Wednesday, October 12, 2016

Keindahan Interlaken

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Paris (07.44), akhirnya saya tiba di Interlaken, Swiss (15.30). Rasa capek seakan pergi meninggalkan tubuh ini saat menyaksikan keindahan alam Swiss, khususnya Interlaken. Hamparan gunung, rumput hijau, air mengalir, kawanan ternak, danau, suasana dan rumah tradisional, menjadi santapan legit kedua bola mata saya.


Interlaken (1)
Interlaken (2)


Berdasarkan informasi dari Google, Interlaken merupakan salah satu wisata terbaik di dunia khususnya untuk para penggemar olahraga outdoor seperti naik gunung, paraseling, ski, dll. Udara yang dingin, penduduk kota yang ramah, fasilitas bus gratis untuk turis, keindahan alam yang mengaggumkan membuat harga-harga yang agak mahal di Interlaken sedikit banyak terbayar.


Interlaken (3)
Kereta Menuju Harder Kulm












Keesokan harinya saya bangun pagi dan beranjak ke Harder Kulm atau Puncak Interlaken. Dalam menggapai puncak turis harus menaiki kereta rel yang berjalan dalam kemiringan sudut sekitar 60 derajat. Adapun harga untuk menaiki kereta tersebut adalah sebesar 30 Euro, dan karena saya memiliki kartu diskon dari hotel saya menginap, saya cukup membayar 20 Euro saja untuk bolak-balik dari bawah-ke atas-ke bawah lagi. Namun sayang sekali, hari itu kondisi cuaca kurang mendukung karena sedang berkabut. Saat saya mencapai puncak, jalan di puncak di selimuti kabut sehingga tidak dapat memandang ke bawah.


Penuh Kabut di Harder Kulm
Interlaken (4)


Interlaken (5)
Interlaken (6)



















Setelah dari Harder Kulm, saya melanjutkan perjalanan ke Stasiun Interlaken Ost, untuk menuju Grindewald. Sesampainya di Grindewald, saya kembali menikmati pemandangan alam, bentuk-bentuk rumah ataupun hotel, dan beberapa taman di sana.

Grindewald (1)
Grindewald (2)












Indonesia
Sebetulnya Indonesia keindahan alam di Indonesia tidak kalah dengan di Swiss, misalnya (yang saya tahu) di Padang ataupun Papua, tetapi sayangnya belum banyaknya promosi, infrastruktur, dan teknologi yang diinvestasikan pemerintah membuat daerah wisata yang bagus belum mendunia.

Keramahan Swiss

Berbeda dengan warga Perancis yang umumnya begitu egoistis dan tidak ramah terhadap turis. Dinginnya cuaca di Swiss tidak lantas sejalan dengan sikap warga Swiss. Setelah berinteraksi dengan petugas di stasiun Basel, petugas tiket kereta, saya menyimpulkan bahwa warga Swiss sangatlah ramah dan mudah memberikan senyum. Puncaknya yaitu ketika saya menanyakan kepada sepasang kakek nenek, apakah saya telah menaiki kereta yang tepat menuju stasiun Interlaken West, kakek tersebut menjelaskan bahwa saya telah menaiki kereta yang benar dan juga menjelaskan bahwa saya harus turun setelah 6 stasiun. Tidak hanya itu, kakek juga menambahkan apabila saya terlewat karena ketiduran di kereta ke stasiun berikutnya yaitu Interlaken East, saya tidak perlu khawatir dan bukan berarti tragedi karena saya bisa kembali lagi ke stasiun Interlaken West dengan cepat karena jarak antara stasiun tersebut hanya sekitar 2 km. Setelah penjelasan komprehensif tersebut saya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Kemudian saya mencari tempat duduk tepat di seberang kanan pasangan kakek nenek tersebut. Kereta yang saya naiki memiliki 4 tempat duduk yang saling berhadapan sehingga membentuk kubikal dengan meja kecil di tengahnya. Jadi saya duduk di sebelah kubikal kakek nenek tersebut (berbeda kubikal namun bersebelahan). Setelah percakapan tersebut, saya pergi menuju toilet kereta dengan membawa seluruh tas saya. Ketika kembali dari toilet, kubikal yang saya tempati sudah diisi oleh sepasang muda mudi. Saya tidak ambil pusing karena masih banyak kursi lain yang masih kosong. Jadi saya hanya melewati tempat saya duduk di awal dan juga artinya melewati tempat duduk kakek nenek tersebut, untuk menempati tempat duduk di depan kubikal kakek nenek tersebut. Setelah melihat saya, sang nenek agak kaget dan ingin berusaha memberitahukan kepada sepasang muda mudi tersebut bahwa tadinya tempat tersebut adalah tempat saya. Kemudian saya mengatakan kepada sang nenek bahwa saya baik-baik saja dengan tempat duduk yang baru. Akhirnya sang nenek hanya tersenyum. Saya pun membalas senyuman kakek nenek tersebut. 

