Monday, April 8, 2019

Rendang Berasal Dari

Pada medio 90an, muda mudi tidak sudi menggunakan batik karena apabila mengenakan pakaian tersebut, maka akan terdengar celoteh, “mau kemana Pak Lurah?” Stigma semacam ini yang membuat kebanggan kita terhadap budaya sendiri menjadi luntur.

“Untungnya” pada tahun 2009 Malaysia mengklaim batik sebagai budaya mereka, sehingga kita semua tersentil, marah, dan kecewa, yang mana hal ini berakibat positif dan bisa kita nikmati bersama buahnya sampai saat ini, yaitu kita semua cinta dan bangga menggunakan batik. Apakah kita harus berterima kasih kepada Malaysia? Sebagai informasi, pada saat itu, akhirnya UNESCO pun sampai harus turun tangan dan pada akhirnya mengakui batik berasal dari Indonesia. Sebetulnya tidak hanya batik yang diklaim oleh  Negeri Jiran tersebut, tetapi juga Reog Ponorogo, Tari Pendet, Angklung, Tari Tortor, dll. 

Belakangan juga muncul meme, bahwa penyanyi Agnez Mo diklaim oleh netizen Malaysia, dan disambut kembali dengan kemarahan netizen Indonesia. Namun sebenarnya hal ini dilakukan oleh mereka hanya untuk menggoda kita yang dianggap mudah tersulut. Tidak mau kalah dengan mereka, kita juga membalas misalnya saja rendang yang juga katanya diklaim berasal dari Malaysia. Padahal semua orang Indonesia tahu, kalau rendang berasal dari daging sapi.

Saya sendiri juga tidak memahami apa yang menjadi motivasi negara tetangga tersebut banyak mengklaim budaya kita. Berkaca ke diri sendiri, sebagai Bangsa Indonesia, ketika menyaksikan Barongsai misalnya, atau tari-tarian dari Timur Tengah, dan budaya-budaya lainnya, kita hanya menikmatinya saja – tanpa ada pemikiran sedikit pun bahwa kita ingin mengakui budaya tersebut adalah budaya asli Indonesia. Meskipun di sisi lain orang-orang keturunan Tionghoa ataupun orang-orang keturunan Timur Tengah telah turun temurun tinggal di Indonesia dan menjadi WNI – sebagaimana alasan Malaysia saat mengklaim budaya-budaya kita.

Jadi, apakah “serangan-serangan dari luar” yang mampu membuat kita bangga akan Indonesia?

Gen Ksatria

Tidak seperti Indonesia yang merdeka secara proklamasi dengan keringat dan darah para pejuang, kemerdekaan Malaysia, tahun 1957, didapat secara cuma-cuma (baca: hadiah) dari Inggris. Sedangkan kemerdekaan Singapura diperoleh setelah pulau itu “dibuang” oleh Malaysia tahun 1965. Bahkan Thailand belum pernah dijajah bangsa mana pun. Menjadi masuk akal apabila pada waktu yang lalu mantan panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo berujar bahwa setiap anak-anak Indonesia yang lahir memiliki gen ksatria yang siap bertarung, bertempur, berani melawan.

Kelakar lainnya, konon tentara negara tetangga bisa terbirit-birit seandainya harus berperang dengan pasukan TNI, mendengar namanya saja sudah jiper (beberapa pasukan khusus: Kopassus, Kopaska Denjaka, Paskhas, dll.) dengan segudang CV mulai dari tinggal di hutan berhari-hari tanpa makan dan minum, berenang melewati Selat Sunda, sampai dengan menghadapi berbagai ancaman keamanan seperti melumpuhkan teroris ataupun yang terakhir menghabisi perompak Somalia di wilayah perairan Afrika. Belum lagi Kepolisian RI khususnya Densus 88, yang mampu menangkap seluruh teroris, serta mengungkap seluruh jaringan sampai ke akarnya.

Tidak hanya itu, TNI dan Polri juga aktif mengirimkan pasukan keamanan PBB untuk misi perdamaian di berbagai belahan dunia. Pertanda begitu diakui dan diseganinya aparat keamanan kita di kancah internasional.

Jadi, apakah kita masih menyepelekan aparat keamanan kita?

Saturday, January 5, 2019

Selamat Tinggal Gigi Geraham Bungsu

“Ya, palingan 20 menit kelar”, ungkap dokter gigi (dogi) yang juga merupakan ahli bedah mulut dan juga profesor (prof), dengan logat betawinya yang cukup kental. Padahal seingatku minggu lalu saat konsultasi, dia bilang hanya 10 menit. Bisa-bisanya naik 100% dalam sekejap, begitu pikirku. Ah, tapi sudah kepalang tanggung, janji sudah dibuat, cuti sudah kepalang diambil, berbagai persiapan sudah dilakukan, dan aku sudah di ruangan di suatu rumah sakit di Jakarta Pusat, pantang hukumnya untuk mundur mendadak. The show must go on.

Di ruangan tersebut prof dogi didampingi dengan seorang perawat dan juga seorang dogi perempuan muda. Beberapa kali dogi muda berkomunikasi pelan dengan prof dogi, tanpa kuamati serius apa kontennya.

Singkat cerita aku mendapat suntikan di bagian gusi kanan bawah, tempat gigi geraham bungsuku tumbuh miring sehingga menabrak kakak kandungnya sendiri (gigi di depannya). Setelah 2-3 suntikan bius menerjang gusiku, prof dogi kembali ke mejanya semula. Dia merem sejenak dengan kepala tersandar di kursi, layaknya seorang detektif yang akan membongkar sebuah kasus pembunuhan berantai. Katanya, tunggu 5 menit agar bius bereaksi. Setelah 5 menit, drama dimulai....

“Udah tebel ini”, “jangan bikin gerakan yang gak perlu”, “kamu percaya saja sama saya”, “dikit lagi nih”, “kalo begini caranya, gimana geraham bungsu yang kiri nanti, itu lebih dalem lagi”, “ayo, gak papa”. Itu adalah kata-kata prof dogi selama jalannya pencabutan gigi. Selama itu pula saya mengerang kesakitan bukan kepalang. Setiap bunyi bor terdengar, saat itu pula rasa ngilu yang hebat datang menghampiri saya selama proses itu. Rasanya bunyi bor dan rasa ngilu sudah bersepakat sejak awal untuk hadir bersama, sampai-sampai bius tak mampu menghalangi. Alhasil, keringat saya mengucur bebas tak beraturan di sekujur tubuh.

Bahkan, meskipun ada dogi perempuan muda yang hadir dan mengamati, tidak sedikitpun saya bisa jaim. Dengan mulut yang terbuka lebar, pandangan mata yang terbatas hanya bisa melihat atap-atap rumah sakit, lampu, tangan dokter dan perawat, serta percikan darah di kening prof dogi, rasanya, pasrah adalah sikap paling bijaksana saat itu. Setampan, sekekar, secerdas, sepopuler, seberprestasi, sehebat, sekuat, setinggi apapun status sosialmu, se se se se apapun dirimu, kamu adalah pasien biasa yang lemah di tangan prof dogi. Rasa ngilu akan menghempaskan segala predikat yang ada padamu, bahkan juga sambil ditonton oleh dogi perempuan muda yang sedang belajar. Sekian.

Dipublikasikan H+2 setelah operasi gigi geraham bungsu dengan keadaan pipi masih bengkak.

Sunday, April 1, 2018

Selamat Paskah, Teman!

Ya, setelah empat tahun lalu tulisan tentang Paskah yang berjudul Sekilas Paskah http://teddynu.blogspot.co.id/2014/04/sekilas-paskah.html pernah saya tuliskan. Kesempatan kali ini, kembali saya ingin membagi beberapa hal yang menjadi pemikiran serta beberapa kegelisahan saya (dan mungkin banyak orang juga) tentang kekristenan dan juga Paskah.

Seorang Ayah dan Ibu yang memiliki dua orang anak, Kakak dan Adik - memiliki sifat uniknya masing-masing. Kakak, apabila mengutarakan keinginannya kepada kedua orangtua akan mengatakan dengan sopan dan to the point. Ia adalah sosok yang pendiam, penyayang, pelindung adiknya, lemah lembut, sabar, dan juga tegas. Sedangkan Adik, akan meminta dengan manja, merayu dengan segala cara (dalam arti positif), kadang ditambah dengan sedikit rengekan. Ia adalah sosok yang gigih, lovable, negosiator yang potensial. Baik Kakak maupun Adik, keduanya adalah kesayangan Ayah dan Ibu berikut dengan segala sifat yang melekat dan kelebihan serta kekurangan yang ada. Begitulah kekristenan. Yesus datang ke dunia ini tidak membawa agama Kristen Katolik, Protestan, Bethel, Pentakosta, dan lain-lain. Sebelum Yesus terangkat ke surga, Ia "hanya" memerintahkan para murid untuk menjadikan semua bangsa muridNya. Sebagai murid-muridNya di masa kini yang mengemban amanat yang sama, baiknya kita juga mengamalkan perintah tersebut tanpa lagi perlu membenarkan ataupun menyalahkan satu dengan yang lain.

Terkhusus tentang Paskah, apapun "jenis kristen-mu" satu hal yang pasti, tidak boleh berbeda dan berubah, bahwa kita harus mengimani bahwa Yesus telah disalibkan, mati, dan bangkit! Titik. Tidak kurang tidak lebih. Perlu ditegaskan juga, Ia bangkit secara jasmani dan rohani yang nantinya akan naik ke sorga. Kebangkitan Yesus adalah inti iman Kristen. Tanpa kebangkitanNya, sejatinya iman Kristen adalah iman yang lumpuh.

Akhirnya, Selamat Paskah, Teman! Tuhan Yesus sudah bangkit dan menang. Sekian.

Tuesday, March 13, 2018

14 Tahun

"Sebentar dong ky..., kamu gak sabaran banget sih jadi anjing." ucapku pada Pocky setiap kali kami hendak berjalan-jalan keliling komplek rumah.

