Thursday, October 6, 2016

Teman Sekamar

Satu malam di Belgia, teman sekamar saya adalah orang Belgia, kebetulan saya tidak menanyakan mengapa orang Belgia tinggal di hotel (bukan di rumah atau apartemen). Sebut saja namanya Sibel. Menurut perkiraan saya Sibel adalah laki-laki berumur sekitar 40 tahun. Sedangkan hobinya adalah travelling. Dalam setahun dia bepergian selama 4 bulan bahkan lebih. Sibel sudah pernah mengunjungi Armenia, Azerbaizan, Ukraina, Vietnam dan negara-negara lain yang tidak menjadi pilihan utama (favorit) dalam berwisata. Bahkan Sibel sedang bersiap untuk mengunjungi Panama, Kosta Rika, dan negara lain di sekitarnya di minggu depan. Ketika saya tanyakan mengapa Sibel memilih negara-negara tersebut dan apa tujuannya? Sibel menjawab singkat bahwa dia memilih negara-negara tersebut karena murah berwisata di sana, dan Sibel bisa menghabiskan waktu sampai dengan 1-2 bulan di satu negara untuk benar-benar mengenal kebudayaan tersebut. Seperti negara-negara yang saya telah sebutkan di atas, Sibel menjelaskan karakteristik secara umum masyarakat di masing-masing negara tersebut. Kemudian saya juga menanyakan kepadanya apakah Sibel  pernah mengunjungi Indonesia? Ternyata belum pernah. Saya langsung berpikir, inilah kesempatan saya untuk berpromosi untuk Indonesia 😁

Seperti yang pernah saya baca di beberapa artikel, biasanya turis asing khususnya Amerika dan Eropa lebih mengenal Bali dibandingkan Indonesia. Jadi, misi promosi saya buka dengan pertanyaan apakah Sibel pernah mengetahui tentang Bali, dan benar saja Sibel mengetahui Bali (meskipun belum pernah ke sana), tetapi tidak terlalu tahu Indonesia. Akhirnya mulailah saya cas cis cus tentang Indonesia tentunya dengan segala keterbatasan Bahasa Inggris saya. Setelah saya menjelaskan dengan cukup komprehensif (menurut saya), Sibel menanggapi dengan ringan, kurang lebih seperti ini, "wah sepertinya 3 bulan tidak akan cukup mengenal seluruh kebudayaan Indonesia." Sontak saya tertawa geli. Ya itulah Sibel, yang mengaku hobinya adalah pesta (party) dan minum alkohol.

Adapun ketika saya bermalam di Paris, rekan sekamar saya orang USA, sebut saya Sius. Berbeda dengan orang Eropa yang mana Bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu, Sius yang tulen orang USA berbahasa Inggris cas cis cus, sehingga membuat saya selalu mengernyitkan dahi setiap berbicara dengannya. Lebih-lebih Sius sangat bawel dan terus mengajak saya berbicara. Padahal saya yang sudah lelah di kamar dan ingin santai, tetapi dipaksa berpikir keras mencerna pembicaraan Sius. Saya hampir frustasi dan ingin meminta pindah kamar rasanya. Dasar yengki! Hahahaha.

Huuf, sepertinya lain kali saat memesan hotel ada baiknya mengetahui rekan kamar dari negara mana 😆

Peace & say no to racism!

No comments:

Post a Comment