampai dengan pukul 2 siang. Satu jam kemudian saya menghubungi Vfs Global via telepon, dan menanyakan kembali status visa saya, kebetulan yang menerima adalah I, dia menjelaskan bahwa kemungkinan besar visa saya akan disetujui besok hari (yaitu Jumat, 30 September 2016). Saya cukup senang mendengar informasi tersebut. Kemudian saya menanyakan kemungkinan apabila kabar belum didapatkan pada esok hari. I mengusulkan agar saya menyerahkan surat pembatalan pada jumat pagi ke Vfs Global agar dibawa oleh I. Jadi apabila saat I datang ke kedubes untuk menerima dokumen tidak terdapat nama saya, maka I akan menyerahkan surat tersebut kepada kedubes dengan harapan paspor saya dikembalikan.

Jumat, 30 September 2016 saya datang pukul 09.00 ke Vfs Global untuk menyerahkan surat pembatalan, setelah itu saya pergi kantor seperti biasa. Kira-kira pukul 11.00 saya memperoleh infomasi dari Vfs Global bahwa visa saya disetujui! Yeah! Dan saya harus mengambil paspor berisi visa Italia sebelum jam 4 sore.

Kalau boleh meminjam istilah pendukung Manchester United (meski saya bukan penggemar MU), inilah Fergie Time!

Sulaiman, Sang Resepsionis

Di Express Inci Hotel, saya dibantu oleh seorang resepsionis dan seorang karyawan hotel lainnya. Sang resepsionis cukup bisa berbahasa inggris. Setidaknya kami dapat saling berkomunikasi dengan lancar tanpa hambatan berarti. Saya sempat mengeluhkan kepadanya karena tidak ada penjemputan oleh bus penjemput hotel, dia menanggapinya dengan langsung mengecek ke layar komputernya, tetapi nampaknya pesanan saya tidak termuat di sana. Saya pikir, ya sudahlah, yang penting saya sudah tiba di hotel dengan selamat.

Setelah memberikan kabar kepada keluarga di rumah dan mandi, saya bersiap berkeliling daerah sekitar hotel, sekaligus saya juga ingin menukarkan mata uang Euro menjadi Lira, karena 20 Euro yang saya tukarkan di bandara menjadi 63 Lira terpakai 60 Lira untuk membayar mobil pengantar dari bandara ke hotel.

Sebelum keluar hotel, saya berdiskusi sejenak dengan sang resepsionis. Saya menanyakan tempat makanan yang direkomendasikan dan dia menyebutkan sebuah tempat, kemudian saya menanyakan lokasinya. Dia menjelaskan dengan cukup rinci, kemudian saya menanyakan apakah makanannya enak. Menurut dia makanannya enak. Kemudian saya bertanya lagi, apa menu favorit di sana. Dia menjelaskan pesan apa saja di sana enak. Saya melanjutkan bertanya kembali, apakah dia pernah makan di sana? Jawabannya adalah tidak. Hahahaha.
Saya juga mengatakan bahwa saya ingin menukarkan Euro menjadi Lira, dan dia merekomendasikan ke bank yang lokasinya hanya 2 blok dari hotel.

Akhirnya saya keluar hotel, kemudian mengaktifkan GPS offline dan berjalan ke arah yang sudah diinformasikan. Setelah 5 menit berjalan, saya sudah mencapai titik keramaian, banyak pertokoan di kanan kiri jalan, dan orang berlalu lalang di trotoar kanan dan kiri jalan. Pertama-tama saya mencari bank untuk menukarkan uang, tetapi nampaknya seluruh bank sudah tutup karena waktu menunjukkan pukul 5 sore waktu Istanbul. Saya terus berkeliling mencari tempat penukaran uang namun tetap belum menemukan, sampai saya menemukan mall bernama Armoni Park. Saya masuk ke mall tersebut berharap menemukan tempat penukaran uang. Saya berkeliling lantai dasar, sampai menemukan pusat informasi, saya bertanya, tetapi sang informan mengatakan bahwa di mall tersebut tidak ada penukaran mata uang.