Awal Jumpa
Kebersamaan kami sudah terjadi kurang lebih 14 tahun, sejak Pocky berumur 2 minggu. Masih lekat dalam ingatku bagaimana pertemuan kami pertama kali. Seorang teman kelas waktu SMA - Tami, menawarkan seekor anak anjing padaku. Ia tahu bahwa aku sudah berteman dengan beberapa anjing sejak dini, dan kebetulan saat itu aku sedang "single" alias tidak memiliki anjing. Jadilah aku menerima tawaran baiknya. Pada hari yang sudah ditentukan, aku bersama seorang kawan lain - Vicky yang dijanjikan seekor anak anjing juga, janjian ketemu di sekolah sebagai meeting point. Tanpa diduga, Vicky datang bersama seorang supir menaikki mobil buntung, memang yang kuketahui usaha orang tuanya adalah usaha bahan bangunan. Singkat cerita, kami bertiga duduk di depan dan berangkat ke rumah teman si pemberi anjing. Setelah haha hihi sejenak, kami membawa pulang masing-masing seekor anak anjing yang diangkut dengan kardus terbuka. Kedua anak anjing tersebut sangat lincah dan aktif bergerak juga bersuara, tetapi belum bisa menggonggong layaknya anjing dewasa. Persoalan belum selesai karena Vicky berbaik hati mengantarku dan anjing baruku (waktu itu belum punya nama) ke rumahku. Namun, apabila kami meletakkan kedua anjing tersebut di belakang, kami khawatir bahwa anjing tersebut memiliki potensi melompat ke jalanan tanpa pikir panjang. Maklum saja layaknya anak-anak anak anjing yang berumur 2 minggu tersebut masih senang-senangnya main-main dan mencoba hal-hal baru. Seketika itu juga, Vicky tersadar bahwa membawa mobil buntung bukanlah keputusan yang tepat. Akhirnya, ia meminta supirnya yang duduk di belakang. Berangkatlah kami dari daerah Galaxy, Bekasi Selatan menuju Tytyan Indah, Bekasi Barat - rumahku. Begitulah awal pertemuan kami.

⦽⦽⦽

Piko Pocky
Setelah anjingku di rumah, keributan melanda rumah, karena nama yang kuusulkan "Piko" tidak mencapai kuorum. Padahal nama tersebut sudah kucari, kupikirkan, kutimbang dengan matang. Papi mami mempunyai pertimbangan lain, apabila nama anjing itu Piko, maka akan dipanggil "ko.., ko.., piko.., sini..." Panggilan tersebut akan menyaru dengan panggilan adik sepupuku yang tinggalnya di seberang rumah, Rico, biasanya ia dipanggil "iko atau ko" saja. Memang ada 2 huruf yang berbeda dari kedua nama itu, tetapi pada praktek pelafalannya hanya 1 huruf yang berbeda yaitu pada huruf awalan P pada Piko dan R pada Rico. Aku mengalah, dan memilih nama Pocky. Semua sepakat (Papi, Mami, Helen, Helsa) tanpa perlawanan lebih jauh.

⦽⦽⦽

Menonton Saja
Aku tidak mempersiapkan kedatangan Pocky dengan baik, aku belum beli makanannya. Jadi setelah tiba di rumah, aku pergi ke pasar untuk membeli daging giling. Namun nampaknya Pocky masih murung dan bersedih. Ia perlu waktu lebih untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya, di rumahku. Ia masih meringkuk di pojok taman dengan muka masam dan tak bergairah. Mungkin ia merasa kesepian setelah berpisah dengan ibu kandungnya, dan juga saudara-saudara kandungnya yang satu per satu dibagikan kepada orang-orang. Perasaan kesepian yang bisa kurasakan dan kumaklumi. Tidak sampai satu hari penuh, kami sudah mulai akrab. Ketika kupanggil, ia akan datang. Ketika aku berlari, ia akan mengekor di belakang. Senyum mulai mengembang di wajahnya, dan tentunya wajahku juga. Pocky sudah mulai mau makan daging giling bercampur dengan nasi hangat yang kuracik sendiri. Namun memang makannya belum banyak dan lahap, aku pikir mungkin terlalu cepat buat anjing seusianya (2 minggu) untuk menyantap daging. Setelah kutanya kepada Tami, memang selama ini Pocky dan anak anjing lainnya diberikan makanan kering. Aku putuskan untuk mengkombinasikan ketiga makanan tersebut, nasi, daging giling, dan makanan kering.

Biasanya, aku selalu menungguinya makan sampai selesai. Namun kali itu, aku sedang agak sibuk dengan PR sekolah. Jadi setelah aku menuangkan makanannya, ia makan, dan kutinggal. Berselang 5 menit, aku mengintip dari jendela kamar ke halaman tempat Pocky makan. Alangkah kagetnya aku, karena yang sedang makan makanan tersebut adalah seekor kucing. Aku tidak langsung bergegas ke halaman, tetapi kuamati kucing itu menikmati makan tersebut, lalu aku juga mencari dimana Pocky berada saat itu. Aku lebih kaget lagi ketika melihat bahwa Pocky sedang menonton kucing itu makan dari jarak aman. Aku benar-benar geli terpingkal-pingkal. Di halaman, aku berdiri di tengah antara kucing yang sedang asyik makan dan Pocky yang menonton saja, dan aku berkata kepada Pocky, "Ayo Pok sini, jangan diam saja..Itu makananmu sedang dicuri." aku mendekat ke arah kucing, kemudian memanggil Pocky untuk mendekatiku, tetapi Pocky terlihat tidak percaya diri datang ke arahku. Setelah aku panggil beberapa kali mencoba meyakinkannya, tetapi hasilnya tetap nihil. Akhirnya kuusir kucing itu dengan paksa. Setelah itu, aku mengusap-ngusap kepala Pocky sambil berpikir, memang benar bahwa secara postu Pocky kecil kalah jauh dari kucing dewasa itu. Namun aku yakin, Pocky akan tumbuh besar dan menjadi anjing kuat suatu hari nanti.

⦽⦽⦽

Adik Kandung
Suatu kali, Tami mengirimkanku pesan singkat yang intinya ia ingin menitipkan anjingnya kepadaku karena ia hendak berlibur ke Singapura selama 4 malam. Anjing yang dititipkan kepadaku tidak lain tidak bukan adalah saudara kandung Pocky. Lebih tepatnya adik kandung, karena Pocky adalah anak sulung. Aku mengiyakan terhadap permintaan tolong dari Tami. Singkat cerita, Tami datang bersama kedua orangtuanya bersama anjing tersebut. Namanya Kiko. Tak lupa, Tami dan mamanya juga bertemu kangen dengan Pocky. Alangkah kagetnya mereka melihat Pocky karena perawakannya berbeda jauh dengan Kiko yang saat itu masih terlihat anak-anak. Pocky terlihat lebih dewasa. Tidak hanya perawakan, tetapi juga dari segi postur, Pocky terlihat lebih kekar, tegap, tinggi, dan besar. Padahal umur Pocky dan Kiko sama, yaitu sekitar 3 bulan pada waktu itu.

Tami menitipkan 1 bungkus makan kering dan 2 kemasan besar susu cair untuk Kiko yang dititipkan kepadaku. Setelah Tami dan keluarganya meninggalkan rumahku, Pocky dan Kiko sangat akrab bermain. Mungkin mereka saling berkangen ria setelah 2 bulan tak bertemu, begitu lamunanku terhadap interaksi mereka berdua. 

Hal yang sangat menarik bagiku adalah ketika aku memberikan mereka makan, maka Pocky akan makan dengan sangat bersemangat seakan 2 hari belum makan. Sedangkan Kiko akan makan dengan perlahan dan sedikit anggun. Begitu halnya ketika aku menuangkan susu segar, Pocky akan minum dengan sangat lahap sampai tidak ada lagi setetes pun sisa susu pada tempat minumnya. Sedangkan Kiko minum dengan santai dengan menyisakan susu sedikit pada tempat minumnya - mirip kalau kita minum teh botol tapi gak dihabisin, tapi sisa dikit. Nah, sisa susu Kiko yang kemudian akan "dibersihkan" oleh Pocky. Aku sendiri bertanya-tanya, mengapa Kiko berkarakter seperti ini. Apakah ia kurang bersyukur atas berkat yang diberikan padanya? atau ia masih jaim di rumahku? Entahlah. Tapi yang pasti, Inilah jawaban mengapa Pocky tumbuh lebih cepat dari Kiko.

⦽⦽⦽

Pepaya
Pocky memiliki keunikan yang jarang dimiliki anjing lain, yaitu dia pemakan segalanya layaknya manusia. Dari tiga anjing lain sebelumnya yang pernah aku asuh, hanya Pocky yang doyan makan buah dan sayur. Tentu hal ini tidak serta merta aku memberikan buah dan sayur secara sembarangan. Aku cukup menyeleksi ketat apa yang masuk ke tubuhnya. Apabila sayur, maka akan kucuci dulu agar terhindar dari bumbu-bumbu dan rasa asin garam agar bulunya tak rontok. Apabila buah, maka kupastikan tidaklah buah yang mengandum asam berlebihan seperti jeruk atau nanas. Awalnya, aku juga tidak pernah memperhitungkan bahwa anjing akan menyukai sayur dan buah, tetapi aku mengamati pada saat Pocky pup, ia memerlukan usaha ekstra untuk memfinalisasi prosesnya. Jadi, aku berinisiatif memberinya pepaya yang secara kebetulan sedang ada di kulkas rumah. Aku tidak langsung serta merta memberinya pepaya, tapi aku memakan pepayanya terlebih dahulu di depan matanya. Beberapa potong pepaya kumakan secara perlahan, aku pejamkan mataku untuk menggambarkan kenikmatan buah pepaya segar nan manis ini kepadanya. Ia tampak memandangku dengan seksama. Setelah potongan kesekian, barulah ia mendekatiku sambil sesekali mengusapkan lidahnya ke sekeliling mulutnya dan setelah itu menjulurkan lidahnya dengan tatapan memelas sambil duduk tegak di depanku persis, sebuah tanda familiar yang sering kuamati. Dengan tatapannya, Aku tahu bahwa tekadnya sudah bulat untuk meminta dan makan pepaya itu, dan benar saja, ketika kuberikan satu potong pepaya, ia langsung menyantapnya tanpa ragu dan pikir panjang.

