Tuesday, May 26, 2015

Commuterline, Transjakarta, dan Sepeda Motor

Sepeda Motor
Meskipun terlahir di Jakarta, dari kecil hingga tahun 2011 (kuliah semester awal), orangtua dan saya tinggal di Bekasi. Pertengahan tahun 2011, keluarga saya pindah ke Jakarta, yaitu Cempaka Mas, Jakarta Pusat. Namun karena berbagai alasan, salah satunya kecintaan saya terhadap Pocky (anjing yang saya pelihara sejak umur 2 minggu), rumah di Bekasi tetap saya tempati. Jadi intinya, saya tinggal di dua tempat, yaitu Bekasi dan Cempaka Mas.

Sejak duduk di bangku SMA, saya sudah menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi. Kebetulan jarak rumah dan sekolah tidak begitu jauh yaitu +/-10 Km. Kebiasaan tersebut terbawa hingga saya kuliah.

Saya kuliah di Universitas Bina Nusantara, Kemanggisan, Jakarta Barat. Hampir setiap hari saya menempuh perjalanan 60 Km (pulang pergi Bekasi-Binus).
Pada semester awal saya kos di sekitar kampus, namun semester selanjutnya sampai dengan lulus saya memilih pulang pergi.

Tidak sampai di situ, setelah lulus kuliah, saya mendapatkan pekerjaan di daerah Senayan, Jakarta, saya juga menggunakan sepeda motor ke kantor, baik pulang ke Bekasi maupun Cempaka Mas.

Namun di sini masalahnya. Kemacetan yang saya rasakan selama saya periode kuliah 2007-2011, tidak sama dengan kemacetan 2012-sekarang, karena banyaknya proyek-proyek seperti mall, apartment, perkantoran, dan pusat keramaian lainnya. Belum lagi bertambahnya orang di Jakarta, sehingga perjalanan naik motor sudah sangat melelahkan bagi saya (ditambah lagi jika kondisi cuaca hujan) dan saya mulai berpikir untuk tidak menggunakan sepeda motor lagi sebagai alat transportasi.

Commuterline dan Transjakarta
Setelah mencari informasi melalui media internet, saya memutuskan untuk mencoba commuterline dari Kranji. Kebetulan jarak rumah sampai stasiun hanya 10 menit jika naik motor dengan kecepatan standar. Saya mulai naik Commuterline sekitar bulan September 2013 hingga saat ini. Saat ini, tarif Kranji-Sudirman Rp 2rb. Dari Sudirman ke Senayan bisa naik Kopaja M19 (Rp 4rb), transjakarta dari halte Tosari/Dukuh atas (Rp 3.5rb), bus bianglala (Rp 5rb), ataupun bus gratis. Namun untuk yang saya sebutkan terakhir ini sangat terbatas jumlahnya sehingga saat beruntung saja baru ketemu. Sedangkan parkir motor di stasiun kranji adalah Rp 3rb/hari.

Seperti yang saya utarakan di awal tulisan ini, selain di Bekasi saya juga tinggal di Cempaka Mas. Jadi, saya menggunakan transjakarta untuk transportasi Cempaka Mas - Senayan ataupun sebaliknya dengan tarif normal Rp 3.5rb. Tarif khusus Rp 2rb, apabila masuk halte sebelum pukul 7 pagi.

Commuterline VS Transjakarta
Sejauh ini, saya cukup puas dengan pelayanan Commuterline, biasanya saya naik Commuterline pukul 06.44 WIB di Kranji, dan sampai Manggarai 20 menit kemudian (07.04), kemudian akan transit dengan kereta penyambung untuk arah ke Tanahabang ataupun transit dengan Commuterline Bogor-Tanahabang. Dari Manggarai, Sudirman hanya berselang 1 stasiun, sehingga kira-kira 07.20 saya sudah sampai di Sudirman.

Sebelumnya harus saya informasikan terlebih dahulu bahwa saat ini belum ada jurusan Bekasi-Sudirman, sehingga penumpang tujuan Sudirman dari Bekasi harus transit di Manggarai.

Apabila saya sedang menginap di Cempaka Mas, saya harus berangkat menggunakan Transjakarta (Tj) dengan rute Cempaka Mas - transit di Harmoni - lanjut ke arah Blok M (turun di Bunderan Senayan). Dengan rute tersebut, ironisnya apabila saya naik Tj pukul 06.44 WIB (sama seperti saya naik Commuterline dari Kranji), saya akan sampai Sudirman +/- pukul 08.15 (ini pun tidak pasti). Lebih ironisnya lagi, untuk dapat naik Tj di jam tsb saya harus antri dulu setengah jam sebelumnya!

Intinya, saya harus bangun lebih pagi untukberangkat dari Jakarta Pusat (Cempaka Mas) ke Senayan dibandingkan dari Bekasi Barat (Kranji) ke Senayan! Edun!