Saya keluar mall dan kembali ke keramaian, mencoba menelusuri beberapa jalan yang lebih kecil, tetapi juga tidak menemukan. Akhirnya saya mencoba strategi baru yaitu dengan memasuki beberapa toko yang saya kira bisa menukarkan Euro, namun hasilnya tetap nihil. Saya mulai berjalan kembali ke arah hotel, sambil masuk beberapa toko untuk membeli kebab dan makanan lain menggunakan Euro, tetapi sang pemilik menolak.

Di satu toko furniture besar, saya kembali menanyakan apakah bisa menukarkan Euro, sang pemilik menggelengkan kepalanya. Saya mengatakan kepadanya bahwa semua bank sudah tutup, dan di mana tempat yang dia rekomendasikan. Kemudian dari dalam tokonya yang tertutup kaca, dia menunjuk ke arah seberang tokonya, saya menyebutkan satu per satu toko di seberangnya, namun tidak ada satupun yang sesuai dengan yang ditunjuk, kemudian dia menarik tangan saya dan menunjuk seorang bapak yang duduk persis di depan trotoar tokonya.

Sebelumnya saya sudah melihat bapak tersebut dengan meja kecilnya (kalau di Jakarta mirip tukang baterai jam di pinggir jalan) dan memiliki suatu alat/besi/mesin dengan banyak kertas menyangkut di hampir seluruh sisi alatnya dan dikelilingi beberapa laki-laki Turki yang sedang mengobrol dengan bapak tersebut. Saya berasumsi itu alat tersebut semacam fasilitas lotere. Akhirnya saya keluar toko tersebut, dan bertanya tentang menukarkan Euro. Dengan Bahasa Inggris yang sangat sangat minim dia menanyakan berapa banyak yang saya ingin tukarkan, saya menjawab hanya 20 Euro. Namun dia tidak memahaminya, kemudian saya mengeluarkan uang 20 Euro dari saku celana, dan dia mengambil secarik kertas dan menuliskan 33. Huff, saya mengernyitkan dahi sambil menggelengkan kepala (penukaran di bandara 20 Euro equivalen dengan 63 Lira). Kemudian bapak tersebut beragumen dengan bahasa Turki yang tidak satu kata pun saya pahami, kemudian teman di sampingnya mulai berkata-kata juga, karena melihat saya tidak mengerti yang dijelaskan bapak tersebut. Mungkin maksudnya membantu sang bapak menjelaskan kepada saya. Sayangnya sang teman juga menggunakan bahasa Turki. Fiuhh.

Saya kemudian meninggalkan mereka berdua dengan mengucapkan terima kasih. Saya berjalan ke arah hotel tempat saya menginap karena saya mulai kehausan setelah berjalan kurang lebih 1.5 jam. Karena tidak punya Lira saya tidak bisa membeli apapun. Udara pun makin terasan semakin dingin, rasa-rasanya sekitar 20 derajat celcius. Sesampainya di hotel saya kembali berbicara dengan resepsionis tentang perjalanan singkat saya barusan, dan sang resepsionis mau membantu saya menukarkan uang dengan temannya. Saya sangat senang karena sang resepsionis sangat ringan tangan. 

Ups, ternyata saya belum mengetahui namanya, kemudian saya menanyakan namanya, dan dia melafalkan namanya, saya mengulangi penyebutannya, "Surelman?", dia menyebutkan namanya kembali, saya menyebutkan kembali, "Suriman?", Lagi lagi saya salah, dia menyebutkan kembali, saya berhenti beberapa detik untuk berpikir sejenak, tiba-tiba muncul di otak saya (mungkin Sulaiman). Akhirnya saya sebut, "Sulaiman?", dan dia menjawab, "Yaa", Hahahaha. Kami pun berjabat tangan. Akhirnya saya bilang kepadanya bahwa saya ingin beristirahat karena penerbangan saya ke amsterdam pukul 6 pagi esok hari. Kemudian Sulaiman menjelaskan bahwa saya harus berangkat dari hotel sejak pada pukul 3 pagi. Tak lupa saya minta tolong untuk dipesankan taksi untuk besok subuh, dan dia mengiyakan.