Buah pepaya bukanlah buah favorit di keluarga kami. Keberadaannya tidaklah sering, dan hanya sesekali saja. Menjadi PR bagiku ketika buah itu sudah menjadi buah favorit Pocky, tetapi sering absen dari jadwal makannya. Kalau aku membeli buah pepaya utuh di pasar, aku malas mengupas, membersihkannya, memotong-motongnya. Akhirnya, aku menemukan tukang rujak keliling. Aku selalu membeli buah pepaya potong dingin paling tidak seminggu 1x. Tidak ada masalah, pocky tetap suka juga.

Suatu kali, saat hendak membeli pepaya potong pada abang rujak langganan, si abang bilang, bahwa semua pepaya yang ada padanya pepaya yang agak muda. Jadi agak garing dan tidak terlalu manis rasanya. Aku pikir, tidak masalah untuk membeli pepaya muda tersebut karena sudah hampir sebulan aku tidak membelikan pepaya untuk Pocky. Dan sesampainya di rumah, setelah membuka plastiknya aku memberikan potongan pepaya itu kepada Pocky. Aku tinggal ke dalam rumah, dan merasa tidak perlu melakukan monitor terhadap aktivitas makan pepaya karena sudah terjadi entah berapa kali, mungkin puluhan kali dan sudah menjadi rutinitas. Namun beberapa jam kemudian, ketika kuamati aku terkaget karena tidak seperti biasanya pepaya ludes tanpa tersisa, kali ini pepaya tersebut tersisa rapi selayaknya sisa potongan semangka setelah orang makan. Aku tertawa sambil mengusap-usap kepala Pocky, dalam benakku - ia memang anjing cerdas....

⦽⦽⦽

Nasi Goreng untuk Orang Sakit
Hampir setiap tahun, ada suatu kebiasaan di keluarga kami, yaitu berlibur bersama. Biasanya jadwalnya setiap libur lebaran. Kami akan berlibur selama 8-10 hari. Kepergian kami selama kurun waktu tersebut, berakibat aku harus menitipkan Pocky kepada temanku yang tidak berlibur di waktu yang sama. Oh ya, sebelumnya harus kusampaikan, bahwa Pocky dididik menjadi anjing penjaga, sehingga ia tidak cukup ramah terhadap orang asing - sehingga menitipkannya ke tempat penampungan anjing tidak menjadi opsi bagiku. Jadi selain harus menitipkan kepada teman, syarat lainnya adalah teman tersebut harus kuat-kuat sama anjing galak. Tantangannya menjadi ganda. Beruntungnya aku mempunyai teman karib yang juga baik hati, Martin. Ia rela, memberikan Pocky makan setiap harinya dengan mampir ke rumahku, dengan cara melemparkan makanan lewat pintu pagar. Tentang air minum, aku sudah mempersiapkan 8 ember berisi air yang kuisi penuh dan kuletakkan tersebar di sekujur halaman rumah.

Sebelum berangkat, aku menitipkan makan kering yang sudah kuoplos ke dalam kantong-kantong kecil yang sudah kutakar dengan jumlah plastik sejumlah hari kepergianku. Kegiatan yang jamak kulakukan bertahun-tahun saat kami sekeluarga berlibur tahunan. Namun pada masa liburan kali itu, suatu kali martin mngirimkan pesan singkat yang kurang lebih demikian, "Ted, si Pocky kayaknya gak nafsu makan. Soalnya makanan yang kemarin  dan kemarinnya lagi gue kasih belum dimakan." aku pun yang sedang  berlibur menjadi tidak nyaman membaca pesan tersebut. aku takut kalau-kalau Pocky sakit. Aku kemudian membalas pesan Martin demikian, "Tin, kira-kira si Pocky lemes gak? Apa tetep seger? Bisa minta tolong, lo beliin nasi goreng, jangan pake sambel, garem, mecin, dan kecap." Martin membalas lagi, "Kalo gue liat si seger, cuma mungkin bosen aja. Oke, nanti sorean nasi gorengnya nanti gue beliin sesuai yang lo bilang." Beberapa jam kemudian, Martin mengirimkan pesan lagi, "Ted, gue udah kasih nasgornya, langsung dimakan sama Pocky." Menerima pesan tersebut, aku senang bukan kepalang. Bahkan rasanya setara dengan liburan yang sedang kujalani. Aku membalas, "Hehehe. Oke tin, tengs a lot ya.. Lusa gue balik, nanti gue mampir ke rumah lo."

Jadilah nasi goreng tanpa sambal, garam, penguat rasa, dan kecap, adalah makanan lain favorit Pocky. Namun untuk nasi goreng aku tidak reguler seperti pepaya, hanya sekali-sekali saja. Pernah suatu kali kubelikan Pocky nasi goreng semacam ini, abang nasi goreng tek-teknya bertanya, "Kok gak pake sambel, garem, mecin, dan kecap? Buat orang sakit ya Mas?", aku hanya tersenyum. 

⦽⦽⦽

Melewatkan Kebaktian Malam Tahun Baru
Malam itu adalah malam tahun baru, seingatku malam menjelang tahun 2010. Aku yang menjadi panitia Natal dan Tahun Baru di gereja, datang lebih awal selayaknya panitia lainnya. Sebelum acara dimulai, seorang teman menyapaku kemudian berkata, "Ted, gue tadi lewat depan rumah lo, kayaknya si Pocky kabur deh, terus bokap lo mau nangkep tapi susah." Mendengar informasi tersebut, aku tidak langsung pulang. Aku tetap fokus menyelesaikan seluruh tanggung jawabku. Namun setelah selesai mempersiapkan berbagai hal, aku memutuskan untuk meninggalkan gedung gereja dan pulang. Benar saja, Pocky kabur dan belum pulang juga. Aku sempat sedikit marah pada Papi mengapa Pocky bisa kabur, padahal selama bertahun-tahun aku mengasuhnya belum pernah aku melihat niatannya untuk kabur dari rumah. Aku bertanya-tanya, apakah ia ada janji bertemu dengan anjing perempuan di malam tahun baru ini, ataukah ada acara barbeque di rumah temannya. Kalau saja ia minta izin kepadaku, pastilah aku akan memberikan izin kepadanya. Toh, ini malah tahun baru.

Setelah menunggu setengah jam lebih dan tidak ada tanda-tanda Pocky pulang, akhirnya aku keliling komplek rumah dengan sepeda motorku. Aku mencarinya di kegelapan malam, tanpa tahu jejaknya. Sesekali aku bertanya kepada orang di jalan. Namun tidak ada petunjuk. Aku terus mencari sambil memanggil-manggil namanya, semua gang aku telusuri. Setelah hampir satu jam memutari area komplek yang cukup luas, aku menemukannya sedang santai mengendus rerumputan di pinggir sebuah jalan sepi. Aku memanggilnya, "Pocky!" dan ia menoleh, aku tersenyum. Aku turun dari motorku, mengalungkan tali ke lehernya dan mengajaknya pulang. Kami pulang bersama. Sesampainya di rumah, aku masih berniat ikut kebaktian malam tahun baru, tetapi sayangnya kebaktian telah usai. Tak kusesali keputusanku melewatkan kebaktian malam tahun baru itu, karena telah menemukan kembali Pocky.

⦽⦽⦽

Sahabat Setia
Belum lama ini papi membeli daging babi hutan melalui daring sebagai apresiasi kepada Pocky yang selama ini selalu makan makanan kering. Si penjual mengantarnya sendiri, kemudian saling bercerita tentang anjing kami masing-masing. Ia sangat terkejut ketika aku bilang bahwa anjingku memasuki usia 14 tahun di 2018 ini. Ia berkomentar, "Wah, hebat...panjang umur sekali anjing kamu.."

Aku bersyukur kepada Tuhan, dalam 14 tahun ini kita bisa bersahabat baik. Berbagai kegembiraan dan masalahku acapkali kuutarakan kepadamu dengan keyakinan bahwa engkau adalah sahabat yang juga merupakan salah satu penjaga rahasia terbaik di bumi ini yang pernah kukenal. Aku yakin semua ceritaku akan kau simpan rapat dan tidak akan kau ceritakan kepada siapapun. Meskipun aku juga tak tahu apabila engkau sesekali menceritakannya kepada anjing-anjing tetangga sekitar rumah saat aku di kantor. Pantas saja, akhir-akhir ini aku merasa tatapan anjing-anjing tetangga kepadaku agak berbeda dari biasanya. Tapi, kepercayaanku kepadamu tetaplah tak berkurang. Semoga anjing-anjing tetangga tersebut, tak menyebarkan ceritanya lagi kepada tuan-tuan mereka. Biarlah cerita-ceritaku berhenti di kalangan anjing-anjing tetangga saja, aku ikhlas untuk ini.

Surat ini akan kubacakan kepadamu di tepat di usia ke-14 pada hari ulang tahunmu nanti - 21 September, sehingga engkau dapat mendengarnya dengan seksama dan mengerti akan kasihku kepadamu. Karena kutahu, engkau belum juga fasih membaca meskipun usiamu sudah 14 tahun. Tenang saja, aku memakluminya.
Terima kasih Pocky, atas semua hal yang kita lalui bersama, semoga di tahun anjing ini kamu menjadi anjing yang lebih baik lagi. Aku tahu, aku bukanlah sahabat yang selalu ada untukmu. Aku bukanlah pengasuh terbaik untukmu. Tapi aku berjanji, aku akan selalu merawatmu dan persahabatan kita akan selalu kujaga sampai salah satu dari kita mati. Sekian.





Saturday, March 10, 2018

Harta Benda Bisa Dicari

Siang itu aku sedang tidak ada kuliah. Aku yang sedang santai di rumah mendapatkan SMS dari Helsa yang minta dijemput di stasiun kereta Kranji. Bergegaslah aku menuju stasiun dengan sepeda motor. Helsa, yang ingin pulang lebih awal ke rumah memilih naik kereta sendiri dari daerah sekolahnya di Penabur Gunung Sahari Jakarta, daripada harus menunggu Helen yang harus mengikuti bimbel sekolah. Padahal apabila pulang bersama-sama Helen, Helsa tinggal duduk manis di mobil yang dikendarai supir. Memang tidak memungkinkan supir bolak-balik Jakarta-Bekasi untuk memenuhi semua keinginan karena keterbatasan waktu akibat kemacetan ibukota. Singkat cerita, aku menjemput adik kecilku itu yang waktu itu masih duduk di bangku kelas 6 SD. Perjalanan rumahku ke stasiun tidaklah jauh, mungkin hanya sekitar 10 menit bolak-balik bila melalui jalan tikus. Setelah Helsa duduk di kursi belakang motor, kami langsung berangkat ke arah rumah. Dari kejauhan aku sudah mengamati terdapat asap hitam membumbung lurus dari bawah ke atas, tanpa berpikiran macam-macam aku terus fokus mengendarai motor. Namun semakin dekat arah kami ke rumah, asap tersebut juga makin dekat dengan kami. Benar saja, rumah tetangga sebelahkulah sumber asap itu.