Di stasiun ke-3 kakek dan nenek tersebut bergegas turun. Dan sebelum turun mereka pamit ke saya dan mengatakan bawah mereka akan turun, dan mengingatkan kembali bahwa saya harus turun 3 stasiun lagi jaraknya. Selain itu, kakek tersebut juga menyarankan agar saya berpindah ke tempat duduk yang dia tempati barusan karena dari tempat duduk tersebut saya dapat menikmati pemandangan termasuk danau. Ya Tuhan, terima kasih atas keramahan ini, tidak terkira nilainya.

"Terima kasih kek, terima kasih nek. Saya mendoakan kakek dan nenek selalu diberikan kesehatan dan umur panjang. Sampai jumpa.", doaku di dalam hati.

Romantisme Paris

Kota Paris merupakan ibukota Perancis, wajar apabila Paris merupakan kota yang sangat sibuk baik lalu lalang kendaraan maupun manusia yang beraktivitas di kota tersebut. Namun harus diakui bahwa Paris memiliki banyak taman kota dan tidak sedikit yang memiliki luas lahan sebesar lahan monas. Memang tidak mudah berwisata di Paris seorang diri, meskipun ada peta khusus turis dan trotoar yang mendukung di seluruh tempat, mengingat paris yang cukup luas dibandingkan Amsterdam dan Brussels, desain kota yang tidak terlalu teratur, serta tidak banyaknya perunjuk arah di jalan - jalan, sehingga untuk menggapai seluruh objek wisata di Paris sangat rawan tersasar san tidak cukup digapai hanya dengan berjalan kaki tetapi juga harus menggunakan moda transportasi di sana seperti Metro ataupun RER. Metro memiliki jalur di dalam Paris. Sedangkan RER menjangkau wilayah penyangga Paris.

Paris (1)
Paris (2)

Saya sendiri mengelilingi Paris dengan dibantu dengan seorang teman, yaitu N (seorang WNI yang sudah tinggal di Paris hampir 2 tahun). N banyak bercerita tentang keterbukaan pikiran Pemerintah Perancis sedari dulu mengenai persamaan hak setiap manusia. Hal ini berkaitan dengan banyaknya imigran yang boleh datang ke Perancis setiap tahunnya. Namun tetap pada kuota tertentu. Para imigran tidak hanya boleh menetap dan ke depan menjadi warga negara, lebih dari itu pemerintah juga membina, mengayomi, mempersiapkan parah imigran ini dengan bekal-bekal pengetahuan dan keterampilan sehingga bisa berguna serta mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal ini terus dipantau oleh pemerintah sampai dengan imigran tersebut mandiri dan dapat menghidupi dirinya sendiri serta keluarganya. Tidak luput juga pemberian fasilitas kesehatan yang layak untuk para imigran.
Paris (3)
Paris (4)

Paris (5)
Paris (6)

Seperti halnya orang Belanda yang mengklaim bahwa keju mereka adalah yang terbaik, orang Perancis juga mengklaim bahwa keju terbaik berasal dari Perancis. Entah mana yang benar 😄

Banyak orang mengatakan bahwa Paris adalah kota yang romantis. Saya mencoba mencari tahu mengenai hal ini dari N dan memperoleh informasi mengapa Paris mendapatkan predikat tersebut. Entah sejak kapan, warga Perancis khususnya Paris sudah menganggap hal lumrah dengan hal-hal yang berbau seksualitas dan sensualitas. Hal ini ditandai dengan adanya beberapa rumah pertunjukan kabaret yang mengeksplorasi sensualitas kaum hawa. Hal kedua adalah banyak warga Paris baik dari dalam maupun luar negeri tidak canggung memamerkan kemesraannya di manapun termasuk di pinggir jalan. Terakhir, pada malam hari Paris memiliki banyak lampu-lampu cantik yang seolah mendandani kota ini sehingga semakin menambah aroma romantis tersebut.