Saya menuju kamar menggunakan lift, di dalam lift saya masih memikirkan nama Sulaiman karena dari 3x pelafalan namanya semua terdengar ada huruf "r" di bagian tengah namanya. Tetapi ya sudahlah...

Di kamar, saya membereskan kembali barang-barang saya untuk keberangkatan esok pagi, kemudian mempelajari kembali rencana perjalanan selama di Amsterdam. Namun baru lima menit belajar, saya sudah merasakan kantuk yang hebat, mengingatkan lagi bahwa saya belum tidur di hari Jumat (malam Sabtu) karena mempersiapkan seluruh pesanan hotel dan kereta selama di Eropa, agak mepet memang karena Visa Schengen saya juga baru disetujui hari jumat siangnya alias H-1 sebelum keberangkatan!

Tepat pukul 2.30 saya bangun, bersiap, dan turun ke lobi untuk checkout. Kemudian sang resepsionis (bukan Sulaiman) memesankan taksi. Saya menaiki taksi berwarna kuning dan langsung menuju ke bandara. Sesampainya di bandara saya melihat argo taksi, ternyata hanya 15.13 lira. Saya mengeluarkan pecahan uang 50 Lira dan dikembalikan oleh supir taksi sebesar 35 lira, tak lupa saya mengucapkan, "tessekurler!"

Ataturk (Istanbul), Ramahkah?

Setibanya di bandara Ataturk, saya mengecek utk mendapatkan wifi gratis, sayangnya tidak tersedia. Kemudian saya memutuskan untuk menukarkan uang Euro ke Lira, setelah itu saya segera bergegas menuju ke luar airport sambil melihat sekeliling dan mengharapkan ada penjemput menuliskan nama saya di secarik kertas yang dipamerkan, tetapi apa daya dari banyaknya penjembut membawa papan nama tidak ada satu pun nama saya. Saya sangat mengharapkan adanya fasilitas penjemputan karena sebetulnya di hotel tempat saya menginap menyediakan jasa shuttle bus dari dan ke bandara, dan kebetulan saya sudah memesannya melalui laman hostelworld.com saat pemesanan.

Akhirnya saya berkeliling di area lantai tersebut untuk melihat-lihat sambil berpikir cara menuju ke hotel. Belum lima menit di berputar-putar, seorang bapak mendekati saya dan kemudian memanggil saya "brader" serta berbicara dalam bahasa Inggris yang tidak terlalu jelas (mungkin aksen Turki). Inti pembicaraan bapak tersebut yang saya tangkap adalah menjelaskan bahwa ada saudaranya yang masuk rumah sakit dan dia meminta bantuan. Saya langsung memotong penjelasan bapak tersebut dengan kata "sorry" sambil meninggalkan bapak tersebut. Fiuhh.

Setelah meninggalkan bapak tersebut, saya mencari tempat duduk, sambil mencoba menenangkan diri, mengingat bahwa kejadian tersebut berlangsung di bandara - yang seharusnya merupakan tempat aman bagi turis - nyatanya tidak juga. Saya duduk kurang lebih selama setengah jam sambil memikirkan kembali langkah mencapai hotel. Tidak jauh dari tempat saya duduk, terdapat pusat informasi dan saya menjelaskan kepada petugas bahwa pihak hotel tidak melakukan penjemputan sebagaimana mestinya, tetapi dijawab singkat dan tegas oleh petugas, "Just call your hotel". Akhirnya, saya mencoba menggunakan telepon umum yang berada tidak jauh dari pusat informasi, tetapi petunjuknya dalam bahasa Turki, dan gambar yang menjelaskan cara penggunaan tidak saya pahami juga.