Sontak, turun dari motor, aku meneriaki tetanggaku tersebut. Celakanya asisten rumah tangganya baru tersadar ketika aku memberitahu bahwa bagian ujung rumah yang menjadi arena berdoa tetanggaku sedang disatroni api dengan cepatnya. Setelah memasukkan motor dan meminta Helsa masuk ke dalam rumah, aku mengisi air keran ke dalam ember sambil menelpon papi. Suaraku agak bergetar karena aku cukup panik, "Pap, rumahnya Tante Dewi kebakaran!". Sedangkan papi cukup tenang dan bilang, "Nanti Papi telepon pemadam kebakaran, kamu bawa aja semua dokumen yang ada di lemari kamar papi." Aku mengiyakan perintah papi, dan kembali bertanya, "Itu aja Pap yang dibawa?" dan kembali dijawab, "iya itu aja." Tak terasa ember sudah penuh dengan air, aku pun mengakhiri pembicaraan itu, dan bergegas menyiramkan air ke rumah tetanggaku. Namun setelah lari beberapa langkah, aku menyaksikan bahwa api yang tadinya hanya setinggi betisku, kini sudah menyamai tinggi badanku. Dengkulku lemas seketika menghadapi api yang cepat meninggi ini. Belum lagi hawa panasnya yang menyengat kulit dan mataku saat kudekati, ember berisi air yang kuisi tidak ada apa-apanya melawan api semacam ini. Aku tinggalkan ember berisi air itu, tanpa pernah menyiramkannya. Aku berlari kembali dalam ke rumah, mengangkut semua dokumen-dokumen di lemari kamar kedua orang tuaku. Helsa panik dan hampir menangis, sementara Pocky terus menggonggong tanpa henti. Di luar sudah terdengar kesibukan para tetangga sekitar yang berkemas dan warga lain yang hendak menolong. Begitu mencengkeramnya suasana siang itu.

Semua dokumen selesai kumasukkan ke dalam 2 tas besar, satu kupanggul di bahu kanan, dan satu di bahu lainnya. Selain dompet dan handphone, aku membawa laptop dan beberapa dokumen yang  terkait perkuliahanku, semua benda tersebut kupanggul dengan tas punggung. Lengkap sudah semua harta benda yang kubawa. Tangan kananku menggenggam lengan Helsa, tangan kiriku menggendong Pocky. Kami keluar rumah dengan langkah mantap.

Di luar kondisi sudah sangat ramai, hampir semua orang tidak kukenal atau memang aku sudah tidak fokus mengenali orang, aku tak tahu. Tiba-tiba seorang teman gereja menghampiriku lebih dulu, "Ted.." panggilnya, aku menoleh dan langsung berkata kepadanya, "Gun, gue titip Helsa sama 2 tas ini ya.." Anggun mengangguk, menerima 2 tas besar dan super berat terus menggandeng Helsa. Perlahan mereka menghilang di kerumunan orang. Sedangkan aku masih berada di depan rumah, sambil mengamati dan was-was apakah api akan mampir ke rumahku juga. Pada saat itu, angin bertiup cukup kencang, sehingga api berbelok ke kanan dan kiri secara liar. Aku sendiri sudah siap mental dan pasrah apabila api juga melahap rumahku. Dalam lamunan itu, seorang teman kuliah yang tinggal tidak jauh dari rumahku juga menghampiriku, "Ted.." sapanya singkat, "Eh Re, gue boleh nitip laptop dan tas gue?" Regina mengangguk sambil menerima tas punggungku. Tak lama berselang, seorang teman lain kutahu juga memelihara anjing menghampiriku, jadi aku menitipkan Pocky padanya. Aku pun masih serius mengamati rumah tetanggaku dan tentunya rumahku. Di tengah waktu tersebut, beberapa orang yang mengenalku bertanya kepadaku, "kok kamu gak ngeluarin barang-barang?" Pertanyaan yang masuk akal, karena tetangga lainnya bahkan yang berbeda dua rumah, tiga rumah, bahkan seberang jalan, super sibuk mengungsikan berbagai macam harta benda mereka. Sedangkan rumahku yang jelas-jelas persis di sebelah rumah yang tebakar nampak adem ayem. Pertanyaan tersebut tidak hanya ditanyakan satu-dua orang, tetapi menjadi pertanyaan favorit kepadaku saat itu. Aku pun selalu menjawab sama, "Iya gak apa-apa, biarin aja..." Sebenarnya bukannya aku takut, atau tidak mau berusaha. Tapi aku hanya sendirian, tidak ada mobil di rumah, dan tidak ada yang membantu jika aku harus mengungsikan barang-barang, dan aku juga tidak tahu harus mengungsi kemana saat itu, di tengah lautan manusia yang menonton dan sebagian kecil menolong.

Akhirnya pemadam kebakaran mampu memadamkan kebakaran di rumah tetangga sebelahku. Papi mami yang pulang kantor lebih awal juga sempat menyaksikan prosesi pemadaman api. Namun sayang, rumah tetanggaku tidak tertolong. Semua habis dilalap si jago merah. Papi mencoba membesarkan hati Om Sofyan (almarhum, saat tulisan ini di publikasikan), suami Tante Dewi. Papi bilang, "Yang penting semua selamet pak, anak-anak sehat semua. Harta bisa dicari lagi..." Om Sofyan mengiyakan meskipun tetap ada rasa kehilangan pada raut wajahnya. Aku bersyukur tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, semua selamat. Aku juga bersyukur selalu ada sesama yang menolong kita di saat tak terduga, baik tetangga, teman, ataupun petugas pemadam kebakaran. Aku juga bersyukur aku masih punya tempat tinggal. Setelah kurenungi semalam panjang, aku seperti tidak percaya apa yang aku alami hari itu. Jika saja rumahku terbakar juga, maka motor, pakaian, kamera digital, koleksi jam tangan, playstation, TV, gitar, dan masing banyak lagi, semua akan menjadi debu seketika. Semakin aku menginventarisasi barang-barang dan harta benda tersebut, semakin aku tidak bisa tidur. Benar kata papi, bahwa harta bisa dicari, yang paling penting semua selamat. Sekian.

Sunday, March 4, 2018

Adik-Adik Perkasa


Mempunyai dua adik perempuan, otomatis mempertegas kodrat ilahi bahwa aku harus mengambil peran sebagai pelindung kedua adikku. Ditambah lagi statusku sebagai anak laki-laki sulung dalam keluarga.

Helen adik pertama, memiliki keuletan belajar yang lebih dari antara kami bertiga. Aku masih mengingat betul, pada masa kuliahnya bagaimana ia belajar dan mempersiapkan diri dalam setiap ujian yang akan ia hadapi. Buku-buku pelajarannya sangat tebal, dan ia selalu membawa beberapa koper (berisi buku pelajaran) sekaligus untuk menghadapi ujian. Ia telah lulus untuk mendapatkan gelar sarjana farmasi dan juga gelar profesi apoteker. Tidak sekadar lulus, nilai kelulusannya sangat memuaskan karena ia lulus dengan status cum laude. Saat ini ia memiliki karir yang baik di salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. Di sisi lain, sesekali ia juga gemar bermain piano meskipun tidak mencapai tahap mahir.

Lain halnya dengan Helen, Helsa memiliki kemampuan dan sifat yang unik. Helsa memiliki IQ yang lebih tinggi dari aku dan Helen, kecerdasannya sudah dibuktikannya sejak ia masih dini yaitu puncaknya ditandai dengan dinobatkannya Helsa menjadi juara umum SD se-Penabur di Jakarta. Buatku, prestasi tersebut tidak bisa dianggap remeh temeh. Di rumah kami, berjejer piala-piala yang pernah ia raih di berbagai bidang dari mulai pendidikan, seni, olahraga, dan lain-lain. Namun memasuki jenjang SMP prestasi akademisnya tidak segemilang saat SD. Ia justru lebih berfokus pada sisi sosial dengan aktif di OSIS dan menjadi Ketua OSIS, serta tim inti basket SMP, begitu juga  saat SMA – menjadi Ketua OSIS dan tim inti basket SMA. Piala tetap singgah di rumah, namun semuanya berasal dari prestasi olahraga. Saat ini, Helsa adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri top di Bandung dengan jurusan komunikasi, yang dicapainya berkat statusnya sebagai aktivis OSIS dan juga prestasi basket.

Ringkasnya, Helen tipikal pembaca buku, pembelajar ulet, kaku, dan juga pengagum berat Doraemon, Helsa tipikal yang senang bersosialisasi, kurang disiplin, selalu ketinggalan barang, namun mempunyai minat dalam berbagai olahraga.

Aku sendiri merasa, ada beberapa kesamaan diriku dalam kedua adikku. Aku pembaca buku (meskipun tidak banyak-banyak amat buku yang kubaca), cukup disiplin, senang berbagai macam olahraga, dan kadang suka bersosialisasi. Namun kalau diadu akademis dan persoalan belajar, Helen pasti mengalahkanku. Sedangkan kalau diadu kecerdasan (IQ) dan banyak-banyakan teman, jelas bahwa aku juga akan kalah oleh Helsa. Sesekali, aku merasa inferior terhadap kenyataan ini. Namun satu yang bisa kulakukan untuk menutupi kekuranganku dibandingkan kedua adikku, yaitu soal persiapan. Aku selalu mempersiapkan berbagai hal yang akan kulakukan, apapun itu,  sebagai bentuk kompensasi karena aku tidak seulet Helen dan secerdas Helsa, maka aku harus membuat persiapan yang lebih baik dengan berharap hasilnya akan baik pula. Terkait dengan persiapanku, aku akan menuliskannya pada tulisan lain.