Saya sudah menjalani ini selama kurang lebih 1.5 tahun. Jadi, perbandingan ini saya rasakan bukan hanya dalam rentang yang singkat atau beberapa kali saja.

Kelebihan dan Kekurangan Commuterline
+ Hemat biaya, Kranji (Bekasi Barat) - Sudirman (Jakarta Pusat) hanya Rp 2rb.
+ Cepat sampai, Kranji (Bekasi Barat) - Sudirman (Jakarta Pusat) hanya +/- 45 menit di jam kerja
+ Dibandingkan naik mobil atau motor, badan tidak pegal serta pikiran tidak stress karena macet.
+ Kepastian jadwal keberangkatan.
+ Mampu mengangkut banyak penumpang.
- Commuterline pada jam sibuk sangat ramai, dan desak-desakan.
- Jika tidak hati - hati, bisa terkena copet.
- Jika ada gangguan sinyal, jangka waktu perjalanan akan molor.
- Sering ada pendingin kereta yang tidak berfungsi.

Kelebihan dan Kekurangan Transjakarta
+ Hemat biaya, karena bisa keliling Jakarta hanya dengan Rp 3.5rb.
- Jadwal tidak pasti, sering ada penumpukan penumpang*
- Kenyamanan bus tidak memadai, hanya koridor 1 (Jakarta Kota-Blok M) yang manusiawi.
- Bukan hanya tidak nyaman, tetapi bus sering mogok*
Jika tidak hati - hati, bisa terkena copet.

*Rute: Pulogadung - Harmoni /  Pulogadung - Kalideres.

Gunung Prau, Dieng (22-24 Mei 2015)

Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog tercinta ini. Nampaknya sudah hampir setahun :(

Saya mau cerita sedikit tentang pengalaman pertama saya muncak di gunung, yaitu Gunung Prau di ketinggian 2565 MDPL. Berikut ceritanya.

Persiapan
Tiga minggu sebelum muncak (baca: naik gunung), saya mempersiapkan diri dengan pergi ke toko outdoor di rawamangun. Kebetulan saya mendapatkan rekomendasi dari seorang teman. Toko tersebut berada di depan Apotek Sion, sebelum terminal belok kiri kalau dari arah Kayu Putih, sayang sekali saya lupa nama tokonya. Di sana terdapat 2 toko yang saling bersebrangan, toko pertama menjual berbagai macam merk dan toko yang lain menjual merek Deuter saja.

Saya membeli tas hiking bermerek Rei dengan kapasitas 45L dengan harga Rp 499rb, serta membeli sebuah slayer berbentuk tabung yang multifungsi seharga Rp 50rb. Sedangkan sleeping bag, sendal gunung, serta jaket tebal sudah saya miliki sebelumnya.

Nanjak Prau
Sepulang kerja - pukul 17.30 WIB pada 22 Mei 2014 - saya dan bersama 6 rekan kerja yang sudah mendaftar pergi ke gunung berangkat bersama menuju Dunkin Donuts Plaza Semanggi (meeting point) menggunakan jasa Uber (Innova) dari kawasan Senayan.

Sesampainya di Semanggi, kami berkenalan dengan panitia (Indogenous) dan peserta lainnya. Kira-kira pukul 20.00 WIB menggunakan mobil berkapasitas 18 penumpang. Singkat cerita, pukul 10.45 WIB kami sudah sampai di Wonosobo untuk sarapan pagi dan membeli bahan-bahan makanan untuk di puncak gunung seperti sayur mayur dan beberapa rempah dan bumbu instant, dan kemudian perjalanan dilanjutkan ke Telaga Warna. Udara sejuk menemani kami setelah lebih dari 12 jam menempuh perjalanan darat.

Setelah itu, sekitar jam 14.30 kami sampai di tempat awal pendakian. Sebelumnya kami pergi ke sebuah minimarket untuk finalisasi pembelian barang-barang seperti makanan ringan, mie instan, dan tentu saja air minum. Saya sendiri membeli total 3 Liter air (6 botol 600ml) serta beberapa makanan ringan berbentuk cokelat.

Pada 15.30 WIB, kami sudah siap berada di tempat pendaftaran untuk pendakian. Di sana kami mendaftarkan diri dengan memberikan nomor nama dan nomor KTP. Atas saran panitia saya juga membeli tongkat yang terbuat dari bambu seharga Rp 10rb.

Kami mulai mendaki (16.00 WIB), ditemani dengan angin dingin dan sinar matahari yang redup. Lima belas menit pendakian awal adalah langkah yang cukup berat, karena saya masih belum terbiasa dengan medan yang ada serta beban tas yang begitu berat. Namun saya tetap berusaha menguatkan diri untuk terus naik.