Setelah itu karena mental saya agak shock karena pembicaraan singkat dengan si bapak "brader" dan saya kurang yakin apabila menggunakan taksi yang tersedia di luar bandara, saya menyewa mobil (shuttle) dari bandara ke hotel dengan biaya tidak kurang dari 60 Lira. Sebetulnya saya sudah mencoba menawar, tetapi pemilik usaha mobil sewa menyatakan tetap tidak bisa menurunkan tarif lagi. Padahal saya menginap di hotel seharga "hanya" 74 Lira per malam. Hiks.

Singkat cerita saya diantar menggunakan mobil (serupa dengan Nissan Serena), dan seperti biasa sang supir sok akrab menanyakan saya. Sejalan dengan percakapan tersebut, saya sambil mengaktifkan GPS offline. Sang supir juga menggunakan GPS dari gawainya. Asyik mengobrol, saya mengatakan kepada supir bahwa hotel yang kita tuju sudah terlewat sambil menunjukkan GPS saya, sang supir menjelaskan bahwa hotel yang dituju masih berada di depan, dan akan sampai dalam beberapa ratus meter lagi. Jantung saya agak berdegup kencang karena saya berkeyakinan GPS saya menyajikan informasi yang benar. Akhirnya saya pasrah, dan berusaha tenang karena selama 10 menit perjalanan sebelumnya sang supir orang yang nice.

Lima menit kemudian sang supir meminggirkan mobil sambil menunjukan jari telunjuknya ke arah hotel bertuliskan "Inci Hotel". Kemudian sambil melihat ke arah hotel saya mengangguk ke supir, karena memang betul bahwa itu nama hotel saya dan kebingungan saya sirna sesaat tentang ketidaksesuaian alamat dengan GPS. Akhirnya saya turun, dan supir menurunkan koper saya, kemudian dia meminta tips serelanya. Saya menjelaskan bahwa saya sudah membayar cukup mahal untuk perjalanan ke hotel dengan jarak yang cukup dekat dari bandara. Namun supir menjelaskan bahwa uang yang saya bayarkan adalah untuk perusahaan. Sedangkan dia tidak memaksa apabila saya tidak mau memberikan tips. Akhirnya saya hanya menjabat tangannya dan bilang terima kasih banyak.

Saya masuk ke hotel dan memberikan secarik kertas kode booking. Betapa kagetnya saya ketika sang petugas hotel mengatakan bahwa hotel yang saya pesan bukanlah hotel di tempat saya berada. Saya langsung berlari ke depan hotel meninggalkan koper saya, untuk mengecek apakah supir masih ada. Puji Tuhan, supir masih ada dan sedang merapikan mobilnya. Saya menghampirinya dan menjelaskan kepadanya bahwa hotel yang saya pesan adalah hotel yang sesuai dengan GPS. Tidak lama seelah itu petugas hotel keluar hotel menuju tempat saya dan supir berada sambil menenteng koper yang saya tinggalkan di lobi hotel. Sang petugas hotel menjelaskan sambil menunjuk ke arah kedatangan kami kepada supir dalam bahasa Turki. Bersamaan dengan itu saya memperlihatkan kembali bukti pesan saya, tertulis "Express Inci Hotel", ada kata "Express"-nya.

Sang supir meminta saya masuk kembali ke mobil untuk menuju hotel yang dimaksud. Kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya saya sampailah saya di hotel yang dituju, dan ketika sang supir menurunkan koper saya kedua untuk kalinya dari mobilnya, saya mengucapkan terima kasih banyak sambil memberikan tips sebesar IDR 10rb, sang supir tersenyum lebar seraya mengucapkan terima kasih.