Beberapa bulan lalu, suatu kali sepulang ibadah minggu, kami sekeluarga makan siang bersama di suatu mall di Jakarta. Setelah makan siang usai, aku, Helen, dan Helsa memilih untuk tidak langsung pulang karena kami hendak jalan bersama di mall itu. Sedangkan papi mami memilih pulang terlebih dahulu karena ada acara lain. Kami bertiga keliling mall melihat-lihat sekujur mall, dan spontan pilihan kami jatuh pada Timezone. Setelah mengisi voucher, kami mulai memilih permainan yang menjadi kompetisi diantara kami bertiga. Masih lekat dalam ingatanku, aku cukup bersemangat terhadap kompetisi ini. Namun tidak sampai memacu adrenalin selayaknya aku menikmati permainan futsal. Berbagai permainan kami pertandingkan bertiga, mulai dari ketangkasan memencet tombol dan layar, olahraga basket, tembak menembak, balapan mobil, motor, dan lain-lain. Total, belasan permainan kami habiskan. Di tengah kesibukan kami masing-masing, menghabiskan kebersamaan yang kurang lebih hanya dua jam, tentunya waktu tersebut sangat berharga dan seru sekali bagiku.

Namun keberhargaan dan keseruan itu juga diikuti dengan perasaan kesal dalam hatiku, karena aku tidak memenangkan satu permainan pun dari belasan pertandingan! Ya, kalau tidak juara dua, juara tiga. Ternyata, asumsiku bahwa aku harus melindungi kedua adikku tidak selalu sepenuhnya tepat, karena ternyata mereka telah tumbuh menjadi adik-adik perkasa.

Wednesday, February 28, 2018

Berbuat Baik

Berbuat baik tidak sesimpel yang dibayangkan. Setidaknya menurutku begitu. Seringkali pamrih atau juga disalahartikan menjadi biang keladinya. Banyak orang senang berbuat baik, tapi perbuatan baik tersebut belum tentu menghasilkan hal yang baik bagi si pemberi maupun si penerima. Perbuatan baik semacam ini hanya menjadi derita bagi kedua belah pihak.

Contohnya aku sendiri, ketika suatu kali aku memberikan kue lapis legit yang menjadi kue favoritku sejak lama kepada seorang kawan, aku akan menunggu responnya untuk mencicipi, atau minimal aku akan bertanya kepadanya entah esok, beberapa hari kemudian, ataupun saat kesempatan bertemu dengannya. “Bagaimana kuenya, enak?”, pertanyaan yang hanya sekadar basa-basi untuk mengharapkan jawaban “enak”. Apabila jawabannya enak, senanglah hatiku. Selesailah perkara. Namun apabila jawabannya selain itu, semisal “kemanisan” atau “kurang cocok”, mungkin aku sudah menyiapkan berbagai pembelaan terhadap kue lapis lagit favoritku tersebut seakan aku sendiri si pembuat kue, atau lebih lagi anggapan seakan pribadiku yang sedang diserang. Penghinaan atas kue lapis legit favoritku membawa derita tersendiri bagiku. Tentunya memiliki mental seperti ini membuatku tidak nyaman, karena pertemanan kami dipertaruhkan hanya karena persoalan sepele, yaitu kue lapis legit. Padahal sejak awal maksudnya berbuat baik, tapi hasilnya menjadi tidak baik.

Di sisi lain, aku juga pernah mengalami di sisi sebaliknya. Ketika menerima hadiah ulang tahun berupa pakaian dari seorang teman. Tentu, aku sangat bersyukur karena telah dikelilingi oleh orang-orang yang baik yang mengasihiku dan memperhatikanku. Namun adakalanya kita kurang menyukai hadiah yang diberikan kepada kita. Lantas, tak pantas juga kita tolak pemberian tersebut karena dari teman baik yang hendak berbagi kebaikannya. Kebaikan tersebut dibarengi dengan pertanyaan, “kok gak pernah dipakai bajunya, gak suka ya?” Saat masih anak-anak, mungkin dengan lantang dan ceplas-ceplos aku akan menjawab tanpa beban “tidaakkk”. Namun selayaknya orang dewasa lainnya, aku juga sudah dibekali kemampuan “bijaksana” yang dimiliki banyak orang dewasa lainnya dengan menjawab “sukaaa” belum lagi ditambah senyuman (setengah palsu). Lagi-lagi hubungan baik menjadi taruhannya.

Kedua pengalamanku tersebut mengajarkanku bahwa ternyata tingkat kebaikanku masih berada di tingkat terendah dari seluruh tatanan tingkat kebaikan, satu tingkat di atas tingkat netral, dua tingkat di atas tingkat kurang baik. Jadi, apabila di kemudian hari aku memberikan sesuatu kepada orang lain, aku belajar untuk tidak menambahkan dengan keingintahuanku lebih lanjut tentang apa hasil dari perbuatan baikku, karena maksud baikku terkhusus memang hanya sampai berbuat baik bukan mencari tahu hasil dari perbuatan baikku. Sekian.

Oh ya, untuk contoh kedua, aku belum menemukan jawabannya. Tapi kalau semua sepakat tidak mencari tahu hasil perbuatan baik masing-masing, berarti aku tidak perlu berjerih payah menemukan jawabannya. J

Sunday, February 25, 2018

Rasa itu Terseleksi

Orang bilang, love is easy. Benarkah? Sayangnya bagiku tidak. Namun tak jua berarti sebaliknya.

Mayoritas, cinta turun dari mata ke hati. Selanjutnya? Terserah anda, begitu bunyi sebuah iklan lawas.

Kalau naksir, gaya garuk-garuk, gaya tertawa, gaya bicara, gaya bengong, gaya menguap, bahkan ngupil pun bisa terlihat indah. Sebaliknya, secantik apapun seorang perempuan, kalau kita nggak sreg dengan gaya garuk-garuknya, gaya tertawanya, gaya bicaranya, gaya bengongnya, gaya menguapnya, semua bisa ambyar seketika. Apalagi ngupil, jangan ditanya lagi. Bukan kartu kuning lagi taruhannya, tapi kartu merah plus larangan tampil di laga-laga selanjutnya.

Artinya? Rasa itu terseleksi.

Lainnya, cinta berjalan karena terbiasa. Terpupuk, tersiram, terjemur, dan tumbuh karena kecocokan dan tak berasal dari pandangan pertama, mungkin pandangan keseribu atau malah keserbapak.

Tak hanya melahirkan tawa, cinta tak urung menerbitkan air mata. Tak berarti cengeng, karena air mata bukanlah tanda kelemahan, apalagi kekalahan. Otomatis, tawa tak selalu menjadi tanda kesenangan dan kemenangan.

Tanpa keduanya - tawa dan air mata, cinta belumlah paripurna.

Saturday, February 17, 2018

Jangan Sampai...

Setiap Imlek atau ulang tahun, orang-orang selalu memberikan doa-doa dan harapan-harapan yang baik-baik. Namun hal-hal baik yang menghampiri manusia belum tentu menghasilkan buah yang baik pula. Pun sebaliknya, hal-hal buruk yang terjadi belum tentu menghasilkan buah yang buruk pula. Ada banyak contoh mengenai hal ini. Tentunya, bukan berarti kita mendoakan hal-hal buruk. Kita boleh tidak sependapat, tetapi kira-kira begitu perenunganku pribadi pada Imlek kali ini.

Sejak awal karirku (+/- 6 tahun lalu), setiap bertemu emak (nenekku), ia selalu menyampaikan doa dan harapannya setiap pertemuan kami tepat ketika sebelum kami berpisah satu sama lain. Sambil memelukku dan menempelkan kedua pipinya di pipiku, ia berbisik demikian, "terima kasih ya, ted. Emak berdoa semoga kamu cepet naik pangkat." dan aku selalu mengamini doa emak tersebut. Setelah kurenungkan, memang karirku cukup cepat menanjak, dan aku yakin hingga kini bahwa semua ini karena anugerah dari Tuhan.

Di Imlek kali ini, doa emak agak dimodifikasi sedikit - entah ide atau ilham dari siapa/mana - bisikannya, "terima kasih ya, ted. Emak berdoa semoga kamu bisa jadi presiden direktur." Lagi-lagi aku mengamini meskipun agak terkaget juga mendengarnya. Di sisi samping, kanan kiri kedua adikku terkekeh "terkesan meremehkan" doa emak mereka kepadaku. Aku hanya tersenyum melirik mereka, tanpa tahu seharusnya aku di pihak siapa saat itu.

Saat ini, aku hanya berpikir demikian, jangan sampai materi, pekerjaan, rezeki, kekayaan, kesehatan, bahkan pasangan, dan hal-hal baik lainnya, ataupun sebaliknya yaitu hal-hal buruk yang menimpaku, dapat menjauhkanku dari Tuhan. Biarlah Tuhan yang menolong.

TN

Imlek 2018

Perayaan Tahun Baru Imlek 2018 jatuh pada hari Jumat, 16 Februari 2018. Seperti halnya tahun baru lainnya (Masehi, Hijriyah, Saka), Imlek merupakan tahun baru yang dirayakan oleh orang-orang Tionghoa dan keturunannya. Sayangnya beberapa orang di Indonesia masih memahami bahwa Imlek identik dengan hari besar keagamaan.

Saya sendiri merayakan Imlek dengan berkumpul bersama keluarga besar termasuk nenek (emak). Tidak ada perjanjian khusus diantara keluarga besar papi, tetapi seperti ada kesepakatan tidak tertulis untuk berkumpul di rumah emak setiap Imlek. Biasanya kami makan bersama, mengobrol, bersenda gurau, saling bercerita, dan berbagi keceriaan. Tidak lupa beberapa anggota keluarga membagikan angpao sebagai wujud kasih dan perhatian kepada anggota keluarga lainnya.

Pada Imlek kali ini, ada hal yang cukup menarik perhatian saya. Emak sebagai orang tertua di keluarga besar memberikan nasihat kepada anak-anaknya termasuk papi (anak kandungnya) dan mami. Hal yang sudah langka bagi saya. Sehebat apapun papi mami, setua apapun papi mami, sebijaksana apapun papi mami, bahkan papi mami yang sudah masuk usia pensiun, tidak juga mempunyai imunitas dari nasihat orang tua. Ya, begitulah orang tua, mereka selalu menganggap anak selayaknya anak, tidak memandang umur, anak tetaplah anak. Bagaimana seharusnya sikap anak? Menurut hemat saya, menghormati dan menghargai nasihat orang tua tersebut. Meskipun sebagai anak saya juga menyadari bahwa kadang sebagai anak, saya yang sudah dewasa dan mandiri merasa diatur, digurui, dan bahkan kadang nasihat orang tua tidak sesuai dengan pemikiran kita. Namun sikap hormat tidak boleh berkurang sedikit pun. Sebab ada tertulis, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Kel 20:12).