Langkah demi langkah saya lalui bersama teman-teman, jalan - istirahat - jalan - istirahat begitu seterusnya. Tidak terasa sudah pukul 18.30 WIB, tetapi kami juga belum sampai ke puncak. Namun Matahari mulai pulang ke rumahnya. Pukul 18.00 WIB, matahari sudah pergi, dan saya beserta teman-teman tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan senter yang sudah kami persiapkan dari rumah sambil ditemani cahaya bulan dan bintang  di langit. Saya sendiri sangat menikmati langit saat istirahat dalam pendakian.

Medan yang berat serta gelapnya langit menemani saya dan beberapa teman (tepatnya bertiga) yang tersisa. Teman-teman lain terpencar, ada yang sudah di depan, ada yang masih di belakang. Hal ini terjadi karena kekuatan dan daya tahan setiap orang berbeda-beda.

Dengan segenap kekuatan yang ada, akhirnya saya dan kedua teman sampai ke pucak, YEAH! Saat itu sudah pukul 19.00 WIB. Kami sudah ditunggu teman-teman lain yang sudah sampai terlebih dahulu. Akhirnya 2 orang dari kami yang sudah sampai di puncak menunggu teman-teman yang belum sampai, sedangkan lainnya mencari tempat untuk mendirikan tenda.

Suasana di puncak Prau sangat ramai, saat itu sepengamatan saya tidak kurang dari 30 tenda sudah didirikan. Penerangan yang seadanya (senter), kami berusahan mencari tempat yang ideal, karena tidak ratanya puncak gunung merupakan salah satu kendala dalam memilih tempat singgah untuk mendirikan tenda.

Pukul 20.00 WIB, empat tenda berhasil didirikan, dan kami mulai mempersiapkan makanan. Tidak lain tidak bukan, makanan yang kami siapkan adalah mie instan. Semua peserta sudah sangat kelaparan ditemani udara dingin yang sangat menusuk tulang. Faktor higienis sudah agak dikesampingkan karena kelaparan yang melanda! hahahaha. Semua orang langsung menyantap mie instan yang ada.

Menurut hemat saya sendiri, suhu saat itu berada di kisaran 10 derajat celsius. Jadi tanpa tenda, kaus kaki, jaket yang cukup tebal dan sleeping bag, saya tidak yakin orang kuat tidur di sana.

Setelah semua menyantap mie instan (21.00 WIB), saya dan teman satu tenda (4 orang), kami memutuskan untuk tidur karena kelelahan. Lucunya, tenda kami berada di permukaan tanah yang tidak rata, sehingga sepanjang malam saya terbangun meringis kesakitan di area tulang ekor.

Pagi Hari di Puncak
Kira-kira pukul 05.30 WIB, suara berisik sudah terdengar dari luar tenda saya. Saya dan teman-teman terbangun dan keluar tenda untuk bersiap-siap menyaksikan matahari terbit. Puji Tuhan, punggung ataupun tulang ekor saya tidak sakit saat saya terbangun. Saat keluar tenda, saya agak terkejut karena jumlah tenda yang ada pagi itu sangat banyak sekali, perkiraan saya ada lebih dari 100 tenda berdiri di puncak!

Saya menikmati detik-detik datangnya matahari terbit dengan udara dingin di sekitar. Saya sangat bersyukur dapat menikmati momen tersebut seraya berdoa kepada Tuhan yang pemilik semesta alam. Namun sayangnya ada beberapa teman juga yang masih terlelap tidur.

Pukul 07.00, saya dan teman-teman sudah mulai masak-memasak karena perut sudah sangat lapar. Oh iya, semua makanan yang ada di gunung akan sangat enak rasanya. Contohnya adalah nasi putih kelompok kami yang keras (kurang air), tetap ludes di makan semua anggota kelompok. hehehe.

Turun Prau
Setelah beres-beres dan foto bersama, akhirnya saya dan teman-teman mulai turun puncak (09.30 WIB), tidak lupa seluruh sampah yang kami hasilkan selama di puncak, kami bawa turun ke bawah. Ini adalah aturan umum di kalau naik gunung.

Dalam perjalanan turun, ditemani matahari pagi-siang, kami turun dengan sukacita. Sama seperti pada saat naik, kami juga banyak beristirahat dalam perjalanan turun. Namun karena cuaca terang, kami dapat turun sambil menikmati pemandangan alam Gunung Prau.

Kami juga mampir di toko kecil di gunung tersebut sambil menikmati es buah carica. Carica merupakan buah pepaya namun berbentuk kecil. Segelas es buah carica seharga Rp 5rb, dan merupakan buatan langsung dari pedagang. Berbeda dengan es buah carica dalam kemasan, yang rasanya sudah ditambahkan pemanis buatan. Es buah carica di atas gunung sangat segar dan rasa manis berasal dari buah itu sendiri.

