Wednesday, October 12, 2016

Semalam di Milan

Ostello Bello Grande (OBG), Milan Centrale
Di Milan saya menginap di Hotel bernama Ostello Bello Grande (OBG) yang berlokasi dekat dengan Milan Central (Centrale). Selain memiliki lokasi yang strategis, OBG - yang mendapatkan penilaian sebesar 9.5 (skala 10) dari hostelworld.com merupakan hotel yang nyaman dan bersih. Sarapan gratis, makan malam gratis, Wifi gratis, bahkan tamu juga bisa meminjam modem nirkabel apabila ingin berjalan-jalan di Milan. OBG juga menyediakan bar yang buka selama 24 jam dimana para tamu bisa minum air, teh, kopi, jus, bahkan saat saya datang bir dan anggur juga digratiskan malam itu. Saya tidak tahu apakah hal tersebut dilakukan setiap malam. Selain terkait makanan, OBG juga memberikan fasilitas printout gratis.

Saya tiba di OBG Milan pada Senin, 10 Oktober 2016 pada pukul 11.50 siang waktu Milan, setelah membayar kamar untuk 1 malam dan menerima bukti bayar, resepsionis (mungkin juga sekaligus pemilik) bernama Ema (anggap penulisan namanya benar. Ema adalah seorang laki-laki yang kira-kira berumur 35 tahun) mempersilakan saya menikmati hidangan "sisa sarapan" yang masih tersedia sambil menunggu waktu check in yaitu pukul 14.00. Saya sangat kaget dan senang karena saya belum sarapan sejak dari pagi (dari Swiss). Secara cepat saya melahap menu roti tawar, biskuit, dan berbagai macam selai yang tersedia. 

Setelah makan selama kurang lebih setengah jam, saya memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kota Milan terutama dua tempat yang sudah saya rencanakan sejak awal yaitu Giuseppe Meazza dan Duomo. Sesampainya di Milan Central saya membeli 24 hour pass seharga 4.5 Euro. Tiket tersebut bisa digunakan untuk menaiki metro ke seluruh wilayah di Milan. Metro di Milan sendiri memiliki empat jalur yaitu, hijau, ungu, kuning, dan merah.

Giuseppe Meazza
Sebagai seorang fans fanatik Internazionale Milano (Inter), tidak lengkap rasanya apabila belum mengunjungi markas klub tersebut. Jadi tempat pertama yang saya kunjungi adalah Giuseppe Meazza (GM). Setelah menaiki metro jalur ungu, saya sampai tepat di GM. Di sana saya langsung mencari gerbang masuk, dan setelah menemukannya saya membayar tiket masuk seharga 12 Euro. Di dalam Meazza saya masuk ke ruang ganti pemain (baik Milan maupun Inter), kemudian ke tempat para pemain baru biasa diperkenalkan, dan ke stadion tempat pemain bertanding. Sungguh mengagumkan! Tidak disangka tidak diduga, saat sedang melihat-lihat stadion, saya bertemu petugas GM yang merupakan WNI, sebut saja M. Sangat senang rasanya bertemu sesama WNI di negeri orang nan jauh dari Indonesia. M yang tinggal dan menikah dengan laki-laki Italia merupakan satu-satunya petugas WNI di GM. M menjelaskan dengan rinci tentang rumput stadion, perawatan stadion, ruang-ruang di GM, dan semuanya terkait GM dengan sangat komprehensif. Baru saya ketahui, bahwa rumput di GM merupakan perpaduan 80% rumput asli dan 20% rumput sintetis, dan setaip tahunnya yaitu pada bulan Mei, seluruh rumput stadion akan diganti baru. Selain untuk pertandingan stadion juga biasa disewakan untuk konser musik, peluncuran buku, temu fans, bahkan rapat di ruangan di dalam stadion. Namun khusus konser musik dijadwalkan pada jeda kompetisi yaitu pada bulan Mei-Juni (sebelum rumput diganti baru).