Selamat Tahun Baru Imlek untuk Teman dan Sahabat yang merayakan. Sincun Kionghi.

TN

Tuesday, January 2, 2018

Cucian Motor

Siang ini saya mencuci motor di tempat yang berbeda dari tempat biasanya, tepatnya berlokasi lebih jauh +- 300 meter dari tempat langganan. Saya menganalogikan tempat cucian motor yang biasanya saya singgahi adalah Tempat A, dan tempat yang baru hari ini saya singgahi adalah Tempat B. Selain lokasi yang tidak terlalu berjauhan, kualitas hasil cucian tidak banyak berbeda. Keduanya menampilkan hasil yang prima dalam membersihkan motor saya.

Namun ada hal yang menarik pada Tempat B. Setelah motor saya dicuci bersih dan serah terima dilakukan, saya memberikan uang pecahan IDR 50rb kepada pencuci. Ia sempat bertanya, apakah saya punya uang pecahan yang lebih kecil. Lantas, saya mengecek kembali isi dompet saya (yang sebenarnya saya sudah tahu tidak ada pecahan kecil), dan segera mengatakan bahwa saya tidak memiliki uang pecahan kecil. Kemudian ia berjalan ke belakang untuk menyiapkan uang kembalian. Tidak sampai satu menit, ia kembali dan menyerahkan kepada saya beberapa kombinasi pecahan uang kecil. Sekilas saya lihat terdapat pecahan uang IDR 20rb, 5rb, dan 2rb. Saya menerimanya, melipatnya, dan memasukkan ke kantong celana sambil mengucapkan terima kasih kepadanya. Tiba-tiba, dijawabnya demikian, "Mas, dihitung dulu saja." Sekilas perkataan itu biasa saja. Namun mendengar respon tersebut membuat saya cukup tersentak, dan memalingkan muka kepadanya, mengangguk, dan tersenyum. Lalu saya segera mengeluarkan kumpulan pecahan uang tadi, lalu menghitungnya dengan seksama. Setelah itu, saya sampaikan bahwa kembaliannya sudah pas, yaitu sejumlah IDR 38rb. Sebagai informasi, harga jasa cucian motor adalah IDR 12rb untuk motor kecil dan IDR 15rb untuk motor besar. Tidak dijelaskan lebih jauh apa definisi motor biasa dan motor besar.

Setelah menyampaikan terima kasih, saya bergegas pulang, dan dalam perjalanan pulang saya teringat akan kata-kata pencuci itu yang meminta saya menghitung kembali uang kembalian yang saya terima. Saya berpikir bahwa agak langka di zaman now ini karakter yang demikian. Hal ini diperkuat dengan membandingkan Tempat A. Seringkali kali saya menggunakan jasa cuci motor di Tempat A. Boro-boro diminta untuk menghitung kembalian, uang kembalian saja belum tentu diberikan (bila membayar dengan pecahan IDR 15rb). Padahal terpampang jelas tarif di sana, yang mana besarannya sama antara Tempat A dan Tempat B. Selama ini, saya hanya mengira-ngira bahwa motor Honda Vario saya dikategorikan motor besar di Tempat A. Jadi selama ini saya tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut selama kualitas cucian baik.

Setelah sampai di rumah, saya kembali mengingat karakter baik yang dimiliki oleh pencuci Tempat B, dan juga membandingkan karakter yang (menurut saya) kurang baik yang dimiliki pencuci Tempat A. Tak lama setelah itu, pemikiran saya kembali kepada diri sendiri. Saya masuk A atau B? Parahnya  hati nurani saya menjawab A. Mungkin bukan dalam kasus yang sama persis seperti di atas. Misalnya waktu saya kecil, saya kurang ikhlas dan ogah-ogahan kalau diminta tolong oleh orang tua membeli sesuatu ke luar rumah yang mana di saat bersamaan saya sedang asyik nonton tv. Sedangkan di zaman now ini, mungkin juga saya sesekali menggerutu apabila ada rekan kerja yang meminta data ataupun memberikan masukan atas kerjaan saya.

Mari, belajar memiliki karakter seperti pencuci Tempat B.

Sekian.

Monday, December 25, 2017

Syopi's Effect

Seperti kita ketahui, periode Natal dan Tahun Baru selalu membawa kegembiraan dan sukacita untuk banyak orang. Lantas, apa yang terlintas di benak tentang perayaan Natal dan Tahun Baru? Selain tentang peribadatan Nasrani, mungkin ada yang berpikir liburan panjang, makan bersama, meniup terompet, atau malah tukeran kado.

Kali ini, saya akan sedikit membahas perihal tukeran kado. Oke kita mulai.
Adakah yang menyadari, apa bagian terbaik saat tukeran kado, baik bersama teman-teman ataupun keluarga? Menurut hemat saya bukan karena kita mendapat barang/ sesuatu yang baru, atau mendapat barang yang kita perlu/ ingin, atau mendapat hadiah. Sadar atau tidak, bagian terbaik tukeran kado adalah pada saat kita membuka/merobek bungkus kado tersebut! Silakan kita resapi, pada saat kita melakukan ritual pembukaan bungkus kado. Percaya ya cukur, nggak ya gondrong :p

Menurut saya, perasaan saat membuka bungkus kado tersebut adalah perasaan yang langka. Mengapa langka? karena kita hanya bisa mendapatkan perasaan tersebut saat tukeran kado saja. Biasanya setahun 1x atau maksimal 2x, kalaupun lebih itupun konsekutif di akhir tahun. Saya sendiri belum pernah mengalami tukeran kado secara periodik misalnya 4 bulan sekali, atau 3 bulan sekali.

Baru-baru ini, saya menyadari bahwa ada fenomena di mana perasaan yang mirip dengan tukeran kado itu bisa dimunculkan tanpa melakukan aktivitas tukeran kado. Terutama sejak saya mengunduh satu aplikasi market place yang sedang kekinian, sebut saja syopi. Pada aplikasi tersebut terdapat event yang biasa disebut Flash Sale. Event tersebut dibatasi oleh waktu, dan pada periode waktu tersebut terdapat sekian belas barang dengan jumlah terbatas yang diklaim dijual secara diskon. Setiap orang hanya bisa membeli masing-masing jenis barang hanya 1 buah. Setelah mencapai tenggat waktu tertentu, barang-barang yang dijual akan berganti. Begitu seterusnya.

Beberapa kali saya bertransaksi untuk membeli barang yang sebetulnya saya tidak perlu-perlu amat. Namun karena saya tahu harga barang itu sedang murah, "terpaksa" saya beli. Setelah melakukan pembayaran dan status pembelian barang berubah menjadi persiapan pengiriman, saya sangat menanti-nantikan barang tersebut tiba, apalagi saat barang tersebut telah tiba dan saya hendak membuka bungkus barang tersebut, sensasi tersebut saya rasakan, dan rasanya mirip seperti membuka kado! Padahal saya sudah mengetahui isi barangnya!

Hal ini sudah saya rasakan tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali bahkan banyak kali. Sayangnya, pernah satu kali pesanan saya datang tanpa dibungkus tertutup alias hanya dikemas menggunakan plastik transparan sehingga terlihat isi bungkus dari luar. Tidak ada efek penasaran lagi, dan kegembiraan membuka bungkus barang pun tidak muncul.

Kembali ke kegembiraan membuka bungkus barang, apakah saya terjerat menjadi suka belanja daring? Jawabannya tidak. Namun, saya hanya menyukai sensasi menunggu barang tiba di rumah/ kantor dan sensasi membuka bungkus barang tersebut.

Apakah anda juga?

Sekian. 

Sunday, November 5, 2017

Jepang Last Part: Hal - Hal Menarik

Orang Tokyo dan Orang Osaka
Layaknya orang-orang ibukota negara maju, warga Tokyo sangat sibuk dan individualistis, bahkan bisa dibilang seperti robot. Bahkan beberapa rekan Indonesia yang kami temui di Jepang pun mengiyakan hal tersebut. Hal ini agak berbeda dengan warga Osaka, yang sejatinya merupakan kota terbesar kedua di Jepang. Warga Osaka lebih “santai” (dalam artinya tidak se-robot warga Tokyo). Namun secara umum seluruh orang Jepang mempunyai kesamaan, yaitu disiplin, tepat waktu, pekerja keras, dan baik. Khusus poin terakhir yang disebutkan, akan diulas dalam penjelasan di bawah ini.

Orang Jepang Baik
Baik memiliki arti yang sangat luas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata baik berarti elok, patuh, teratur, rapi, tidak ada celanya, tidak jahat, dsb. Namun baik yang saya maksud akan saya jelaskan lebih jauh dengan contoh-contoh sebagai berikut. Pertama, selama saya berada 9 hari di Jepang (Akihabara, Odawara, Osaka, Kyoto) saya merasakan keadaan yang aman, sekalipun beberapa kali harus pulang hingga larut karena padatnya jadwal yang kami susun. Selain itu, tidak ada copet ataupun pihak - pihak yang berusaha menggunakan kesempatan dalam kesempitan di tengah kebingungan baik dalam perjalanan, menghitung uang, berjalan di gang kecil, dll. Ketiga, pada saat kami mengunjungi Fujiko Fujio Museum, hari sedang hujan. Saya dan NK menggunakan payung dan juga pelindung tas. Tanpa disadari oleh NK dan saya, pelindung tas NK terjatuh, tiba-tiba kami sadar bahwa ada seorang laki-laki berjas (perkiraan saya usia +- 40 tahun) mengantarkan pelindung tas NK di tengah ramainya situasi stasiun saat itu. Yang pasti pelindung tas tersebut tidak jatuh di dekat kami, karena saya mendengar panggilan dari seseorang yang saya abaikan karena saya yakin bukan kami yang dipanggil karena kami tidak mengenal orang Jepang mana pun. Kejadian tersebut terjadi di stasiun Kawasaki, dan semakin membuat saya respek terhadap orang Jepang.