Thursday, October 6, 2016

Serba - serbi Mengurus Visa Schengen

Saat ini banyak pengajuan visa schengen yang pengajuannya diserahkan melalui pihak ketiga (bukan kedutaan langsung), seperti Belanda, Spanyol, Italia, Perancia, Kroasia, Denmark, Swiss, dll. Pihak ketiga yang saya maksudkan adalah Vfs Global, yaitu perusahaan independen yang dipilih oleh kedutaan-kedutaan tersebut sebagai "checker" kelengkapan dokumentasi. Vfs Global hanya bertugas mengecek kelengkapan dokumen, mengumpulkan dokumen para pengaju ke kedutaaan, dan menginformasikan apabila visa disetujui ataupun ditolak. Sedangkan kewenangan pemberian atau penolakan visa sepenuhnya ada di kedutaan masing-masing. Adapun belum seluruh negara (25 negara visa schengen) mempercayakan fungsi "checker" kepada Vfs Global, pada saat tulisan ini ditulis, yang saya ketahui pengajuan visa schengen Polandia masih langsung melalui kedutaan di Jakarta.Beberapa informasi penting yang dalam mengurus visa schengen:


  1. Ajukanlah visa schengen 3 bulan sebelum tanggal keberangkatan.
  2. Pilihlah salah satu negara Eropa terlama yang disinggahi untuk pengajuan visa schengen.
  3. Apabila tidak ada negara terlama untuk disinggahi (semua negara sama jangka waktunya), pilih negara pertama yang disinggahi.

Selama pengajuan visa schengen diajukan 3 bulan sebelum keberangkatan, mengikuti 3 poin di atas sudahlah lebih dari cukup. Namun apabila pengajuan visa sudah agak mepet, misalnya 2 minggu sebelum keberangkatan (seperti saya), maka berikut adalah tambahan informasi yang perlu dipertimbangkan. Beberapa poin penting yang hendak saya bagikan berdasarkan pengalaman pribadi saya mengurus visa schengen sendiri melalui Vfs Global (tanpa lewat tour & travel):


  1. Pilih negara yang pengajuan visanya langsung melalui kedutaan, sehingga kelengkapan dan keputusan dapat langsung dari pemutus (kedutaan) kepada pemohon, tidak melalui orang/ lembaga lain.
  2. Carilah informasi negara mana yang tidak sedang dalam musim liburan (high season), sehingga keputusan terhadap pengajuan visa bisa diperoleh lebih cepat.
  3. Terkait dengan 2 poin di atas, sangat dimungkinkan negara yang akan/ seharusnya dikunjungi tidak masuk/ sesuai/ pas dengan saran saya di atas. Solusinya adalah, buatlah itinerary bayangan dan tiket pesawat bayangan. Toh visa schengen bisa digunakan di 25 negara Eropa.

Adapun biaya pembuatan visa schengen di Vfs Global untuk semua negara hampir sama, yaitu tidak lebih dari IDR 1.3jt (sudah termasuk jasa Vfs Global).Pengalaman saya dalam mengajukan Visa Schengen Italia saya tuliskan dalam artikel lainnya berjudul Visa Schengen via Italia - Fergie Time!.