Giuseppe Meazza (1)
Loket Pintu Masuk Giuseppe Meazza











Giuseppe Meazza (2)

Ruang Ganti Milan
Ruang Ganti Inter, tidak semewah milik Milan
Tidak seperti Stadion Gelora Bung Karno (GBK) yang menyediakan arena lari, GM hanya diperuntukan hanya untuk sepakbola. Namun ada yang unik di GM yaitu adanya ruangan-ruangan khusus yang dapat disewa oleh siapa pun baik sewa per laga atau sewa tahunan. Ruangan tersebut seperti kios tertutup yang mana masing-masing ruangan menghadap ke lapangan. Masing-masing ruangan dilengkapi dengan AC ataupun pemanas ruangan, TV, ranjang, dan toilet. Yang unik adalah adanya sebuah ruangan bernama Mauro Icardi - Kapten Inter Milan. Saya saya konfirmasikan kepada M, sang kapten memang menyewa salah satu ruangan selama satu tahun penuh untuk memfasilitasi anggota keluarganya saat menonton pertandingan Inter di kandang.


Giuseppe Meazza (3)
Giuseppe Meazza (4)
Bersama M di Giuseppe Meazza

Duomo
Setelah hampir 3 jam saya menikmati GM, saya melanjutkan perjalanan menggunakan metro ke pusat kota Milan yaitu Duomo. Di sana terdapat semacam gedung (mungkin gereja) dan patung laki-laki berkuda. Duomo dikenal sebagai ikon belanja Kota Milan. Banyak merek pakaian baik yang sudah ada ataupun belum di Indonesia. Selain itu, arsitektur bangunan yang megah menambah keindahan suasana sore hari. Namun ada beberapa hal yang saya saksikan sendiri dan memang sudah saya antisipasi karena mendapatkan informasi baik sebelum keberangkatan maupun dari M - petugas GM, yaitu banyaknya imigran yang menjual bunga, gelang, dan pernak pernik lainnya dengan "sedikit memaksa". Saya menghindarinya pada saat berjalan di trotoar karena saya menyaksikan cara penjual tersebut berjualan dengan cara yang menurut saya tidak simpatik. Penjual gelang menaruh gelang jualannya pada bahu seorang turis, tetapi apa yang dilakukan turis tersebut cukup efektif. Turis terus berjalan sambil sesekali mengatakan "No" sambil menggelengkan kepala kepada penjual, tetapi penjual tetap tidak mau mengambil gelang tersebut dari bahu turis laki-laki itu, dan kejadian tersebut berulang sampai 3x dan baru penjual mengambil gelangnya.


Duomo
Duomo (2)
Duomo (3)



Monumentale (Pemakaman)
Stasiun yang Ramah untuk Difabel

Teman Sekamar
Setelah dari Duomo saya kembali ke OBG, karena hari sudah agak gelap dan saya keletihan karena sudah berjalan cukup jauh. Sesampainya di OBG, saya datang ke resepsionis untuk check in, dan ketika Ema memberikan kunci kamar, dia juga memberikan informasi bahwa dia mengundang seluruh tamu termasuk saya untuk makan malam gratis. Wow! Saya memutuskan untuk membersihkan tubuh sebelum menyantap makan malam dari OBG.

Selesai makan malam, sekembalinya ke kamar, akhirnya saya bertemu dengan beberapa teman turis sekamar yaitu dari USA, Perancis, China, dan Jerman. Kami berbincang hangat tentang OBG yang sangat royal, dan juga cerita perjalanan kami masing-masing saat liburan. Namun ada hal yang membuat saya sedikit malu, karena beberapa orang diantara mereka ataupun kerabat dekat turis pernah mengunjungi Jakarta, dan mereka menyatakan ketidaknyamanannya tinggal ataupun berlibur di Jakarta. Saya yang saat itu agak bingung menanggapi hal teesebut dan hanya mengakui saja tentang ketidaknyamanan tersebut sambil meminta maaf dengan pembelaan bahwa Jakarta sedang berbenah terkait transportasi masal.

No comments:

Post a Comment