Setelah 2 jam, akhirnya saya sampai di bawah dan langsung menikmati mandi! Cukup murah tarifnya yaitu Rp 5rb untuk air hangat dan Rp 2rb untuk air dingin. Saya memilih mandi air hangat dan saya sangat puas karena sudah tidak mandi dari jumat pagi! Sedangkan hari itu adalah hari minggu siang.

Pulang
Saya dan teman-teman makan siang mie ongklok sekitar pukul 13.30 WIB, dan setelah itu langsung pulang menuju Jakarta.

Akhirnya kami sampai Jakarta (Senin, 05.00 WIB).

Terima kasih Tuhan, terima kasih teman-teman! Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan.

Beberapa Penting Saat Persiapan dan Pendakian
Seperti yang saya sudah kemukakan di awal tulisan saya ini, kali ini adalah pertama kali pendakian saya ke gunung, dan mungkin hal-hal yang saya alami ini bisa menjadi pengetahuan untuk teman-teman yang ingin naik gunung:
  1. Mempersiapkan barang- barang bawaan dengan baik (sleeping bag, jaket, kaos kaki, sarung tangan, tenda, matras, tas gunung, sepatu/sandal gunung, topi kupluk, balsem, senter, jas hujan, tissue basah, obat-obatan pribadi, kompor, nesting, bahan makanan, makanan ringan, dan air putih yang cukup).
  2. Kesiapan fisik. Perjalanan yang panjang Jakarta - Dieng melalui jalur darat, membuat fisik saya cukup terkuras. Usahakan makan makanan yang bergizi dan minum multivitamin, dan jangan lupa minum air putih.
  3. Berdoa dan ikuti arahan dan larangan dari panitia/pemandu atau pendaki yang sudah lebih berpengalaman.

Selamat mendaki!

Saturday, July 12, 2014

Analisis Taktikal Kekalahan telak 1-7 Brazil dari Jerman pada Semifinal Piala Dunia 2014

Tanpa berbasa-basi panjang lebar, saya ingin mengutarakan beberapa analisis taktikal yang menyebabkan kekalahan telak Brazil.

1. Benard
Cederanya Neymar dan akumulasi kartu kuning kapten Tiago Silva merupakan salah satu faktor dominan penyebab tidak seimbangnya permainan Brazil.
Sayangnya tidak bermainnya kedua pemain kunci ini tidak "diakali" dengan serius oleh Luiz Felipe Scolari. Sang Pelatih tetap memainkan formasi dan taktik yang sama meskipun dengan komposisi pemain yang berbeda.

Benard (no punggung 20) mengisi posisi sayap kanan. Sedangkan Hulk mengisi sayap kiri. Dalam formasi inti Neymar di sayap kiri Hulk di sayap kanan. Adapun formasi Brazil adalah 4-2-3-1.
Benard bermain kaku dan tidak pernah mendapatkan supply bola, sementara Hulk dan Oscar dijaga begitu ketat. Praktis penyerangan Brazil mandek di 15 menit awal. Padahal sebagai tuan rumah, Brazil memang sudah memasang target menyerang sejak menit awal.

Mandeknya serangan Brazil serta ketidakmampuan Benard menjalankan perannya dalam mendukung serangan membuat Bek-bek Brazil membantu serangan tidak terkecuali David Luiz, Marcelo dan Maicon. Inilah awal terbukanya pertahanan Brazil.

Menurut pendapat saya pribadi, lebih cocok memainkan Hernanes daripada Benard apabila Scolari masih ingin menggunakan pola yang sama seperti saat ada Neymar. Di sisi lain, Scolari tidak perlu memaksakan pola yang sama. Scolari dapat memainkan pemain tengah - misal: Willian ataupun Ramires- demi memperkuat lini tengah Brazil. Seperti kita ketahui bersama, lini depan Brazil saat ini bukanlah lini depan yang terbaik, sehingga ketidakhadiran Neymar dan memaksakan pemain lain dengan menggunakan pola yang sama terkesan sangat memaksakan. Alhasil, Benard menjadi kartu mati di lini serang.

2. Dante
Saya sudah menduga apabila Dante akan dimainkan menggantikan Tiago Silva dengan pertimbangan bahwa Dante bermain untuk klub Jerman yaitu Bayern Muenchen. Scolari berharap pengetahuan Dante tentang rekan-rekannya sendiri dapat memperkuat pertahanan Brazil. Namun yang  terjadi malah sebaliknya. Dante tidak kompak bersama David Luiz di sentral pertahanan Brazil. Hal tersebut terlihat pada gol pertama Jerman. Bola sepakan pojok dapat di konversi Thomas Mueller menjadi gol tanpa pengawalan 1 bek pun.
Boleh dibilang saat gol pertama terjadi, konsentrasi pemain Brazil masih tinggi dan mental masih dalam keadaan normal dan stabil.