Brussels

Tidak ada yang terlalu spesial di Brussels. Sebuah kota yang tenang dengan wafelnya yang enak tetapi juga tidak spesial. Suhu udara di Brussels mirip dengan di Amsterdam, tetapi polusi udara begitu terasa menyengat di hidung ketika berjalan kaki di tengah kota. Banyak sekali mobil di jalan-jalan sampai menimbulkan kemacetan (meskipun tidak separah Jakarta). Sedangkan sepeda lebih sedikit dibandingkan mobil. Ada kereta dan ada metro (entah apa bedanya diantara keduanya). Belakangan saya baru tahu perbedaanya dari teman sekamar yang merupakan warga negara Belgia. Kereta digunakan untuk transportasi antar kota, sedangkan metro untuk dalam kota. Selain itu ada juga bus panjang (penampakannya mirip dengan transjakarta koridor 1 bermerk Scania/Zangdong). 

Brussels (1)
Brussels (2)
Brussels (3)

Brussels (4)

Ada pemandangan unik yaitu lumayan banyaknya pengemis di pinggiran toko, bahkan ada pengemis yang sudah bersiap mengemis di depan pintu masuk/ keluar sebuah bank. Begitu juga di  stasiun metro, bahkan di dalam metro, ada pengemis berkeliaran!

Menurut peta gratis untuk turis, bahasa yang digunakan di Belgia adalah Bahasa Perancis dan Belanda, bahkan kedua bahasa tersebut sering digunakan bercampur-campur dalam sebuah percakapan. Haduh, kayaknya saya teringat sebagian kecil orang Indonesia ya yang suka campur-campur berbicara dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris 😂

Teman Sekamar

Satu malam di Belgia, teman sekamar saya adalah orang Belgia, kebetulan saya tidak menanyakan mengapa orang Belgia tinggal di hotel (bukan di rumah atau apartemen). Sebut saja namanya Sibel. Menurut perkiraan saya Sibel adalah laki-laki berumur sekitar 40 tahun. Sedangkan hobinya adalah travelling. Dalam setahun dia bepergian selama 4 bulan bahkan lebih. Sibel sudah pernah mengunjungi Armenia, Azerbaizan, Ukraina, Vietnam dan negara-negara lain yang tidak menjadi pilihan utama (favorit) dalam berwisata. Bahkan Sibel sedang bersiap untuk mengunjungi Panama, Kosta Rika, dan negara lain di sekitarnya di minggu depan. Ketika saya tanyakan mengapa Sibel memilih negara-negara tersebut dan apa tujuannya? Sibel menjawab singkat bahwa dia memilih negara-negara tersebut karena murah berwisata di sana, dan Sibel bisa menghabiskan waktu sampai dengan 1-2 bulan di satu negara untuk benar-benar mengenal kebudayaan tersebut. Seperti negara-negara yang saya telah sebutkan di atas, Sibel menjelaskan karakteristik secara umum masyarakat di masing-masing negara tersebut. Kemudian saya juga menanyakan kepadanya apakah Sibel  pernah mengunjungi Indonesia? Ternyata belum pernah. Saya langsung berpikir, inilah kesempatan saya untuk berpromosi untuk Indonesia 😁

Seperti yang pernah saya baca di beberapa artikel, biasanya turis asing khususnya Amerika dan Eropa lebih mengenal Bali dibandingkan Indonesia. Jadi, misi promosi saya buka dengan pertanyaan apakah Sibel pernah mengetahui tentang Bali, dan benar saja Sibel mengetahui Bali (meskipun belum pernah ke sana), tetapi tidak terlalu tahu Indonesia. Akhirnya mulailah saya cas cis cus tentang Indonesia tentunya dengan segala keterbatasan Bahasa Inggris saya. Setelah saya menjelaskan dengan cukup komprehensif (menurut saya), Sibel menanggapi dengan ringan, kurang lebih seperti ini, "wah sepertinya 3 bulan tidak akan cukup mengenal seluruh kebudayaan Indonesia." Sontak saya tertawa geli. Ya itulah Sibel, yang mengaku hobinya adalah pesta (party) dan minum alkohol.

Adapun ketika saya bermalam di Paris, rekan sekamar saya orang USA, sebut saya Sius. Berbeda dengan orang Eropa yang mana Bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu, Sius yang tulen orang USA berbahasa Inggris cas cis cus, sehingga membuat saya selalu mengernyitkan dahi setiap berbicara dengannya. Lebih-lebih Sius sangat bawel dan terus mengajak saya berbicara. Padahal saya yang sudah lelah di kamar dan ingin santai, tetapi dipaksa berpikir keras mencerna pembicaraan Sius. Saya hampir frustasi dan ingin meminta pindah kamar rasanya. Dasar yengki! Hahahaha.