Tsukiji Market
Belum lengkap rasanya makan sushi ataupun sashimi kalau belum ke pasar tradisional tsukiji yang terletak di pinggir kota Tokyo. Kita bisa makan sushi dan sashimi dari ikan yang baru dipotong. Bahkan beberapa toko memotong ikan di depan tokonya sehinggak kita bisa melihat prosesnya. Selain itu, banyak juga makanan-makanan lainnya di pasar ini. Saya jamin, gak nyesel kalau datang ke sini. Oh ya, kalau berniat datang, baiknya datang di pagi hari.

Ichiran Ramen
Ini adalah ramen terenak se-dunia. Setidaknya itu menurutku. Saya memang bukan penggemar fanatik ramen, tetapi dari seluruh ramen yang saya makan di Indonesia dan Jepang, ramen inilah yang paling meninggalkan kesan mendalam. Hal ini pun diiyakan oleh teman-teman yang sudah pernah makan. Sayangnya bagi saudara-saudaraku muslim tidak boleh menikmati ramen ini karena tidak halal. Ichiran Ramen buka 24 jam dan memiliki cabang yang banyak di kota-kota di Jepang.

Matsuya dan Yoshinoya
Apabila memiliki anggaran yang terbatas untuk liburan di Jepang, solusi untuk makan irit ada di 2 tempat makan ini. Dengan harga termurah 380 Yen (setara IDR 47 ribu), kita sudah mendapatkan nasi, lauk, dan minum. Tentang minum, berbeda dengan tempat makan/ restoran di Indonesia yang mana kebanyakn minum selalu dijual terpisah. Semua tempat makan yang saya singgahi baik mahal maupun murah, menyediakan air minum secara gratis. Biasanya air putih dingin ataupun ocha dingin. Saya juga tidak mengetahui kenapa tempat makan/ restoran di Jepang menyediakan minum yang dingin. Padahal udara di sana cukup dingin pada musim gugur.

Pachinko
Pachinko merupakan tempat bermain game di Jepang, kalau di Indonesia seperti timezone. Bedanya Pachinko menjamur di mana-mana bahkan sampai ke gang-gang di pinggiran kota, di mana-mana ada Pachinko. Perbedaan lainnya adalah game-game di dalamnya sangat modern, yang belum pernah saya temukan di Jakarta. Namun beberapa game klasik juga ada.

Toilet
Di Jepang, semua closet di toilet yang saya temui berjenis duduk, dan menggunakan air (bukan tissue seperti toilet di Eropa). Namun yang unik adalah, baik pembilas/ flush ataupun penyiram bokong, dikendalikan dari sebuah panel digital yang biasanya berada di sebelah kanan pada saat kita menggunakan closet. Yang uniknya lagi seringkali pada saat kita duduk di closet, akan terasa hangat di closet tersebut di tengah dinginnya udara di musim gugur.

Saat mengunjungi Tokyo Gyoen Park, saya berkesempatan masuk ke dalam toilet umumnya. Waktu itu keadaan pada sore hari, dan matahari sudah berada di ufuk barat. Sebelum masuk ke toilet, saya melihat bahwa toilet gelap, dan karena hasrat yang tak tertahankan, akhirnya saya tetap masuk ke dalam. Namun alangkah ajaibnya bahwa lampu menyala otomatis saat saya masuk dan kembali mati otomatis saat saya keluar. “Wah, canggih juga ni. Hemat energi jadiny.” Begitu pikirku. Tidak lama setelah itu, pikiran liar pun muncul, bagaimana kalau diaplikasikan di Indonesia. “Hmm, bisa jadi tidak dikira canggih, tapi horror.” Seloroh otakku.


Ngomong-ngomong lampu otomatis, banyak rumah di Kyoto yang juga demikian. Ketika kita melintas di depan rumah seseorang dan mengenai sensornya maka lampu rumah akan menyala dan sebaliknya.

Friday, November 3, 2017

Perempuan Jepang dan Geisha

Setelah 7 hari di Jepang, telah mengkonfirmasi kepada diri saya sendiri bahwa para gadis Jepang memang relatif banyak yang cantik, pandai merias diri, serta modis, dibandingkan 10 negara lain (Asia dan Eropa) yang pernah saya kunjungi.

Hal ini pun sempat saya bahas dengan teman kuliah dahulu - sebut saja WY - yang saat ini bermukim di Jepang untuk belajar Bahasa Jepang. WY sudah menetap di Osaka sejak Mei 2017. Saya dan NK, bertemu WY untuk menghabiskan 1 hari di Kyoto (sebenarnya ini di luar rencana awal), karena kami baru mengetahui kemarin bahwa WY tinggal di Jepang. Jadilah kami bereuni sesama almamater Universitas Bina Nusantara.

Kami membahas sekali banyak hal sepanjang hari termasuk bagaimana WY bisa belajar Bahasa Jepang di Osaka, budaya Jepang, perempuan Jepang, dan tentunya negara tercinta Indonesia.

Topik-topi tersebut di atas tidak akan saya ulas dalam tulisan ini, terkecuali mengenai perempuan Jepang. Menurut WY, mayoritas perempuan di Jepang mempunyai sifat alamiah yang rendah hati, tidak suka menonjolkan diri, pandai menampilkan citra lugu, bahkan ekstrimnya “pura-pura bodoh”, semata-mata hanya untuk menghargai laki-laki. Padahal sebenarnya perempuan tersebut tahu banyak hal karena di Jepang, laki-laki masih dianggap harus mempunyai peranan yang lebih tinggi sebagai pengayom, pelindung, cerdas, tahu banyak hal, dll. Jadi perempuan mengambil peran untuk “merendah”. Tapi bukan untuk direndahkan tentunya, hanya untuk “membesarkan” (menghargai) ego alamiah laki-laki. Tentunya hal ini hanya berlaku pada hubungan pribadi antara laki-laki dan perempuan, bukan hubungan profesional. Jadi, secara linear dapat disimpulkan laki-laki akan mudah menaruh hati pada sifat perempuan yang seperti ini.

Di sisi lain, perempuan di 2 kota metropolitan terbesar -  Tokyo & Osaka - selain mempunyai sifat yang saya lukiskan di atas, banyak perempuan juga terkenal matrealistis. Hal sangat kontradiktif dengan sifat-sifat keluguan. Inilah potret perempuan Jepang yang digambarkan WY.

Geisha
Saya berkesempatan mengitari Gion di malam hari, setelah dari pagi mengunjungi banyak kuil di Kyoto. Gion bagaikan kota tak tak pernah mati, dengan segala lampu-lampu kota, pertokoan, tempat makan, hingga hiburan malam. 

Sampai pada satu titik perjalanan, saya melihat sebuah patung besar geisha. Langsung saya berselancar di internet, dan benar saja memang geisha berasal dari Gion, tepatnya Gion Corner. Pertunjukan geisha pun ada, tetapi harga tiketnya sangat mahal (bagi saya) yaitu sekitar 12.000 Yen (1 Yen = IDR 122).

Saya dan NK pun kompak tidak menonton pertujukan geisha karena mahalnya harga tiket dan juga kami cukup lelah pada hari tersebut, sehingga kami hanya berkeliling Gion. Namun sebenarnya besar keinginan saya pribadi untuk melihat geisha secara langsung. Nampaknya Tuhan mendengar dan mengabulkan  keinginan saya. Pada salah satu perempatan besar di jalan raya, kami melihat geisha di dalam taksi yang sedang berhenti karena terkena lampu merah. Bukan itu saja, pada saat kami menyeberang jalan tersebut, kami pun berpapasan langsung dengan geisha, yang dikawal okeh laki-laki berjas gelap.


Di Jepang, geisha dikenal sebagai perempuan yang memiliki kemampuan menari tradisional dan menyanyi lantunan lagu Jepang lengkap dengan dandanan tradisional Jepang. Tugas utamanya adalah menghibur (dalam arti positif) turis. Namun banyak orang yang berkonotasi negatif apabila mendengar kata geisha, mungkin juga karena menonton film Memoirs of a Geisha.

Wednesday, November 1, 2017

Fujiko Fujio Museum: Berkunjung ke Rumah Doraemon Part 1

Hari kedua di Jepang, kami berencana mengunjungi Fujiko Fujio Museum yang terletak di daerah Kawasaki. Dalam perjalanan, kami sambil berselancar di dunia maya untuk mendapatkan gambaran ataupun informasi tambahan yang diperlukan sebagai pendukung perjalanan.

Kami agak kaget karena baru mengetahui bahwa tiket tidak bisa dibeli langsung di museum, melainkan harus dibeli di Lawson. Akhirnya kami mencari Lawson terdekat di daerah stasiun Kawasaki, dan ketemu!

Kami langsung masuk ke Lawson dan kemudian menjelaskan kepada petugas Lawson bahwa kami ingin membeli tiket museum. Petugas yang juga kasir Lawson tersebut dengan ramah menyambut kami serta mengarahkan (mempersilakan) dengan syarat lima jari di tangannya yang diarahkan ke sebuah mesin yang berada 2 meter di samping kirinya. Saat itu juga, pikiran saya langsung berkecamuk, “Alamak, beli makan dengan mesin saja belum lancar...”

Tapi apa daya, kami tidak mempunyai pilihan lain, dan benar saja mesin tersebut tidak dilengkapi Bahasa Inggris. NK sebagai pemilik IQ superior langsung mengambil alih kendali untuk berhadapan satu lawan satu dengan mesin tersebut. Sedangkan saya berdiri di belakang agak serong kirinya  memberikan semangat dan dukungan moril kepadanya, bahwa ia mampu menaklukkan mesin tersebut.!

Saat itu keadaan Lawson sedang ramai, banyak pembeli yang antri membayar atas pembelian barang. Setelah lima menit kutak katik dengan mesin itu tanpa hasil, sambil melayani pembeli, petugas yang sedang sibuk itu mulai sadar dan bermaksud untuk membantu dengan memberikan clue kepada kami yang belum juga paripurna. NK menatap serius penjelasan petugas tersebut, sedangkan saya manggut-manggut. Namun kami berdua gagal menangkap penjelasan tersebut karena semua dijelaskan dengan Bahasa Jepang.