3. Maicon
Bagusnya penampilan Maicon pada saat melawan Kolombia pada babak perempat final membuatnya kembali dipercaya Scolari pada posisi bek kanan. Selain itu menurut saya, fisik maicon yang lebih besar dibandingkan Daniel Alves diharapkan Scolari dapat memperkuat duel fisik dengan pemain-pemain Jerman. Ternyata semua harapan tersebut meleset adanya. Maicon terlihat begitu kepayahan meladeni umpan satu dua pemain-pemain Der Panzer.

4. Dua Jangkar
Luis Gustavo dan Fernandinho tidak kuasa menahan 5 pemain tengah Jerman lainnya. Sedangkan support dari Hulk - yang asik sendiri di sayap - serta Benard - yang hampir tidak terlihat membuat Oscar juga kerepotan menggalang serangan karena sibuk mencari bola.

Akhir kata, boleh dikatakan Scolari terlalu percaya diri meladeni permainan Jerman. Katakanlah Neymar dan Tiago Silva main, saya juga tidak yakin Brazil dapat mengalahkan Jerman. Seharusnya Scolari memiliki beberapa taktik berbeda, jangan hanya terpaku pada satu taktik saja.

Thursday, July 3, 2014

Transjakarta = Busway ?

Topik ini sebenarnya bukanlah hal baru. Beberapa kali sudah pernah dibahas di televisi nasional, yang terakhir saya ingat adalah oleh Jaya Suprana – pemilik Jamu Jago, pendiri MURI, musisi, seniman, dll. Meskipun sudah dikupas beliau, saya tertarik menuangkan topik ini dalam blog pribadi saya.

Sejak 2003, Gubernur DKI Jakarta saat itu Sutiyoso meresmikan moda transportasi publik Kota Jakarta yaitu Transjakarta. Namun populer dengan sebutan “busway”.
Busway berasal dari Bahasa Inggris, yang terdiri dari 2 kata yaitu “Bus” yang dalam Bahasa memiliki makna yang sama, dan “way” yang dalam Bahasa berarti “jalan”. Kalau kita simpulkan makna busway adalah jalanan bus /  jalur bus.

Jadi, antara Transjakarta dan busway (makna sebenarnya) sesungguhnya memiliki arti yang jauh berbeda. Namun seperti ada kesepakatan tidak tertulis di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jakarta dan sekitarnya bahwa “busway” identik dengan Transjakarta. Meminjam istilah Jaya Suprana, kekeliruan semacam itu disebut kelirumologi.

Kelirumologi juga bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat, tetapi juga terjadi di kalangan pemerintahan sebagai pemilik kebijakan. Seringkali kita lihat di televisi, bagaimana gubernur, kepala dinas, polisi, dan wakil-wakil pemerintahan lainnya menyebutkan busway dengan maksud Transjakarta.

Sedangkan bukti tertulis dapat kita temukan pada rambu-rambu berwarna kuning yang sering kita temukan di jalur atas jalur khusus Transjakarta yang tertulis “Jalur Khusus Busway”, seharusnya kata “busway” saja sudah cukup untuk menjelaskan apabila kita menyukai penggunaan kata busway.

Hal menarik lainnya adalah, seperti kita ketahui bersama, idealnya jalur Transjakarta steril dari kendaraan lainnya. Namun banyak kendaraan masuk jalur tersebut, termasuk bus umum, mobil pribadi, bahkan sepeda motor. Tentu saja apabila ada polisi, semua pelanggar tersebut akan ditindak dengan tilang. Nah, yang agak unik di sini adalah, seharusnya bus umum tidak ikut ditilang. Alasannya karena jalur tersebut adalah jalur bus (Jika Anda belum “ngeh” uniknya, lihat paragraf di atas yang menjelaskan makna kata busway). Jadi seharusnya seluruh bus termasuk transjakarta boleh menggunakan jalur tersebut.

Namun apabila rambu-rambu ditulis “Jalur Khusus Transjakarta”, maka akan lebih jelas dan terang benderang maknanya.

Akhir kata, Selamat menggunakan kata Transjakarta.

Belajar dari Mami

Beberapa hari lalu sepulang dari kantor di kawasan Senayan, saya mengeluarkan uang dari dompet sebesar Rp 25,000.- untuk kemudian saya taruh di kantong celana. Seperti biasanya, dompet saya simpan kembali di tas ransel kecil saya.

Sesampainya di rumah di kawasan cempaka mas, saya langsung mandi dan mempersiapkan diri unntuk bersantai menjelang istirahat dan tidur. Singkat cerita, saya lupa mengeluarkan uang tersebut dari kantong celana saya.

Seperti biasa, esoknya paginya saya berangkat kembali ke kantor. Ketika dalam perjalanan ke kantor, di dalam bus transjakarta saya teringat bahwa ada uang saya yang belum saya keluarkan dari saku celana tadi malam. Saya mengirimkan pesan singkat ke mami saya untuk menyimpankan uang berjumlah Rp 25,000.00 tersebut.