Huuf, sepertinya lain kali saat memesan hotel ada baiknya mengetahui rekan kamar dari negara mana 😆

Peace & say no to racism!

Tuesday, October 4, 2016

Bedankt Netherlands!

Christian Shelter di Red Light District
Red Light District (1)
Saya menginap di Christian Shelter, yang terletak di red light district di Kota Amsterdam. Sejujurnya sedari awal memesan hotel ini saya mengabaikan informasi terkait frasa "red light district" dan hanya berfokus pada frasa "christian shelter", tetapi saat baru tiba dari Amsterdam Centraal dan mencari hostel ini, saya baru sadar bahwa yang dimaksud dengan red light district, benar-benar red! Hahahaha, karena para perempuan menjajakan dirinya di tempat semacam ruko-ruko dengan pintu dan kaca transparan dengan pakaian yang sangat-sangat minim. Dan apabila kita menoleh ke arah ruko tersebut, maka perempuan tersebut akan menatap dengan tajam dan mencoba menggoda, dan berdasarkan informasi dari Sandeman Tour, tarif minimum kencan adalah sebesar 50 Euro, wow!


Red Light District (2)
Red Light District (3)

Christian Shelter (1)
Christian Shelter sendiri merupakan hostel non profit, yang dikelola satu orang karyawan bernama Taka, seorang ex Jepang yang sudah tinggal di Belanda selama 18 tahun dan menikah dengan perempuan Belanda, sehingga Taka sudah menjadi warga negara Belanda. Taka dibantu oleh banyak sukarelawan. Para sukarelawan merupakan mahasiswa ataupun mahasiswi yang sedang belajar di Amsterdam. Adapun asal negara mereka bermacam-macam, ada yang dari Belanda, Polandia, Jerman, USA, Slovenia, dll. Para sukarelawan bergantian secara paruh waktu mengerjakan seluruh pekerjaan hostel termasuk pekerjaan administratif, memasak, mengepel, sampai dengan membersihkan toilet.
Christian Shelter (2)


Christian Shelter (3)
Christian Shelter Volunteers
Saya menyempatkan mengobrol dan makan siang bersama dengan Taka dan beberapa sukarelawan. Kesan saya adalah mereka sangat hangat dan bersahabat. Sebetulnya malam itu saya diundang untuk mengikuti persekutuan mereka pada pukul 19.30 waktu Amsterdam, tetapi karena terlalu lelah, saya memutuskan untuk tidur.

Sandeman Tour
Apabila bepergian ke negara-negara Eropa bukan melalui tur, saya menyarankan untuk mendaftarkan diri mengikuti Sandeman Tour melalui internet. Sandeman Tour memiliki beberapa paket tur yang berbeda-beda di setiap negara yang disesuaikan dengan ciri khas masing-masing negara. Namun ada kesamaan Sandeman Tour di seluruh negara, yakni adanya tur gratis. Misalkan, kalau di Belanda, Amsterdam Tour (Free), Red Light District Tour (... Euro), Bicycle Tour (...Euro), dll. Saya sendiri mengikuti Amsterdam Tour yang tidak berbayar, tetapi pada akhir tur, seluruh peserta tur memberikan tips secara sukarela kepada tour guide.


with Sanderman Tour Leader

Desain Kota

Amsterdam (1)
Berdasarkan informasi dari Sandeman Tour, Kota Amsterdam memang didesain sejak dahulu kala sebagai kota pejalan kaki dan pesepeda, sehingga seluruh jalan mendukung terutama untuk dua jenis moda transportasi tersebut. Sedangkan transportasi masal seperti kereta, trem, dan bus digunakan hanya untuk mendukung transportasi yang tidak bisa dijangkau melalui berjalan kaki maupun bersepeda. Adapun motor dan mobil sangat terbatas jumlahnya. Udara yang bersih dan suhu yang sejuk (sekitar 15 derajat celcius pada musim gugur) tidak membuat keringat bercucuran saat mengendarai sepeda bahkan apabila menggunakan jas sekalipun.