Tidak ada yang kami dapat lakukan selain mencoba terus dan terus. Sepuluh menit berlalu sejak kedatangan kami. Petugas masih sibuk melayani para pembeli, dan saya mulai pasrah dengan keadaan ini. Saya pelan-pelan mencoba meminta waktu petugas itu agar membantu kami dengan sesekali melambaikan tangan kepadanya dengan harapan ia berbaik hati membantu dibtengah kesibukannya. Sementara NK terus mencoba pencat pencet. Sebetulnya, kami sudah sampai di tahap mengisi Nama dan No telepon, tapi tidak bisa juga selesai, setelah sebelumnya memilih tanggal kunjungan, jam kunjungan, dll.

Tidak lama kemudian petugas tersebut seperti melompati badannya ke arah samping agar dapat menjangkau mesin tersebut yang terhalang meja kasir, dan kemudian memencetkan nama dengan 2 suku kata (entah nama siapa yang di input),  sedangkan dari awal kami hanya memasukkan 1 suku kata, dan juga entah no telepon siapa yang dimasukkan petugas dan tiba-tiba saja selesai,
Tiket langsung keluar. Setelah itu kami membayar harga tiket ke petugas Lawson tersebut. Harga tiketnya adalah 1000 Yen untuk 1 orang. Kami pun melanjutkan perjalanan ke museum. 

(bersambung)


Monday, October 30, 2017

Tokyo Kota Tersibuk ? Shinkansen Kereta Tercepat?

Dalam perjalanan menuju Gunung Fuji, saya dan NK berangkat cukup agak pagi yaitu 07.30 dari Akihabara- tempat kami menginap - menuju Tokyo, hanya dua stasiun kereta tepatnya. Senin cerah tersebut, aura kesibukan sungguh terasa di setiap stasiun. Orang-orang berpakaian necis dengan jas dan blazer berjalan cepat bahkan beberapa berlarian. Ketika kami naik kereta Shinkansen pun aura kesibukan tetap kental. Orang-orang tidak ada yang mengobrol, senyum, tertawa, apalagi bercanda di dalam gerbong, semua sangat serius baik bekerja, tidur tapi tetap siaga, ataupun sibuk dengan gawai masing-masing. Jadi, tidak ada suara di dalam gerbong kecuali suara mesin Shinkanzen itu sendiri yang terdengar tidak kalah serius mengantar kami semua.


Berbicara tentang Shinkansen, kereta ini memiliki penampakan layaknya kereta luar kota di Indonesia, termasuk interiornya. Perbedaannya terletak pada kecepatannya. Kereta berkecepatan 300 km/jam tidak mengurangi faktor kenyamanan penumpang sedikit pun. Bahkan saya sempat berpikir, apakah saya sedang menaiki Shinkansen yang cepat itu karena tidak ada perbedaan yang berarti. Namun ketika saya melihat ke arah luar jendela, maka jelas sudah kekeliruan keraguan saya bahwa, ini Shinkansen!

(Katanya) Gyokatsu Motomura itu Enak

Banyak sekali rekan-rekan Indonesia yang merekomendasikan kepada teman saya - NK agar mencicipi Gyokatsu Motomura. Kata mereka, Gyokatsu Motomura merupakan makanan makanan wajib. Begitu keterangan NK kepada saya. Akhirnya kami tanya si mbah gugel untuk mengetahui lokaso tempat makam tersebut, dan karena kami sedang berada di Shibuya, kami menjangkau Gyokatsu Motomura di daerah tersebut. Setelah berjalan kaki selama +- 12 menit di bawah guyuran hujan, tibalah kami di kedai tersebut.

Dari luar kedai tersebut terlihat cukup kecil, dan tidak mampu menampung semua calon pembeli. Hal tersebut terlihat dari antrian calon pembeli yang mengular sampai keluar kedai. Sore itu kondisi hujan (bukan gerimis), kira-kira pukul 7 malam waktu jepang. Namun para calon pembeli tetap setia mengikuti antrian dengan payung di atas kepala. Setelah +- 15 menit mengantri tanpa kejelasan informasi apapun, tibalah sang pramuniaga menghampiri calon pembeli yang sedang antri satu per satu dan sampailah pada kami. Ia menginformasikan kepada saya dan NK bahwa waktu tunggu adalah 1 jam 10 menit, serta menyakan kesediaan kami menunggu. Tanpa pikir panjang, NK langsung mengiyakan dan melanjutkan dengan pemesanan menu yang sebelumnya sudah disiapkan.

Di sisi lain, mendengar jawaban tersebut saya langsung menelan ludah di tengah udara dingin dan cuaca hujan di Shibuya. Saya menoleh melihat raut wajah NK yang yakin, tegas, dan lapar. Pada saat itu, saya tak lagi mempunyai kekuatan untuk berargumen lebih lanjut agar kami mencari tempat makan lain. Ditambah lagi, pengalaman mengatakan tidak ada yang mampu melawan keyakinan orang yang sedang lapar saat memesan makanan yang diinginkannya, setidaknya begitu pikirku saat itu. Jadi saya diam dan menunggu tanpa juga mengeluh. Namun kelelahan tak lagi dapat membohongi keadaan, karena kami sangat lelah setelah berjalan kaki seharian mengitari beberapa objek wisata tanpa henti.

Setelah 1 jam 10 menit, belum ada tanda-tanda kami masuk kedai. Memang antrian semakin berkurang, akan tetapi kami belum juga bisa mendekat ke pintu masuk kedai. Baru setelah 1 jam 30 menit akhirnya kami dipersilakan masuk, dan saya menghitung bahwa hanya terdapat meja dan kursi sebanyak 10 buah yang dapat diisi pengunjung dengan jumlah yang sama. Sedangan kedai tersebut tidak melayani bungkus dan bawa pulang (take away). Singkat cerita, makanan disajikan. Nasi putih, kuah sup, sayur, daging katsu yang siap dipanggang, kecap asin, serta bumbu seperti bawang putih dengan campuran lainnya. Kemudian sang koki menjelaskan cara memakan makanan tersebut, yaitu dengan cara dicocol dengan kecap asin dan bumbu, kemudian dipanggang. Dan hasilnya adalah, kenikmatan yang sempurna tiada tara. Gabungan hasil dari kelelahan, kelaparan, keteguhan, dan tentunya kesabaran. Semua terbayar lunas!

Oh ya, hal unik lainnya di Jepang, seluruh minuman dari tempat makan yang saya singgahi selalu menyediakan air putih ditambah es batu, atau setidak-tidaknya air dingin sebagai sajian minuman. Ada yang bisa membantu jawab kenapa? Tentunya ini sangat kontras dengan cuaca di luar cukup dingin (musim gugur), yaitu +- 15 derajat celcius.

Keresahan Makan Siang di Negeri Samurai Biru

Sebelum tiba di Jepang, sudah terbayang dalam benak saya bahwa saya akan mencoba berbagai macam makanan terutama sushi dan ramen.

Setibanya di Akihabara - tempat kami menginap - saya dan NK berjalan keliling untuk makan siang. Kami melihat banyak pilihan makanan yang membuat lidah tidak sabar untuk bergoyang, dan kebetulan kami berdua juga tidak mempunyai pantangan terhadap makanan apapun. Singkat cerita, sampailah kami di sebuah kedai ramen yang menurut penilaian sekejap cukup menggugah selera. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di kedai tersebut. Sebelum masuk dan duduk di kedai tersebut, kami harus membayar terlebih dahulu menggunakan mesin. Tidak hanya membayar, tetapi juga untuk memesan makanan yang kami inginkan. Alhasil setelah kami mencoba berulang kali selama +- 10 menit, kami belum juga berhasil menaklukkan mesin tersebut, karena seluruh tulisan pada mesin tersebut berbahasa Jepang! Jadi, kami tidak jadi makan di tempat tersebut T_T

Perlu diketahui bahwa di Jepang, hampir semua kedai makanan baik kedai besar maupun kedai sederhana menggunakan mesin bayar-pesan.

Setelah kejadian konyol, memalukan, serta menyedihkan tersebut, kami selalu mencari makanan yang tidak hanya sesuai dengan selera kami, tetapi terutama juga tidak menggunakan mesin bayar dan pesan. Mesin bayar-pesan menjadi momok kami bedua, selama 2 hari pertama di Jepang. Dasar, Ndeso!

e-Paspor ke Jepang

Pada 27 Oktober 2017 - 5 November 2017, saya akan berangkat untuk berlibur ke Jepang. Sebenarnya liburan kali ini saya bergabung dengan rombongan teman semasa kuliah (sebut saja NK) beserta teman-teman kantornya. Namun karena satu dan lain hal, secara mendadak teman-teman NK membatalkan rencana ke Jepang, 2-3 bulan sebelum keberangkatan dengan alasan yang beragam. Singkat cerita, dari rencana awal total ada 5 orang, hanya saya dan NK yang berangkat ke Jepang.

Setelah membeli tiket pesawat Garuda untuk pulang pergi (Jakarta-Narita-Jakarta) seharga IDR 6.6jt, saya melakukan perpanjangan paspor. Saya memperpanjang paspor menggunakan e-paspor. Selain tujuan mendapatkan paspor dengan teknologi terkini, saya juga mengetahui kegunaan lainnya yaitu tidak perlunya visa Jepang apabila menggunakan e-paspor. Cukup izin berlibur saja. Harga pembuatan e-paspor +- 600rban dengan jangka waktu pembuatan 3 minggu di imigrasi Jakarta Barat. Sedangkan izin berlibur ke Jepang diberikan cuma-cuma oleh Kedubes Jepang (saat ini pengurusan visa atau izin berlibur dilakukan di Ciputra World Shopping Avenue). Izin tersebut diterbitkan hanya satu hari sejak pengajuan, dan kita diperbolehkan maksimal berada di Jepang selama 15 hari kalender berturut-turut, selama kurun periode 3 tahun sejak izin terbit kita bebas ke Jepang kapan pun asalkan tidak melebihi 15 hari.


Dibandingkan dengan NK yang masih menggunakan paspor konvensional sehingga masih harus mengurus visa seharga +- IDR 350rb, saya merekomendasikan lebih baik membuat paspor baru ataupun memperpanjang paspor menggunakan e-paspor.