Siang hari, mami telepon ke handphone saya, “Mami tadi pagi ngerendem gak ngecek lagi kantong celana kamu. Barusan mami sudah tanya si mbak yang nyuci baju, kata dia gak ada uangnya.” Lalu saya bilang ke mami, “Oke mam, gak apa2.” Pembicaraan singkat pun selesai. Lalu saya kembali mengingat, jangan-jangan memang saya yang lupa menaruh uang itu. Akhirnya saya memutuskan untuk melupakan kejadian itu dan merelakan uang itu. Memang, uang sejumlah itu bukanlah jumlah yang besar untuk saya pribadi. Bukan juga bermaksud besar kepala dan mengecilkan nominal tersebut. Sebagai gambaran, uang sebesar itu cukup untuk mendapatkan 1x makan siang + minum di kantin sederhana di kawasan senayan atau ongkos pulang pergi bekasi-senayan 2 hari berturut-turut. Yah, intinya lumayan ajalah, gak besar tapi juga bukan gak ada arti.

Kembali ke inti cerita, malam hari saya pulang kantor, mami menghampiri saya dan bilang demikian, “Mami sudah tanya si mbak, dan mbak bilang: “gak ada bu, saya udah cek.” Tapi, pas dia lagi buang sampah, mami penasaran dan coba cek dompet dia, ternyata ada Rp 25,000.00 dan masih basah. Terus mami taro lagi di dompet dia, gak apa-apalah. Mami doain aja kamu banyak rejeki.” Setelah mendengar itu saya hanya diam aja sambil mengangguk sedikit, karena memang setelah mami telepon di siang hari itu saya sudah bertekad melupakan kejadian tersebut.

Malam hari setelah berdoa, saya merenungkan kejadian tersebut (tentunya banyak kejadian yang direnungkan, termasuk kejadian itu). Saya berpikir, ada beberapa pelajaran baik yang diperoleh dari kejadian “lupanya saya mengeluarkan uang dan kemudian hilang”. Beberapa poin yang saya hasilkan dari perenungan adalah sebagai berikut.

  1. Saya agak kesal, bahwa saya begitu cerobohnya. Padahal biasanya saya adalah orang yang teliti.
  2. Penyesalan yang saya ungkapkan berubah dari rasa syukur, dengan kejadian itu kita sekeluarga jadi tahu bahwa, mbak adalah orang yang tidak jujur, sehingga kita sekeluarga dapat lebih waspada dalam menyimpang uang dan barang berharga lainnya.
  3. Ini adalah poin terpenting, saya belajar banyak dari mami. Begitu bijaksananya mami dalam menyikapi hal tersebut, terutama saat kejadian menaruh kembali uang tersebut di dalam dompet si mbak setelah tahu itu uang saya. Respon mami ke mbak juga seperti biasa saja setelah kejadian itu, tidak menegur apalagi memecatnya.

Mungkin poin ketiga bisa dibantah dengan argumen, “ah jumlahnya saja kecil, coba kalau besar”, “ah mami takut ditinggal si mbak, sekarang kan susah cari mbak”, dan ratusan kemungkinan sinisme lainnya. Namun saya tetap yakin akan poin nomor 3  yang saya tulis di atas terlepas dari hal-hal lainnnya.

Friday, April 18, 2014

Sekilas Paskah

Paskah atau yang biasa disebut Paska adalah perayaan bagi umat kristiani di seluruh dunia untuk memperingati kebangkitan Yesus Kristus.

Dahulu kala sebelum zaman Yesus, Paskah sudah dirayakan bangsa Yahudi. Pertanyaannya, “Lah kok bisa? Wong Yesusnya saja belum ada.” Paskah sebelum zaman Yesus disebut Paskah Yahudi, yaitu peristiwa mengenang pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir yang dipimpin oleh Musa.
Kembali lagi ke poin awal yaitu Paskah kristiani - berbeda dengan Natal yang jatuh setiap tanggal 25 Desember - Paskah selalu dirayakan pada hari minggu dengan tanggal yang berbeda-beda. Hal ini terjadi karena Natal ditentukan dengan mengacu kepada kalender Masehi, sedangkan Paskah mengacu kepada kalender Yahudi.

Rangkaian Paskah sendiri dimulai pada hari kamis yaitu peringatan “Malam Terakhir” (Last Supper) Yesus bersama murid-murid di mana saat itu Yesus membasuh kaki ke dua belas muridnya, serta memecah roti dan meminum anggur. Kemudian pada malam harinya, Yesus berdoa di taman Getsemani sampai kemudian ditangkap oleh tentara Romawi. Kemudian pada hari Jumat disalibkan (sekarang dikenang dengan sebutan Jumat Agung) di Bukit Golgota. Pada hari ketiga (yaitu Minggu) Yesus bangkit dari kubur. 