Amsterdam (2)
Amsterdam (3)



Amsterdam (5)
Amsterdam (4)
Amsterdam (6)














Gaya Mengendarai

Pesepeda jumlahnya sangat banyak di Amsterdam, dan mereka mengendarai sepeda dengan kecepatan tinggi (untuk ukuran sepeda), sehingga pejalan kaki seperti saya harus terus berhati-hati kala menyeberang jalan. Pesepeda juga menggunakan bel sepeda ataupun siulan mulut untuk mengingatkan pejalan kaki agar tidak menghalangi jalan mereka.
Sama halnya dengan pesepeda, banyak dari pengendara motor dan mobil juga mengendarai dengan kecepatan yang tinggi. Tidak jarang terdengar bunyi gas yang begitu besar (digeber) dan juga rem pakem saat mobil atau motor menahan lajunya. Namun selama saya di Amsterdam, saya belum pernah menyaksikan adanya kecelakaan.

Sepeda di Amsterdam

Handphone
Pengamatan singkat saya selama di Eropa ialah dari kurang lebih sepuluh pengguna iphone yang saya lihat, delapan diantaranya menggunakan iphone 5, dan dua lainnya sudah menggunakan iphone 6. Dan menariknya, mayoritas jumlah pengguna iphone 5 adalah anak remaja dan anak muda! Sangat kontras dengan di Indonesia, khususnya Jakarta.


Zaanse Schans
Merupakan daerah pinggiran Amsterdam yang melestarikan kincir angin, yang mana saat ini hanya dimanfaatkan sebagai tempat wisata (kincir angin sudah tidak dipergunakan untuk tujuan awal). Daerah ini sangat asri dan indah karena menawarkan kesederhanaan layaknya sebuah desa tradisional Belanda.


Wind Mill (1)
Wind Mill (2)
Wind Mill (3)

Pada saat saya tiba di Zaanse Schans, cukup banyak turis mancanegara yang sedang mengunjungi daerah tersebut menggunakan tur. Mereka memasuki salah satu rumah toko dan juga difungsikan sebagai museum, saya mencoba mengikuti mereka, tetapi ternyata harga tiket masuk rumah tersebut agak mahal buat saya yaitu 4 Euro, yang mana belum terlalu jelas juga bagi saya apa yang dapat dilihat di dalam rumah tersebut. Rumah tersebut terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian halaman depan, ruang tengah (toko), ruang belakang (museum). Tiba-tiba terpikirlah suatu trik, saya membeli coklat panas seharga 2 Euro di toko tersebut. Setelah membayar coklat panas dan mengobrol akrab dengan sang nenek penjual, saya minta izin untuk duduk dan minum di dalam museum (ruang ketiga). Namun sang nenek menjawab dengan tegas dan sopan, "kamu tidak boleh duduk di dalam, duduklah di luar". Hahahaha, (ampun nek, dalam hati saya). Akhirnya saya duduk di luar, dan trik saya pun gagal total.

Toilet
Beberapa toilet yang saya gunakan di tempat umum, seluruhnya menggunakan mesin untuk masuk ke dalamnya. Dengan memasukan uang koin seharga 0.7 Euro (equivalen 10.500 IDR), pintu/gerbang dapat terdorong (pintu/gerbang yang dimaksud adalah seperti pintu/gerbang di halte transjakarta/ stasiun commuterline saat kita menempelkan kartu sebelum masuk). Mahalnya harga masuk toilet membuat saya sedikit menyesal setelah masuk toilet, namun apa daya kalau sudah kebelet. Setelah buang air kecil, biasanya saya merasa "tidak rela" apabila langsung keluar toilet, tapi juga tidak bisa buang air besar karena bukan jadwalnya. Sedangkan mandi pun tidak memungkinkan dan terlalu berlebihan. Jadi saya hanya maksimalkan untuk mencuci tangan dengan sabun, dan mencuci muka. Ya, sudah maksimal.