Membahas sedikit Tradisi pada malam terakhir, yaitu tradisi memecah roti merupakan sebagai lambang tubuh kristus yang diserahkan bagi dunia dan minum anggur sebagai lambang darah kristus yang dimateraikan, sekarang disebut sebagai sakramen perjamuan kudus atau kalau dalam agama Katolik disebut sakramen ekaristi. Makna dari tradisi ini adalah berkaitan dengan peristiwa pengorbanan Yesus di kayu salib, yaitu pengorbanan dirinya menjadi “korban yang sempurna” sebagai penebus dosa umat manusia. Sedangkan tradisi pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus adalah lambang kerendahan hati. Tuhan Yesus adalah seorang Guru / Rabi sekaligus Tuhan yang menjadi manusia yang tidak berdosa, mau merendahkan diri dengan membasuh kaki murid – murid (lambng manusia berdosa). Kalau dalam bahasa gaul, kita dapat mengatakan: “Tuhan aja rendah hati, Lah manusia malah sombong!”

Pada hari ketiga setelah jumat, yaitu Minggu, Yesus bangkit dari kubur. Hal ini sudah dinubuatkan oleh Yesus sendiri dari sebelumnya kepada murid-murid yang dalam injil matius tercatat dalam 3 perikop judul “Pemberitahuan pertama/kedua/ketiga tentang penderitaan Yesus”. Kebangkitan Yesus adalah kebangkitan jiwa dan raga (tubuh dan roh), yang merupakan intisari dari iman kristiani. Maka menjadi sangat ironis ketika rangkaian peristiwa Paskah (Jumat Agung – Paskah) tidak diperingati/dirayakan/direnungkan/dipersiapkan dengan total. Sedangkan perayaan Natal begitu diperingati dan dipersiapkan dengan gegap gempita dan sukacita yang sangat besar.

Wednesday, April 9, 2014

Internazionale Milano 2009-2010

           Semua Internisti pasti ingat tahun keemasan Inter Milan, yaitu 2009 – 2010, di mana Inter merebut trebble winners dari kompetisi Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions Eropa. Yang terakhir tentunya terasa sangat spesial karena terakhir Inter merasakan gelar tersebut tahun 1969! Saat itu Inter diarsiteki oleh pelatih legendaris yaitu Helenio Herrera.
            Tidak lain adalah Jose Mourinho, yang biasa akrab dipanggil Mou, adalah aktor utama dibalik pencapain tersebut. Mou sukses memberikan ketiga gelar tersebut di musim keduanya sebagai pelatih! Bandingkan saja dengan Sir Alex Ferguson yang melatih Manchester United sejak tahun 1986, dan baru meraih trebble winners di musim 1998 – 1999. Tentu sukses The Special One tidak lepas dari kejelian, taktik, pemilihan pemain, serta dukungan dari presiden klub dan pendukung setia Nerazurri.
Pada tahun 2008, selepas era Roberto Mancini, Presiden Inter Milan, Massimo Moratti menunjuk Jose Mourinho, yang sejak tahun 2005 berada di Chelsea, untuk menangani skuad La Beneamata. Gayung pun bersambut, Mou tertarik dengan tawaran Moratti, yang memang sudah haus gelar khsususnya di kancah Eropa. Sebagai Catatan, Roberto Mancini melatih Inter Milan sejak 2004 – 2008 dengan mempersembahkan 7 gelar! Itu merupakan hal yang sangat baik bagi karir seorang pelatih. Tujuh gelar tersebut diantaranya, 3 gelar Serie A, 2 gelar Coppa Italia, dan 2 gelar Italia Super Cup. Namun semua gelar tersebut tidak menyelamatkan Mancini dari pemecatan sang presiden.
Di tahun pertama kepelatihannya, Mou tidak banyak merombak skuad Inter yang memang sudah padu, dengan mengandalkan Julio Caesar, Maicon, dan Ibrahimovic. Ketiga bintang tersebut merupakan aset – aset paling berharga Inter saat itu dan selalu digadang-gadang akan pindah ke klub lain jika Inter tidak bisa meraih gelar Liga Champions Eropa. Di musim 2008 – 2009 tidak sulit bagi Inter untuk mempertahankan gelar scudetto, yang memang sudah tradisi sejak era Roberto Mancini. Seperti diketahui, dua pesaing terkuat Inter seperti Juventus dan AC Milan sedang mengembalikan tim mereka ke jalur juara karena sebelumnya terkena skandal calciopoli atau pengaturan skor yang merusak sepak bola Italia.
Namun kesuksesan di liga domestik tidak berbanding lurus dengan kesuksesan di Liga Champions Eropa. Inter lagi – lagi gagal di ajang tersebut, dan kegagalan Inter bukanlah di fase grup, melainkan di fase 16 besar ataupun perempat final. Prestasi terbaik Inter di Liga Champions Eropa sebelumnya adalah Semifinalis tahun 2004. Saat itu Hector Cuper adalah arsitek tim. Namun selepas itu, Inter tidak pernah lagi berbicara banyak di ajang paling bergengsi di benua biru.
Pada Liga Champions musim 2008 - 2009, Inter kandas di tangan Manchester United di babak 16 besar. Di partai  Home dan Away tersebut, saya masih ingat bahwa dua kelemahan utama Inter Milan adalah tidak adanya bek tengah yang tangguh, tidak adanya pemain kreatif yang mampu mengatur alur permainan, sehingga permainan Inter terlihat begitu monoton karena semua bola dialirkan ke Zlatan Ibrahimovic dan sesekali Maicon. Hasilnya tentu saja dapat mudah dipatahkan oleh pemain – pemain Manchester United.
Dengan kejelian Mourinho, pelatih yang membawa Porto menjadi juara Liga Champions Eropa tahun 2004 serta membawa Chelsea dua musim berturut-turut menjadi semifinalis, dia sangat mengetahui kekurangan Inter Milan dan perbaikan yang harus dilakukan musim selanjutnya. Hal itu terbukti dengan didatangkannya beberapa pemain bintang seperti, Lucio, Walter Samuel, Christian Chivu, Wesley Sneijder, Samuel Eto’o, dan Diego Milito di musim 2009 - 2010. Kalau kita perhatikan pemain – Pemain tersebut adalah skuad inti saat Inter merebut gelar juara LC.
Khusus Samuel Eto’o, ia dibarter dengan Zlatan Ibrahimovic. Zlatan begitu menginginkan gelar LC Eropa sehingga ia pindah ke Barcelona, klub yang musim sebelumnya meraih gelar tersebut dan merupakan langganan juara di pentas LC sejak era Ronaldinho dan Lionel Messi, yaitu dua pemain terbaik dunia di zamannya masing - masing. Ironisnya, setelah Zlatan pergi, Inter juara LC yang di semifinal mengalahkan Zlatan dan Barcelonanya.
Hadirnya Walter Samuel dan Lucio di sentral pertahanan membuat Julio Caesar menikmati ketenangan dibandingkan sebelumnya. Sedangkan Maicon tetap tidak tergantian di posisi full back kanan, dan di posisi bek kiri Sang Kapten, Javier Zanetti dan Chivu bergantian mengisi. Gelandang bertahan Inter pun tidak kalah lengkap, Esteban Cambiasso, Thiago Motta, dan Dejan Stankovic kerap mengisi posisi sentral di lini tengah dan mereka tidak perlu kebingungan dalam mengkreasikan serangan karena mereka “cukup” memberikan bola kepada trequarista handal, yaitu Wesley Sneijder. Wesley kerap menjadi penyelamat Inter juga dengan gol-golnya dari tendangan bebas dan tendangan langsung jarak jauh. Peran Sneijder begitu sentral, sampai-sampai banyak wartawan dan pelatih menilai Sneijder pantas menjadi pemain terbaik dunia 2009 dibandingkan Lionel Messei, karena selain membawa Inter juara LC, dia juga membawa Belanda mencapai partai final Piala Dunia 2010. Di depan Inter mengandalkan kecepatan Samuel Eto’o dan penyelesaian akhir dari Diego Milito, serta Pandev yang baru dibeli tengah musim dari Lazio. Terbukti, sejak babak knock out 16 besar semua lawan dapat diatasi, Chelsea, CSKA Moskow, Barcelona, dan Bayern Muenchen merasakan dahsyatnya skuad racikan Mou.
Dari berbagai partai yang dilalui Inter, dua partai yang menjadi sorotan saya adalah saat melawan Chelsea di 16 besar dan Barcelona di semifinal. Saat melawan Chelsea dengan Carlo Anceloti sebagai pelatihnya, saat itu banyak orang menjagokan Chelsea. Selain karena skuad Chelsea yang sudah kompak, pelatih Carlo Anceloti yang sudah 8 musim di AC Milan tentunya sangat mengenal Inter Milan. Namun kenyataan berkata lain. Sedangkan saat melawan Barcelona Giuseppe Meazza, tanpa diduga-duga Inter menghempaskan Barca dengan skor 3-1. Sedangkan saat bertanding di Nou Camp, banyak orang mengatakan Barca akan membalik keadaan. Namun Inter hanya kalah 1-0 dan lolos ke final meskipun bermain dengan 10 orang sejak menit-menit awal karena Thiago Motta di kartu merah akibat “akting” dari Sergio Busquets. Itu adalah salah satu partai terbaik Inter di musim tersebut.
Sekian.